Senin, 20 April 2015

Ang Siok Bin

 Hasil gambar untuk ang siok bin
Rabu (4/4) siang, di ruang tamu butik Bin House, yang berlokasi di Jl Purworedjo, Menteng, Jakarta Pusat, Josephine Werratie Komara juga dikenal sebagai Obin atau Bin, menerima shnews.co. Obin tampak santai ngobrol dengan beberapa perempuan di ruang tamu. Mereka berkumpul dan berdiskusi seputar kain.
Di sela-sela menemani para tamu, Obin menyisihkan waktunya, memulai percakapan dengan shnews.co. Perempuan pasangan Komara dan Hasmina yang menyandang nama Tionghoa, Ang Siok Bin mengaku, tahun ini akan membuka museum kain. “Tahun ini saya akan buka museum kain Bin House, di Kuta-Bali. Ini pekerjaan besar dan butuh dukungan berbagai pihak. Rencananya bulan November museum tersebut dibuka untuk umum,”cerita pendiri dan pemilik Bin House Indonesian Creation, PT Binkomara Huma.
Bali dipilih sebagai lokasi museum karena menurut perempuan kelahiran Jakarta tahun 1955, merupakan etalase Indonesia dan juga merupakan daerah tujuan wisata yang banyak dikunjungi wisatawan mancanegara yang telah mengenal batik sebagai salah satu kain Indonesia yang sangat populer di dunia.
  
Pembukaan museum kain itu kata Obin, diawali dengan chapter one dimana akan mengoleksi 180 koleksi batik yang akan dirotasi setiap enam bulan. Di chapter tersebut, pengunjung yang datang akan mengetahui darimana, dimana, untuk apa, serta dibuat oleh siapa batik tersebut. Museum juga akan dilengkapi dengan museum shop sehingga para pengunjung akan belanja aneka kain dan fesyen lainnya.
  
Ditanya alasan membuka museum, Obin mengatakan museum kain mengimplementasikan misi Obin House selama ini yaitu untuk menghasilkan manusia yang bertanggung jawab bagi diri mereka sendiri dan masyarakat. Dan, untuk mencapainya Bin House membutuhkan banyak dukungan berbagai pihak. Obin pun kerap mensosialisasikan pentingnya melestarikan kain yang terdiri dari kain batik dan kain non batik melalui seminar, simposium, lokakarya, dan diskusi.
  
Koleksi kain yang dimiliki Obin saat ini telah mencapai sekitar 2000 lebih. Diawalinya pada tahun 1970-an, dengan mengumpulkan potongan-potongan kain vintrage dari seluruh Indonesia. Menurut Obin, Indonesia kaya akan koleksi kain dan teknik pembuatan kain paling kaya adalah di Indonesia. Obin juga menjelaskan, kain Indonesia tidak hanya batik, tetapi terdapat banyak lagi jenis kain dari beberapa daerah dengan teknik khas dan formula yang tidak hanya berfokus pada motif.
  
Totalistasnya dalam mengerjakan sesuatu hasrat yang begitu kuat akan kain telah membuatnya sebagai seorang ahli kain, tukang kain (the cloth maker). Lewat Bin House, Obin berhasil menampilkan batik dan kain tenun tradisional menjadi kain-kain kontemporer yang tidak habis dimakan jaman. Jaringan usahanya didukung lebih dari 2.500 pengrajin. Mereka adalah pemintal, penenun, pembatik, pencelup, dan penjahit  yang tersebar di pelosok Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jabodetabek.
  

Obin pun dengan bangga memperkenalkan batik sebagai salah satu kebudayaan Indonesia hingga ke berbagai belahan dunia. Awal November 2008, ia mempromosikan batik di hadapan masyarakat Inggris dalam festival mini Indonesia yang digelar Asia House London dengan tajuk “Indonesia Inspired”. Lebih dari 100 orang memenuhi gedung tersebut, termasuk Duta Besar RI untuk Kerajaan Inggris Raya dan Republik Irlandia, Yuri O Thamrin bersama Sandra Thamrin. Mereka berdecak kagum tatkala menyaksikan helai demi helai kain batik rancangan Obin dengan berbagai corak yang unik.
  
40 tahun berkarya merupakan bukti sejarah dan totalitasnya yang terukir di atas lembar-lembaran kain. Demi menghasilkan kain-kain bermotif cantik dengan nilai seni tinggi, Obin tak segan menghabiskan waktu selama berbulan-bulan. Asal tahu saja, harga sehelai kain rancangannya, bisa mencapai 8 digit rupiah. Koleksi-koleksinya, tidak hanya dipakai masyarakat biasa. Artis Hollywood ternama, Julia Roberts hingga bintang rock Mick Jagger terpana dan akhirnya mengkoleksi karyanya.
  
Obin merasa sangat beruntung dilahirkan di Indonesia, negeri yang begitu kaya akan koleksi kain mulai dari A-Z. Kata Obin, teknik pembuatan kain yang paling ekstensif adalah di Indonesia. Sebagai pakar, berbekal pengalaman selama puluhan tahun, Obin bisa dengan fasih menjelaskan bahwa kain di Indonesia itu bukan sekadar batik, namun ada banyak lagi jenis kain dari beberapa daerah yang memiliki kekhasan teknik dan rumus yang tidak hanya berfokus pada sebuah motif, seperti tenun ikat NTT, Songket Palembang, Songket Minang dan kain Endek, Bali.
  
Minatnya pada kain batik, mungkin dipengaruhi ibu dan neneknya yang selalu menggunakan kain batik. Dari ibu dan nenek inilah, Obin belajar teknik menjahit dengan kualitas tinggi. Obin mengungkapkan, kain khas Jawa itu memiliki nilai seni tinggi dan telah menjadi bagian dari budaya Indonesia sejak lama dan memiliki dua kata yaitu “ba” yang berarti amba atau menulis dan “tik” atau titik.
  
Lebin lanjut Obin mengatakan, lahirnya kain itu berangkat dari sebuah kebutuhan untuk menutup tubuh, pada saat melahirkan, menyongsong bulan purnama, pernikahan, kematian dan perayaan panen. Kain senantiasa mewarnai upacara dalam kehidupan.
  
“Kain itu alat penting di dalam transisi kehidupan. Kelahiran, tunangan, perkawinan, kematian, itu khan transisi hidup. Suku manapun, negara manapun, saya rasa sama. Apapun latar belakangnya selalu ada kain. Buat saya kain itu sangat simbolis dengan kehidupan dan sakral,”ujar Obin yang memulai pekerjaan sebagai pembuat kap lampu dan jok sofa hingga akhirnya membuka usahanya.

Bangga dan Bersyukur   
Obin mengaku bangga, bersyukur dan dengan rendah hati mau mengatakan bahwa andil Bin House sangat besar di dalam menularkan ke anak-anak muda dan orang dewasa untuk gemar memakai kain. “Sekarang saya lihat begitu banyak orang memakai kain ke kantor, naik bus, ke supermarket. Bahkan, laki-laki juga sekarang senang memakai kain. Di Bin House sendiri seluruh karyawan saya, baik laki maupun perempuan selalu memakai kain. Saya kalau ke Bandung, Cirebon, naik kereta, naik pesawat, ke pasar dan kemana-mana selalu pakai kain,”tutur Obin yang juga menjadi ikon untuk iklan private banking Julius Bar, sebuah pengelola aset terkemuka dunia asal Swiss karena komitmennya pada kesempurnaan.
  
Ditanya keinginan mengkoleksi semua kain Indonesia, Obin mengaku waktunya sudah lewat, namun Obin mengatakan kita perlu bangga karena di dunia sudah ada beberapa museum yang amat sangat terkenal di Amerika, Okada Collection, Jepang mengoleksi kain-kain Indonesia, belum lagi koleksi pribadi orang Indonesia. Jadi menurut Obin, Indonesia adalah sebuah bangsa yang kainnya begitu dicintai dunia. Karena itu menurutnya, Indonesia bisa dipresentasikan dari kain-kainnya.
  
Ibu dari dua anak ini mulai menekuni kariernya sebagai tukang kain sejak tahun 1973. Saat itu tugas Obin adalah menemukan informasi apapun tentang kain melalui berbagai literatur dan bahkan mengunjungi pengrajin berbagai wilayah Indonesia. Pada tahun 1986 di Jakarta Obin mendirikan Bin House dan merupakan sebuah prestasi karena dikenal bahkan di banyak negara. Belum lagi hadiah pertama penghargaan dalam International Textile Design Contest di Tokyo, Jepang yang berhasil dicapai.
  
Setelah pameran perdana bertajuk “Old and New” dengan menampilkan bermacam kain dari Indonesia, di Kiriyu, Jepang, dan kemudian diikuti beberapa pameran berikutnya, semakin memperkuat ketenaran karya Obin di negeri Sakura. Jika diibaratkan sebuah orkestra, maka Bin House sebagai conductor atau dirigen, memang seringkali tampil mempersembahkan hasil karya buatan Obin sendiri. Selain pameran, juga fesyen show.
  
Saat pertama kali merintis usahanya, ia hanya berbekal kemampuannya dalam mengolah satu bahan kain yaitu sutera. Tiga tahun kemudian, tepatnya tahun 1989 ketika kemampuannya semakin berkembang, ia mulai turun tangan untuk mengembangkan teknik membatik. Segala motif yang berasal dari luapan imajinasinya ditorehkan dalam kain. Pada tahun 1989, jika sebelumnya batik pada umumnya dibuat di atas katun, Obin justru tampil dengan terobosan barunya, membuat batik di atas tenun.
  
Masuknya Obin di dunia fesyen sebenarnya bukan hal yang kebetulan. Obin yang tumbuh di tengah keluarga berkecukupan sudah bersentuhan dengan gaya hidup modern termasuk dalam berbusana. Persentuhan dengan kota metropolitan Hong Kong saat ia sekolah dan kecenderungannya mengamati sesuatu secara berlebihan membuat pikirannya terbuka. Hingga suatu saat pikirannya tertambat pada gaya busana yang selalu dikenakan ibunya yaitu kain, kebaya, dan perhiasan antik.
  
Sejauh ini Bin House telah menghasilkan lima mereka yaitu Bin House, Sutera, Umbi, Pakis, dan Cita. Perusahaan ini berkembang dan mempunyai jaringan usaha yang meliputi 30 gerai tersebar di Jepang, Singapura, Taipei, Hong Kong, Kuala Lumpur, Thailand, AS, Eropa, Jakarta, dan Bali. (*)
Sisi Unik Ang Siok Bin
 Josephine Werratie Komara (57) sejak lahir menyandang nama Tionghoa, Ang Siok Bin, yang dalam bahasa Mandarin berarti elegan dan sophisticated. Dan memang benar, perempuan ini sepanjang karyanya mampu menampilkan karya-karya elegan dan menakjubkan dengan sentuhan tangannya yang sangat perfeksionis.
  
Di masa kecilnya, tukang kain ini sempat dicap sebagai anak saleh, namun lebih sering sendiri dan hidup dalam imajinasinya. Obin ditenggarai memiliki ciri sebagai anak autis dimana tertarik dengan sesuatu yang berulang-ulang, memiliki imajinasi yang sangat kuat, merasa bisa menyatu dengan alam, dan memiliki pola pikir yang unik namun berbeda dengan anak autis. Obin justru bisa menjelaskan bagaimana proses dan imajinasi yang ia alami dengan sangat baik. Sesuatu yang selama ini dianggap sebagai 'kelemahan' itu lantas menyublim menjadi sebuah kekuatan yang tidak dimiliki orang lain. Dia mampu mengenali dirinya dengan bertemu dengan psikiater yang saat masih belasan tahun dibawa ibunya untuk diobservasi.
  
Pertemuan dengan sang psikiater yang mengerti dirinya itu ternyata membuat Obin yang saat itu masih belasan tahun bisa memahami dirinya dengan lebih baik. Sejak itulah Obin memulai hidupnya kembali dengan penuh optimisme.
  
Sosok perempuan yang dulu sempat dianggap aneh itu menjelma menjadi sosok yang memahami arti persahabatan, rendah hati dan ringan tangan. Tak jarang, ia mengirimkan masakah istimewanya, sebuah kelebihan yang ditularkan ibunya, untuk teman-temannya. Jejaring perteman yang tulus inilah yang pada akhirnya banyak membantunya dalam berbisnis kelak.
  
Ide-ide dalam setiap karyanya terkesan unik. Misalnya ketika ia berinisiatif mengajak serombongan tunanetra menuju Taman Safari, Bogor untuk melakukan outbound. Tujuannya adalah mengajak mereka melakukan sesuatu yang belum pernah dilakukan atau dipikirkan sebelumnya.
  
Ide gila ini diperolehnya seusai bermimpi mendengar suara ibunya dalam keadaan gelap gulita dimana ia tidak bisa melihat. “Begitu ya, rasanya jadi orang buta,”katanya. Begitu intensnya perasaan Obin saat itu, sampai ia turun tangan sendiri sebagai pemandu dan mengajak kaum tunanetra meraba binatang.
  
Kisah lain yang kalah unik dan mengesankan yaitu saat kerusuhan  Mei 1998, Obin justru membuka dapur umum. Padahal, hampir semua warga keturunan Tionghoa seperti dirinya melarikan dari dan menutup diri.
  
Sehari-hari, gaya penampilannya pun unik. Kebaya, kain, perhiasan antik, dan rambut yang selalu digelung ala perempuan jaman dulu. Tak jarang ia menyematkan bunga kantil kuning segar di gelungnya setelah meletakkan hio di depan abu keluarganya.
  
Fashion is about be yourself. Menjadi fashionable, itu adalah bagian dari itu. Tapi yang terpenting adalah bagaimana menjadi dirimu sendiri,” ungkap Obin. (http://www.museumkain.org/)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar