Rabu, 29 Juli 2015

Misteri di Puncak Gunung Dempo

Misteri di Puncak Gunung Dempo
-
Sudah lama tak ke Pagaralam. Kota nan sejuk penuh bunga. Penduduk yang ramah bersahaja. Udara yang bersih dan asri. Kehidupan yang masih saling peduli. Kerinduan akan suasana inilah yang memacu kami sekeluarga akhirnya pergi berkunjung ke sini tanggal 29 Desember 2012 lalu. Rencana hanya satu hari, akan tetapi dalam perkembangannya menjadi dua hari. Kami meninggalkan Pagaralam di tanggal 31 Desember 2012. Artinya, tak ada perayaan tahun baru bagi kami sekeluarga. Karena begitu sampai di Palembang hari sudah menjelang maghrib dan seluruh anggota keluarga meradang kecapean, akhirnya tidur yang pulaspun tak bisa dihindarkan lagi di malam tahun baru itu.
Berawal dari sarapan pagi bersama keluarga, anak gadisku merengek minta diajak jalan-jalan karena masih liburan sekolah. Diputuskanlah tempat yang dikunjungi adalah Pagaralam karena masih ada keluarga yang tinggal di sana. Perjalanan dari Palembang ke Pagaralam memakan waktu yang cukup lama, sekitar enam sampai tujuh jam. Itu karena kami belum terbiasa dengan kondisi jalan ke situ. Sebelum sampai ke Pagaralam ada beberapa kota yang dilewati, yaitu Kotamadya Prabumulih, Kota Muaraenim, Kota Lahat dan terakhir sampailah ke Kotamadya Pagaralam.
Di sepanjang jalan yang kami lalui, penuh beraneka buah musiman yang sedang marak dijajakan di pinggir jalan, seperti durian, duku, rambutan, nanas dan sebagainya. Harganya murah-murah jika dibandingkan dengan di Palembang. Diantara Lahat dan Pagaralam kami sempat membeli durian sebesar kepala orang dewasa dengan harga sepuluh ribu rupiah dan isinyapun luar biasa enaknya. Tanpa cacat. Hingga kami menghabiskan hingga sepuluh buah durian. Hah...masih terbayang betapa lezatnya menyantap buah durian tersebut.
Sesampai di Kota Pagaralam hari sudah menjelang maghrib dan kami menginap di rumah keluarga yang sudah siap dengan makan malamnya. Waduh, ikan gurame dari air pegununga segar sekali dalam masakan bakar ala kampung. Ditambah lagi sambal tempoyak dan sayur mayur hasil perkebunan di Pagaralam itu sendiri membuat kami makan sangat berselera malam itu.
Keesokan harinya mulailah kami melakukan perjalanan ke Gunung Dempo. Pendakian yang dilakukan dengan menggunakan mobil cukup membuat rasa gamang dan was was yang teramat hebat. Tapi rasa penasaran untuk sampai ke puncak gunung tetap memacu diri untuk terus menyetir hingga batas akhir pendakian. Di setiap pemberhentian kami coba untuk mengambil photo dan gambar suasana alam pegunungan Dempo yang eksotis dan menyimpan misteri. Misteri Kebesaran Ilahi. Sempat terucap perkataan dari anakku, dengan lugunya ia berkata : “nanti kalau sudah berada di Puncak Gunung Dempo kita berdoa, biar langsung didengar dan dikabulkan Allah”. “Maksudnya?” tanyaku heran kenapa ia tiba-tiba berkata demikian. “Kan sudah dekat dengan langit” jawabnya tanpa dosa. Aku tersenyum sambil mengelus pipinya. Kakak-kakaknya tertawa merasa lucu. Heheheh, fikiran anak kecil. Tapi dalam hati aku membenarkan juga pemikirannya, hah...? ngaruh.
Tempat terakhir pemberhentian kenderaan hanya sebatas Tugu Rimau. Selebihnya sekitar 1.900 M2 harus dilalui dengan jalan kaki. Kami tidak sampai ke situ. Karena terlalu berbahaya. Kabut yang menyelimuti gunung terasa seperti air hujan. Tak henti-hentinya ia membasahi puncak gunung. Rasa gamang yang kualami semakin menjadi. Membayangkan terjatuh dari puncaknya. Membayangkan tidak bisa turun lagi. Semua rasa berkecamuk. Untungnya tempt tersebut cukup luas. Terdapat musallah. Orang berualan jagung bakar dan minuman hangat. Sangat membantu dan nikmat sekali. Tiba-tiba aku merasa oleng. Seperti mau pingsan. Aku tersandar di dinding musallah. Diantara kerumunan orang-orang yang membantuku terdapat seorang nenek renta. Ia menarik tanganku. Akupun mengikutinya. Nenek tersebut sangat gagah. Ia mampu berjalan tegak dan bersemangat. Kami melintasi hutan, mendaki ke puncak yang lebih tinggi lagi. Aku merasakan tubuhku sangat ringan. Tebing yang terjal dan tegak lurus itupun mampu aku lewati dengan mudah. Sungguh ini sangat tak terbayangkan. Aku melihat ke bawah. Tampak di musallah orang-orang masih berkerumun. Tapi aku tak peduli. Aku ikuti nenek. Ia terus menarik tanganku ke atas. Sampai di puncak yang hanya menyisakan dataran tak lebih luas dari 5 m2, aku melihat ke sekeliling. Kota Pagaralam nun jauh di bawah sana. Jurang yang terjal. Kabut awan yang mempesona. Pelangi yang indah. Nyanyian alam yang sangat merdu. Dan semua pemandangan yang tidak pernah aku lihat di waktu yang sudah-sudah. Lalu aku bertanya pada nenek : “tempat apakah ini nek?” ia menjawab bahwa inilah puncak Gunung Dempo. Lalu si nenek bertanya apakah aku sudah puas? Aku jawab belum, aku masih ingin menikmati keindahan alam ini. Nenek bilang, “belum waktunya, sekarang kita kembali ke bawah”. Akupun mengikuti apa kata nenek, dan tanpa terasa aku sudah berada dikerumunan orang-orang dengan merasakan kepala pusing dan perlahan berdiri sambil menghirup teh hangat yang ternyata sudah berkali-kali diminumkan di bibirku”. Oh, ternyata aku baru sadar dari pingsan.
Awal pendakian ke Gunung Dempo dengan berphoto dengan anak sulungku terlebih dahulu di tugu Pagaralam Kota Bunga (dokumen pribadi).
1357120943280726243
sempat mengabadikan anak bungsuku di pertengahan puncak gunung dempo dengan hamparan kebun teh yang menghijau. (dokumen pribadi).
1357121151878142974
Pemandangan yang indah dari Puncak Gunung Dempo (dokumen pribadi)
1357121648794095171
Bersama anak ketigaku mejeng di pertengahan puncak gunung dempo (dokumen pribadi)
13571217871445950468
air terjun di kaki gunung dempo (curug mangkok) airnya sangat dingin. anak-anakku sangat antusias ketika sampai di air terjun ini (dokumen pribadi)
13571220431448800039
anak ketigaku langsung menikmati sejuknya air pegunungan di curug mangkok kaki gunung dempo pagaralam (dokumen pribadi)
135712214918834923
si bungsu langsung pasang gaya begitu mendapatkan bunga-bunga yang indah ini (dokumen pribadi)
http://lifestyle.kompasiana.com/hobi/2012/12/22/weekly-photography-challenge-31-festive-seasons-and-mothers-day-512952.html

Tidak ada komentar:

Posting Komentar