Tampilkan postingan dengan label tragedi. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label tragedi. Tampilkan semua postingan

Minggu, 22 November 2015

Antara Sinabung, Marapi dan Bromo


Hasil gambar untuk gunung marapi meletus

Sejumlah gunung api di Indonesia semakin aktif. Bahkan, ada gunung yang demikian aktif tiada henti dalam beberapa tahun belakangan. Penduduk sekitar pun khawatir dan minta direlokasi.
=========
  

Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara, kembali mengeluarkan awan panas yang besar, Selasa (17/11) lalu. Sepanjang hari itu, gunung yang saat ini paling aktif di Indonesia tersebut mengeluarkan sembilan kali awan panas guguran.

Awan panas terbesar terjadi pada pukul 13.21 dengan jarak luncur mencapai 4.000 meter. Tinggi kolom abu mencapai 2.000 meter dengan arah angin ke barat-barat daya. Hujan abu mengguyur kawasan Kecamatan Payung dan sekitarnya.

"Masih ada sisa lava di atas gunung. Namun, kami tidak tahu berapa volumenya karena puncak gunung tertutup kabut," kata Deri Al Hidayat, pengamat Gunung Api Sinabung, di Pos Pengamatan Gunung Api Sinabung, Desa Ndokum Siroga, Simpang Empat, Karo, seperti dikutip lipsus.kompas.com.

Luncuran awan panas akan terus terjadi tergantung pertumbuhan kubah lava. Sehari sebelumnya, guguran awan panas terjadi empat kali dengan jarak luncur mencapai 3.500 meter. Luncuran awan panas Selasa (17/11) lalu merupakan luncuran terbesar selama sebulan terakhir.

Hingga kini, status Gunung Sinabung masih Awas. Warga masih dilarang beraktivitas di dalam radius 6 kilometer dari puncak di sisi timur dan 7 kilometer di sisi selatan-tenggara. Sebanyak 2.592 keluarga atau 9.325 warga masih mengungsi.

Presiden Joko Widodo (Jokowi) menargetkan proses relokasi warga di sekitar Gunung Sinabung dapat tuntas pada akhir 2015. Presiden telah menunjuk Pangdam Bukit Barisan Mayor Jenderal Lodewyjk Pusung sebagai koordinator lapangan penanganan bencana itu.
"Untuk semuanya saya harapkan akhir tahun ini selesai. Saya tanda-tangani keppres mengenai penanganan Sinabung, dikomandoi oleh Pangdam. Saya harapkan target bener-benar selesai," ujar Jokowi dalam rapat terbatas di Istana Kepresidenan, Senin (21/9).

Sastrawan Ginting, Penjabat Kepala Desa Kuta Rakyat yang juga koordinator 2.176 pengungsi di Jambur Tongkoh, mengatakan, para pengungsi banyak yang tertekan. "Pemikiran mereka sudah labil," katanya.

Pengungsi cuma mendapat bantuan pangan tiga kali sehari dari beras raskin dan lauk seadanya. "Tak ada pemenuhan gizi yang lain seperti susu. Untuk anak balita pun tak ada susu," kata Sastrawan. Pengungsi membutuhkan bantuan seperti susu, roti, gula, serta sabun mandi dan pasta gigi.

Karena tidak berpenghasilan, para pengungsi tetap kembali ke desanya kendati dilarang. Mereka tetap bolak-balik pulang untuk berladang sebisanya.

Warga Kuta Rakyat tercatat tiga kali mengungsi selama Sinabung meletus, yakni pada Agustus 2010, September 2013 hingga 28 September 2014, lalu mulai 16 Juni 2015 lalu.

Sementara itu, pembangunan relokasi tahap pertama bagi warga Desa Bekerah, Simacem, dan Sukameriah, warga di zona merah Sinabung, berjalan lambat. Hingga November 2012, dari 370 rumah relokasi warga Sinabung tahap I yang sudah berdiri, baru 112 yang diserah-terimakan kepada warga. Sisanya belum diserah-terimakan karena baru mendapat akses listrik 450 kilowatt-hour dari PLN. Sebanyak 130 rumah juga belum mendapat aliran air PDAM.

Letnan Dua Czi Timson Aritonang, mantan Perwira Seksi Logistik Satgas Relokasi Warga Sinabung, yang berjaga di lokasi relokasi, mengatakan, fasilitas umum dan fasilitas sosial juga belum terbangun, kecuali gereja yang sudah selesai 80 persen. Lahan pertanian juga tengah disiapkan.

Duka Sinabung belum ada tanda-tanda berakhir, kita kembali diingatkan Gunung Bromo yang batuk-batuk. Rabu (18/11), asap sulfatara di kawah Gunung Bromo terpantau masih mencapai ketinggian 50-100 meter dari puncak kawah. Asap itu berwarna putih tipis hingga sedang juga tercium pekat bau belerang.

Pekan lalu sempat muncul asap berwarna pekat selama dua hingga tiga hari dari kawah Bromo. Kini asap pekat itu sudah mulai berkurang dan berganti dengan asap putih tipis hingga sedang.

Namun status masih Waspada dan wisatawan tetap dilarang mendaki sampai ke bibir kawah. Wisatawan masih bisa melihat sunrise dari penanjakan dan sekitarnya. Wisatawan juga tetap dapat menikmati lautan pasir dan savana.

"Radius aman satu kilometer, sehingga wisatawan dilarang naik ke kawah Bromo dan aktivitas wisatawan dibatasi hingga lautan pasir saja," kata Kepala Balai Besar Taman Nasional Bromo Tengger Semeru (TNBTS) Ayu Dewi Utari, medio pekan lalu.

Menurut dia, TNBTS telah menerima pemberitahuan dari Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) tentang frekuensi kegempaan Gunung Bromo yang meningkat, namun status gunung tersebut masih Waspada.

"Untuk itu, kami mengambil beberapa langkah yakni memasang rambu larangan naik ke kawah Gunung Bromo di empat pintu masuk dan di batas tangga naik ke kawah Bromo," jelasnya.

Guna menghindari wisatawan yang nekat dan menerobos naik ke puncak Bromo, TNBTS menempatkan sejumlah petugas. Pihak TNBTS pun selalu berkoordinasi dengan petugas Pos Pengamatan Gunung Api (PPGA) Bromo di Desa Ngadisari, Kecamatan Sukapura, Kabupaten Probolinggo.

"Kami akan meminta informasi secara intens dari PPGA dan PVMBG terkait dengan aktivitas Gunung Bromo dan status gunung tersebut, sehingga kami bisa melakukan antisipasi dan langkah-langkah lebih lanjut terhadap aktivitas wisatawan di Bromo," kata dia.

Kabar gunung api batuk-batuk datang pula dari Gunung Marapi. Sabtu (14/11) sekira pukul 22.23 WIB, gunung yang berlokasi di antara Kabupaten Tanah Datar dan Kabupaten Agam Provinsi Sumatra Barat (Sumbar) itu dikabarkan meletus. "Dari rekaman seismik terjadi sekali dengan amplitudo 29.4 milimeter (mm), durasi (lama gempa) 40 detik," ungkap Petugas Pos Pengamat Gunung Api (PGA) Marapi, Warseno.

Warseno mengatakan hujan abu dampak dari letusan mengarah ke daerah Panyalaian. "Secara visual tidak teramati (letusannya), tapi dari remakan seismik, (letusan) kategori sedang," ujar Warseno.

Dia menjelaskan, surat rekomendasi yang dikeluarkan Badan Geologi, Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) bernomor 1385/45/BGL.V/2011 tentang peningkatan status Gunung Marapi belum dicabut. Dalam surat tertanggal 3 Agustus 2011 tersebut, dijelaskan, status Gunung Marapi meningkat, dari normal (level I) menjadi waspada (level II).

"Rekomendasi masih berlaku, radius tiga kilometer dari pusat erupsi, tertutup untuk aktivitas masyarakat termasuk pendaki," tuturnya menambahkan.

Tiga gunung api di tiga provinsi itu telah memberikan sinyal alam. Bahwa alam tidak boleh dieksploitasi dan ditempat seenaknya oleh manusia. Harus ada wilayah dalam radius tertentu yang mesti dikosongkan agar kerusakan lingkungan tidak semakin parah. Banyak gunung semakin gundul akibat jamahan dan keserakahan manusia. Kita mesi belajar dari kearifan alam dalam memberikan jawaban atas ulah manusia yang membuat kerusakan di muka bumi. (*)

Jumat, 14 Agustus 2015

Misteri Leuwi Panganten di Lembah Sunyi Halimun


Ilustrasi, Kondisi Lintasan Ruas Badan Jalan di Wilayah Garut Selatan. (Foto: John).
Ilustrasi, Kondisi Lintasan Ruas Badan Jalan di Wilayah Garut Selatan. (Foto: John).
Tragedi atawa kecelakaan bus di Gunung Halimun, Ahad (08/12/2013), kembali mengingatkan ceritera misteri dari lembah sunyi kaki gunung itu.
Mengapa?
Lantaran tragedi serupa kerap terjadi di lokasi tersebut.
Bahkan penduduk sekitarnya akrab pada lokasi itu, dengan sebutan “Leuwi Panganten” (lembah pengantin).
Menyusul, terjadinya tragedi paling menghebohkan pada lintasan menurun Gunung Halimun 1980-an.
Saat itu, sebuah mobil jenis L 300 membawa rombongan pengantin menuju Kecamatan Bungbulang terjun bebas masuk jurang menghujam lembah Halimun.
Sebanyak tujuh penumpangnya tewas, lainnya mengalami cedera.
“Kejadian kendaraan masuk jurang seperti ini bukan satu, dua kali. Justru menjadi korban, rata-rata luka parah. Dulu 1980-an rombongan pengantin pernah masuk jurang. Sehingga lokasi itu disebut Leuwi Panganten,” ungkap Rijal(47), penduduk Kampung Nangkaruka Pakenjeng.
Kata dia, meski kini jalur  dan tanmenurun tajam atawa tanjakan Halimun terdapat perbaikan pelebaran jalan, namun tetap berkondisi rawan kecelakaan.
Sebab, selain berkondisi medan jalan menurun dan menanjak tajam serta berkelok, juga kerap berkabut.
Diperparah sangat minim fasilitas penerangan jalan.
“Maka, kalau belum tahu medan jalan, mesti ekstra hati-hati melintas di sana,” imbuh Rijal, mengingatkan.
Pada lakalantas tunggal, Ahad (08/12) di Gunung Halimun, satu tewas, satu luka berat, dan 17 orang lainnya luka ringan.
Dari 18 penumpang tersebut, lima di antaranya anak-anak.
****** Zainul, JDH.

Minggu, 26 Juli 2015

Sejarah Menakutkan "Tersembunyi" di Seputar Gunung Sinabung

Gunung Sinabung yang terletak di Tanah Karo Sumatra Utara adalah salah satu dari 30 Gunung api yang ada di atas Sesar Besar Sumetra dan adalah Gunung Api Aktif yang terdekat dengan  "Gunung Super" purba yaitu  supervulcano  TOBA.
Dan kalau dilihat letaknya, Sinabung yang aktif kembali sejak 2010, yang selama 400 tahun ini  "tertidur" pulas, posisinya lebih TEPAT diatas Sesar Besar Sumatera dari pada "mamanya" sendiri yaitu Gunung Toba. Dan sesar ini adalah salah satu dari dua  sesar /patahan teraktif di dunia.
Sinabung mulai bangun setelah Gempa Bumi disertai  tsunami dahsyat  yang mengguncang Aceh pada tanggal 26 Desember 2004, disusul kemudian dengan gempa Nias Maret 2005 dan Juli 2006 , diikuti  Gempa Padang pada Maret 2007 yang  berulang pada September 2009 yang diikuti Gempa Nias lagi Oktober 2009. ...... setahun  kemudian, 29  Agustus   2010 Gunung Sinabung Meletus untuk pertama kali setelah 400an tahun diam.
Patahan Besar Sumatra yang terbentang sepanjang 1700 km telah mencatatkan sejarah yang mengguncang seluruh dunia:
Letusan Karakatau di ujung Sesar ini pada akhir  Agustus 1883  telah mencatatkan betapa hebatnya prahara yang bisa dihadirkan dari patahan ini ke seluruh dunia.
Tsunami yang ditimbulkannya sampai di Hawai, Selat Inggris dan Prancis, dan bahkan di pantai-pantai sekitar Sumatera dan jawa ketinggian gelombang Tsunami mencapai 40 m. Bayangkan. Korban yang mencapai 36.000 jiwa. Ini jumlah orang yang tewas  ditahun 1883, dimana populasi manusia belum sepadat sekarang. Jumlah korban mungkin bepuluh kali lipat jika terjadi sekarang.
Cuaca seluruh dunia berubah, atmosfer Bumi tertutup debu, cahaya matahari redup selama setahun, penyakit sampar meraja lela, kekurangan pangan menyertai kegagalan pertanian akibat debu karakatau. Dan banyak lagi fenomena yang terjadi yang mempengaruhi dunia masa itu. Dan itu semua dimulai disini, di titik hunjaman  lempeng Indo-Australia dan lempeng Eurasia, dimana Gunung Sinabung sedang bergemuruh diatasnya hari-hari ini.
Jika Gempa yang mengakibatkan tsunami Aceh terjadi akibat aktivitas "lempeng"  di kedalaman 10 Km di 160 km  dari pantai Barat Aceh, ternyata gempa-gempa vulkanik dangkal sekitar kedalaman 3 Km dibawah  Sinabung yang tercatat berpuluh kali dalam sehari,  disertai juga oleh beberapa Gempa Tektonik dikedalaman 10 Km. Adakah sesuatu dikedalaman itu dibawah Pulau Sumatra ?
Dan pada salah satu letusan besar belakangan ini, dikatakan oleh petugas Pos Pemantau Sinabung akibat TIBANYA MAGMA BARU. Wow!! Adakah magma lain yang sedang "dalam perjalanan"  dan mereka dalam jumlah lebih besar ?
Supervulcano Toba yang dikatakan masih memiliki dapur magma dibawahnya memang sedang diam. Yang ada diatasnya adalah keindahan danau Toba. Dan kalau danau itu adalah kaldera, maka Gunung Sinabung adalah "anaknya".
Dan karena  lubang semburan di puncak Sinabung terus bertambah banyak dan bertambah besar (sedang terjadi), masuk akal bahwa dorongan magma akan semakin tertarik untuk berpusat pada titik keluar ini jika memang ada Magma terjebak yang volumenya terus bertambah dengan magma baru  akibat hunjaman-hunjaman lempeng sejak 2004 lalu.
Dan karena pada masa lampau pernah terjadi ledakan super dahsyat sebuah gunung di Bumi ini, dan gunung itu adalah "ibu Kandung" Sinabung sendiri, maka wajarlah jika Sinabung, khususnya nasib pengungsinya lebih diperhatikan.
Apalagi sejarah mencatat bahwa kengerian-kengerian telah terjadi di bentangan sesar ini. Gunung Toba (ditengah) mengawali (katanya 73.000 tahun lalu) , Karakatau diujungnya mengguncang pada awal sejarah modern (1883), Gempa Aceh diujungnya satunya  lagi mengguncang dunia dengan besarnya korban dan hebatnya guncangan (2004), maka Sinabung yang  ada di dekat  "ibunya" , akankah mengakhiri teror sesar ini dalam sejarah peradaban manusia ( ?)  ??
Bertobatlah sebelum terlambat. Salam  Damai.
sumber: http://www.kompasiana.com

Senin, 25 Mei 2015

Misteri Kehancuran Kota Sodom Terungkap Oleh Sains


Kisah ini merupakan salah satu cerita tertua di dunia. Kisah dua kota yang namanya identik dengan dosa, Sodom dan Gomora. Selama bertahun-tahun, cerita tentang apa yang menimpa mereka menjadi perumpamaan tentang Bejatnya Moral yang harus dibayar dengan MAHAL.

Penggambaran kehidupan manusia di dua kota ini betul betul hampir sangat relevan dewasa ini, dimana berbagai tindakan yang sangat jauh dengan hakekat mereka sebagai makhluk ciptaan, bobroknya moral, seakan-akan tidak memiliki batasan. Dimana Perintah-perintah dari Sang Pencipta dan norma-norma dalam kehidupan bermasyarakat sudah seakan menjadi dongeng turun temurun yang hanya sebatas mereka dengar.

Sekitar 4000 tahun yang lalu, Sodom dan Gomora menyandang reputasi tersebut. Walau Kitab suci tak pernah menyebutkan apa perbuatan mereka secara mendetil sehingga bisa bernasib seperti itu. Walaupun demikian, Kitab suci sangat jelas memberikan penggambaran mengenai hukuman yang mereka terima dari Sang Pencipta.

“Maka tatkala datang azab Kami, Kami jadikan negeri kaum Luth itu (terjungkir-balik sehingga) yang di atas ke bawah, dan Kami hujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar dengan bertubi-tubi.” (QS Huud ayat 82)

Jika cerita mengenai Sodom dan Gomora memang terjadi seperti apa yang dikisahkan di dalam Al-Quran maupun Injil, maka sangat mungkin terjadi di suatu lahan kosong terpencil di sebelah lautan tanpa kehidupan. Tapi, dimanakah tempat itu?

Seperti yang kita ketahui, banyak tempat yang dikisahkan didalam kitab suci sulit untuk ditentukan dimana lokasi yang sebenarnya. Contohnya didalam Kitab Taurat yang membahas tentang lima kota lembah. Sampai saat ini kita hanya bisa berspekulasi bahwa kelima kota tersebut berada disekitar laut mati.

Cerita mengenai Sodom dan Gomora ini terjadi di zaman Ibrahim a.s, berabad-abad sebelum Musa a.s keluar dari tanah Mesir.

Tak ada yang menemukan petunjuk kota seperti itu pernah ada, sebab tak pernah ada orang yang sungguh-sungguh mencari-nya. Hingga pada tahun 1924, Ahli purbakala bernama William Albright berangkat menuju ke Laut Mati untuk melakukan penelitian disana. Beberapa orang yang bersamanya jelas mencari keberadaan sisa-sisa Sodom dan Gomora. Mereka mengitari pantai tenggara dari laut mati hingga mereka ahirnya tiba di sutus purbakala Bab-edh-dhra.

Bab-edh-dhra (dibaca : Babhedra), merupakan situs jaman perunggu, namun tak ada petunjuk jika situs itu meupakan suatu kota. Tampaknya daerah itu merupakan suatu daerah pemakaman. Namun Albright tak memiliki sumber daya untuk menggalinya.

Jadi hampir 50 tahun berlalu sebelum ada yang kembali ke situs tersebut untuk melakukan penggalian. Ahli Purbakala Paul Lapp memimpin penggalian di tahun 1967, dan Thomas Schaub termasuk salah satu penggalinya.

Bab-edh-dhra merupakan makam terbesar khas jaman perunggu yang mereka gali, panjangnya 15 meter dan lebarnya 7 meter. Disini mereka juga menemukan makam berisi perhiasan emas dan menggali lebih 700 tembikar yang merupakan hadiah penguburan termasuk tempat parfum kecil dan banyak benda lain seperti kain.

Situs ini sungguh menakjubkan, makam ini telah digunakan selama 1000 tahun lamanya, dari zaman Ibrahim hingga penghancuran Sodom. Namun, tak ada apapun untuk mengaitkan pemakaman kuno itu dengan Sodom.

Misterinya, sekitar tahun 2350 SM, penguburan itu mendadak berhenti tak ada yang tahu mengapa. Ada sejumlah sebab mengapa suatu situs tak ditempati lagi, beberapa bisa disimpulkan, beberapa lagi tidak. Penyebab pada umumnya mungkin persediaan air mengering, lingkungan berubah, iklim berubah atau orang-orangnya dibasmi total.

Sodom dan Gomora dari segi Sanis

Penelitian-penelitian arkeologi dan geologi yang telah dilakukan sejak tahun 1920-an di wilayah Laut Mati menemukan bahwa bekas-bekas kota Sodom dan Gomora paling mungkin terletak di tepi tenggara Laut Mati, yaitu dua kota yang di dalam arkeologi dikenal sebagai Bab edh-Dhra (Sodom) dan Numeira (Gomora).

Di kedua kota itu ditemukan banyak artefak dan rangka manusia yang menunjukkan bekas kejadian bencana pada sekitar tahun 2000 SM. Laut Mati merupakan pull-apart basin yang dibentuk oleh tarikan transtensional dua sesar mendatar mengiri (sinistral-transtensional duplex) Sesar Yudea dan Sesar Moab.

Sodom dan Gomora terletak di atas Sesar Moab. Laut Mati dicirikan oleh endapan elisional, kegempaan yang tinggi, fenomena diapir, gunung garam dan gunung lumpur, serta akumulasi hidrokarbon (aspal dan bitumen) dengan kadar belerang tinggi.

Pembinasaan Sodom dan Gomora diinterpretasikan terjadi melalui bencana geologi dengan urutan :
1. Pergerakan Sesar Moab
2. Gempa dengan magnitude 7,0+ yang menghancurkan kota-kota dan sekitarnya serta likuifaksi yang menenggelamkan sebagian wilayah kota-kota,
3. Erupsi gunung garam dan gunung lumpur yang meletuskan halit, anhidrit, batu-batuan, lumpur, aspal, bitumen, dan belerang,
4. Kebakaran kota-kota dan sekitarnya karena material hidrokarbon yang diletuskan terbakar sehingga menjadi hujan api dan belerang.

Bencana katastrofik ini telah meratakan Sodom dan Gomora dan menewaskan seluruh penduduknya kecuali Luth dan dua putrinya. Api dari langit yang menghujani Sodom dan Gomora bukan fenomena astroblem (seperti meteor), melainkan fenomena katastrofi (malapetaka) geologi berupa aspal dan bitumen yang terbakar serta belerang yang berasal dari letusan gunung garam dan gunung lumpur. (http://www.mehrir.kawunganten.com)

Minggu, 24 Mei 2015

Misteri Tragedi Bintaro, Senin 19 Oktober 1987, Kecelakaan Kereta Api Terdahsyat di Indonesia

Artikel Komplit Ini Dibuat Sejak Tahun 2012, Untuk Mengenang Tragedi Bintaro 25 Tahun Yang Lalu (1987 – 2012)

“Tragedi Bintaro” adalah peristiwa tabrakan ala “adu banteng” yang menggelegar oleh dua buah kereta api di daerah Pondok Betung, Bintaro, Tangerang, pada Senin pagi, 19 Oktober 1987 yang merupakan kecelakaan terdahsyat dan terburuk dalam sejarah perkereta-apian di Indonesia. Peristiwa ini juga menyita perhatian publik dunia.

Setiap kejadian adalah sebuah rentetan peristiwa, detik demi detik. Untuk itulah manusia diberikan akal agar dapat menyelidikinya secara keilmuan, agar peristiwa tragis itu tak terjadi lagi dan menjadikan segalanya menjadi lebih baik serta merubah keadaan untuk kedepannya…pertanyaannya adalah, maukah kita menjadi manusia yang lebih baik lagi?
“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakangnya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sesungguhnya Allah tidak merobah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merobah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tiada pelindung bagi mereka, selain Dia.” (QS: Ar-Ra’d, ayat 11).
Mayat-mayat begelimpangan, sebagian dalam keadaan tidak utuh. Bau darah anyir memenuhi udara. Tubuh-tubuh yang lain terjepit di antara besi-besi, sebagian masih hidup namun sedang meregang nyawa.
Semoga semua korban dapat beristihahat dengan tenang, dan semoga tragedi ini tak akan terulang lagi, aamiin.
Tepat dihari ini, 19 Oktober 1987 di hari Senin pagi yang ramai, 25 tahun lalu.
Dua buah kereta api yakni KA255 jurusan Rangkasbitung – Jakarta dan KA 220 cepat jurusan Tanahabang – Merak bertabrakan di dekat stasiun Sudimara, Bintaro.
Peristiwa itu terjadi persis pada jam sibuk orang berangkat kantor, sehingga jumlah korban juga besar sangat besar yakni 153 orang tewas dan 300 orang luka-luka.
Peristiwa itu merupakan yang terburuk setelah peristiwa tabrakan kereta api tanggal 20 September ditahun yang lebih awal 1968, yang menewaskan 116 orang.
Tabrakan pada tahun 1968 itu terjadi antara kereta api Bumel dengan kereta api cepat di Desa Ratujaya, Depok
*****
Namun pada artikel kali ini, kita mencoba mengenang kembali (flashback) dimasa lalu pada tahun 1980-an, seconds from disaster di pagi hari tepatnya pada Senin tanggal 19 Oktober 1987.
Saat itu adalah detik-detik sebelum dua rangkaian kereta api ekonomi yang berjalan di kedua arah yang berbeda, namun keduanya hanya dalam satu jalur rel kereta api saja… dan akhirnya bertabrakan secara dahsyat!
Lokasi
Lokasi pada saat ini sat kecelakaan terjadi berada di antara Stasiun Pondok Ranji dan Pemakaman Tanah Kusir, sebelah Utara SMUN 86 Bintaro.
Tempat kejadian perkara berada di dekat tikungan yang melengkung (kini jalan tol) Bintaro, tepatnya di lengkungan berpola huruf “S”.
Berjarak kurang lebih 200 meter setelah palang pintu Pondok Betung atau ± 8 km sebelum Stasiun Sudimara. Koordinat 6°15’39.9791”S 106°45’39.96”E (lihat peta lokasi)
Awal Mula Kesalahan
Peristiwa ini terjadi pada tanggal 19 Oktober 1987. Saat itu, KA 225 Jurusan Rangkasbitung – Jakarta yang dipimpin oleh masinis Slamet Suradio, asistennya Soleh, dan seorang kondektur, Syafei berhenti di jalur 3 Stasiun Sudimara. Kereta yang ditarik oleh lokomotif BB30317 dalam keadaaan sarat penumpang, yaitu sekitar 700 penumpang didalamnya.
Jenis Lokomotif nomer BB303 17 yang dipakai untuk menarik rangkaian kereta bernama KA.225 kelas Ekonomi, dari Merak ke Tanah Abang Jakarta, disaat Tragedi Bintaro 1987. (semboyan35.com)
KA 225 tersebut bersilang dengan KA 220 Patas jurusan Tanah Abang – Merak yang dipimpin oleh masinis Amung Sunarya dengan asistennya Mujiono. Kereta yang ditarik oleh lokomotif BB30617 ini bermuatan kurang lebih 500 penumpang, dan berada di jalur 2 Stasiun Kebayoran Lama.
Jenis Lokomotif nomer BB306 17 yang dipakai untuk menarik rangkaian kereta bernama KA.220 kelas Patas, dari Tanah Abang ke Rangkas Bitung, disaat Tragedi Bintaro 1987. (semboyan35.com)
Agar tak bingung, dibawah ini adalaqh urutan stasiun sepanjang trek sebelum bencana tersebut terjadi. Pada urutan trek masa sekarang, ada tiga stasiun baru yang pada masa lalu belum ada. Jika stasiun diurut dari arah Serpong ke arah Kebayoran pada masa kini, maka:
Rangkas Bitung –> … Serpong – Rawa Buntu (stasiun baru) – Sudimara – Jurang Mangu (stasiun baru) – Pondok Ranji (stasiun baru) – lokasi tabrakan – Kebayoran … <– JakartaKota
Ringkasnya, posisi stasiun KA single trek pada masa lalu itu adalah:
Rangkas Bitung -> … Serpong – Sudimara – lokasi tabrakan – Kebayoran … <- JakartaKota
Peristiwa bermula atas kesalahan kepala stasiun Serpong yang memberangkatkan KA 225 Ekonomi (Rangkasbitung-Jakarta) ke Stasiun Sudimara, tanpa mengecek kepenuhan jalur KA di Stasiun Sudimara. Dari sini sudah terlihat KESALAHAN PROSEDUR kepala stasiun Serpong, karena tidak adanya komunikasi dan kordinasi dari Kepala Stasiun Serpong kepada Kepala Stasiun Sudimara.
Sehingga ketika KRD no. KA 225 (Rangkas-Jakarta) itu diberangkatkan dari Serpong dan tiba di Stasiun Sudimara pada pukul 6:45 WIB, ternyata benar stasiun Sudimara yang hanya punya 3 jalur saat itu penuh dengan dua KA.
Maka Kepala Stasiun Sudimara pun lantas memerintahkan masinis KRD 225 dilansir masuk jalur 1 (jalur lurus/lacu), dengan posisi di Stasuin Sudimara:
  • Jalur 1: KA 225 (jalur lacu)
  • Jalur 2: KA Indocement hendak ke arah Jakarta juga
  • Jalur 3: KA barang tanpa lokomotif
Memang menurut jadwal, seharusnya keduanya akan bersilang di stasiun Sudimara ini, dimana kalau tepat waktu, KA 225 seharusnya datang pukul 06.40 dan menunggu KA Cepat Patas 220 yang akan lewat pada pukul 06.49 di Stasiun Sudimara. Tapi kenyataannya, KA 225 ini terlambat 5 menit ketika sampai di Sudimara.
Alhasil semua jalur kereta di stasiun Sudimara akan tertutup rapat dan kereta lain tak bisa lewat. Karena penuh, maka kegiatan persilangan juga menjadi suatu yang mustahil.
Karena tak bisa, otomatis persilangan di Sudimara terpaksa dipindahkan lagi saja ke stasiun Kebayoran dengan menyuruh KA 225 jurusan Rangkas-Jakarta yang baru saja tiba dari Serpong dan kini ada di Sudimara dengan waktu yang terlambat itu, segera diberangkatkan ke stasiun Kebayoran.
Jadi pindah stasiun lagi untuk persilangan, yaitu ke stasiun Kebayoran. Namun karena kesalahan prosedur kali inilah, kemudian terjadi rentetan kesalahan prosedur yang akhirnya menyebabkan 139 orang tewas.
Sementara itu, ada kereta kedua KA 220 di stasiun Kebayoran dengan arah tujuan yang berlawanan, yaitu KA Patas yang tak berhenti (KA Cepat) bernomer KA 220 (Jakarta-Merak) yang arahnya berlawanan dengan KA 225 (Rangkas-Jakarta) dan akan diberangkatkan dari Sudimara dan masuk ke stasiun Kebayoran.
Kembali ke stasiun Sudimara yang jalur keretanya penuh, dimana KA 225 sedang berada dan tak mungkin dilakukan persilangan/berpapasan, maka kemudian diberangkatkanlah KA 225 dari stasiun Sudimara ke stasiun Kebayoran agar dapat bersilang/papasan di stasiun Kebayoran.
Semboyan keberangkatan pun ditiup oleh kepala stasiun Sudimara, lalu KA 225 yang ada dijalur 1 Sudimara dan penuh penumpang tersebut, berangkat menuju stasiun Kebayoran….
Kembali lagi kita ke stasiun Kebayoran , disaat yang sama kereta cepat (KA Patas Jakarta-Merak) baru datang dan tak ada prosedur memberhentian tunggu karena KA Cepat tidak berhenti lama, maka tak lama kemudian KA Patas 220 (Jakarta-Merak) juga langsung diberangkatkan dari Kebayoran ke stasiun Sudimara dimana pada saat yang sama KA 225 sedang jalan menuju stasiun Kebayoran dalam satu jalur rel!!
Anehnya, padahal sebelum dilakukan persilangan KA 225 (Rangkas-Jakarta) dari stasiun Sudimara (yang penuh) ke stasiun Kebayoran, sudah dilakukan kontak telepon oleh Kepala Stasiun Sudimara kepada Kepala Stasiun Kebayoran untuk meminta izin.
Pertanyaanya sekarang, mengapa kepala stasiun Kebayoran dengan “gila” telah melepas keberangkatan KA Patas 220 dari stasiun Kebayoran untuk berangkat ke stasiun Sudimara?
Rentetan Kesalahan Prosedur Yang Fatal
Mari kita ulangi kejadiannya lagi. Menurut peraturan, untuk memindahkan persilangan ke Kebayoran, PPKA harus meminta ijin dulu ke Kebayoran, dan setelah diijinkan, baru PPKA membuat surat PTP (Pemindahan Tempat Persilangan) ke masinis KA 225.
Tapi apa yang terjadi malah sebaliknya. PPKA malah membuat PTP dan memberikannya hanya ke masinis, setelah itu baru menelpon meminta ijin ke Kebayoran, waduhhh! Dan sangat disayangkan, oleh PPKA Kebayoran waktu itu malah menjawab “Gampang, nanti diatur!”
Namun sesaat setelah itu, terjadi pula pergantian petugas PPKA Kebayoran. Padahal PPKA pengganti ini telah diberitahu oleh pendahulunya, bahwa di stasiun Sudimara ada dua KA yang belum masuk, termasuk KA 225. Pada saat itu, KA 220 sudah ada di Kebayoran dan siap berangkat.
Sementara itu di Sudimara, PPKA menyuruh juru langsir untuk melakukan tugasnya. Seharusnya pada saat itu, masinis harus memberikan laporan T-83 ke PPKA dan memberitahu rencana langsiran ke masinis KA 225.
Stasiun KA Kebayoran lama
Tapi entah kenapa, kereta KA 225 tiba-tiba langsung tancap gas dan melesat ke Kebayoran, tanpa ijin dari PPKA. Bahkan Kondekturnya juga tidak sempat naik! Karena kewalahan, juru langsir langsung melapor ke PPKA.
Benar saja, selang 5 menit kemudian, Djamhari, petugas PPKA Stasiun Sudimara menerima telepon dari Umrihadi, Petugas PPKA stasiun Kebayoran Lama yang mengabarkan KA nomer 220 jurusan JakartaKota-Tanahabang-Merak sudah berangkat dan sedang melaju menuju Sudimara.
Seketika, dua petugas PPKA Sudimara, mengejar KA 225 yang baru diberangkatkan dari Sudimara ke Kebayoran dengan berlari mengejar kereta KA 225 tersebut sambil mengibarkan bendera merah. Mereka berdua terus menggoyangkan sinyal secara bergantian untuk menghentikan KA 225 tapi sia-sia.
Salah satu petugas PPKA Sudimara, Djamhari, tak patah arang, dia kejar lagi KA tersebut sambil mengibarkan bendera merah. Tapi inipun juga gagal, karena kecepatan KA di atas 50 km/jam maka tidak mampu dikejar. Hingga ada juga petugas yang naik motor mengejar KA225, namun lalu lintas yang padat saat jam berangkat kantor, maka usaha terakhir ini pun juga sia-sia.
Djamhari melihat dari jauh KA 225 terus melaju semakin kencang ke arah stasiun Kebayoran, pengejarannya pun tetap sia-sia. Seketika ia menangis karena kaget, syok dan lelah, Djamhari pun sempat pingsan ditempat, dan setelah sadar ke stasiun Sudimara, dia pingsan lagi.
Pada saat yang sama, KA Patas 220 yang telah diberangkatkan dari Kebayoran juga terus melaju berangkat dari Kebayoran menuju Sudimara untuk menjemput maut…
Perjalanan Menuju Maut
Ngeri rasanya jika dibayangkan, hanya satu jalur KA antara kedua stasiun tapi diisi oleh dua kereta yang berjalan pada arah yang berlawanan, dengan kecepatan penuh!
Dua kereta api yang sama-sama sarat dengan penumpang, namun seluruhnya tak mengetahui keadaan genting ini, akhirnya pada Senin pagi itu dua KA dengan kecepatan penuh melaju bersama dengan arah saling berlawanan yang pada saat itu hanya ada satu fasilitas jalur rel.
Ditambah, jalur rel di KM 17+252 terdapat tikungan zig-zag yang berbentuk “S” berjarak pendek, tapi dikelilingi pepohonan yang rimbun. Disini sudut pandang cukup terbatas, kedua masinis sama-sama tak dapat melihat dan kedua kereta bertemu secara tiba-tiba.
Dalam keadaan mendadak, tiba-tiba kereta dari arah berlawanan muncul, para masinisnya panik dan tidak sempat mengerem, dan jika dilakukan pun akan percuma, apa yang bisa dilakukan hanyalah meloncat keluar!
Akhirnya tabrakan tak dapat lagi dihindari, kedua KA “bertabrakan muka” di lokasi ± Km 18.75 . Benturannya sedemikian dashyatnya, hingga gerbong pertama persis di belakang lokomotif di kedua kereta langsung menyelimuti masing-masing lokomotifnya.
Efek teleskopik ini menewaskan banyak penumpang, dan mereka yang bernasib malang langsung “tergiling” oleh putaran kipas radiator lokomotif.
Kedua kereta hancur, terguling dan ringsek. Kedua lokomotif, yaitu tipe 303 dengan seri BB 303-17 dan tipe 306 dengan seri BB 306-17 rusak berat. Jumlah korban jiwa 156 orang, dan ratusan penumpang lainnya luka-luka.
Karena itu tidak heran bahwa semua korban tewas berada di gerbong pertama dan di lokomotif. Sesaat setelah tabrakan, tempat itu dipenuhi oleh tangisan, erangan, serta bau darah dari dalam rongsokan kereta.
Jika prosedur dilakukan, maka KA 220 Patas (KA Cepat) yang akan melintas di stasiun Kebayoran secara normal, justru yang harus berhenti menunggu karena stasiun Sudimara penuh, KA 220 yang justru harus mengalah dan berhenti di stasiun Kebayoran untuk menunggu, hingga KA 225 sampai tiba di Kebayoran dan berpapasan di stasiun Kebayoran tersebut dengan KA 220.
Dampak Tragedi
Akibat tragedi tersebut, masinis KA Patas 220 Slamet Suradio diganjar 5 tahun kurungan. Ia juga harus kehilangan pekerjaan, sehingga ia memilih pulang ke kampung halamannya, menjadi petani di Purworejo. Sebelumnya, ia telah berkarya selama 20 tahun di perusahaan KA.
slamet tragedi bintaro
Nasib yang serupa juga menimpa Adung Syafei, kondektur KA 225. Dia harus mendekam di penjara selama 2 tahun 6 bulan.
Sedangkan Umrihadi (Pemimpin Perjalanan Kereta Api, PPKA, Stasiun Kebayoran Lama) dipenjara selama 10 bulan.
Seorang mantan pengatur sinyal kereta api yang juga dinyatakan bersalah kini menapaki masa tua dengan penuh penantian.
Meskipun telah melalui banding, ia diputuskan tidak bersalah, hingga kini hanya bisa menunggu datangnya mukjizat untuk memperoleh pengakuan atas pengabdiannya selama lebih dari dua puluh tahun.
Badan ringkih itu kini acapkali nampak ada di stasiun Rangkas Bitung, sekedar untuk mengenang masa lalu dan tentu saja memperoleh belas kasihan kolega yang juga sama-sama pantas dikasihani.
Kejadian ini sempat ramai diberitakan di berbagai media massa, dan sangat mengejutkan masyarakat. Walaupun kecelakaan kereta api sudah sering terjadi di dekade 1980-an, tapi baru kali ini sampai separah ini.
Namun PJKA tidak tinggal diam. Beberapa operasi penertiban segera dilaksanakan. Hal ini perlu, mengingat KA di jalur sekitar Tanahabang memang dari dulu terkenal karena ketidak-tertibannya. Entah karena banyaknya penumpang di lokomotif maupun di atap, ataupun karena banyak penumpang yang tidak membayar dan suka menghajar kondektur.
film Tragedi Bintaro
Dan pada saat kejadian, lokomotif KA 225 memang dipenuhi penumpang gelap, sebagian bergelantungan di luar.
Selain itu beberapa peningkatan prasarana juga dilakukan untuk pencegahan. Seperti pemasangan radio di lokomotif (pada waktu kejadian, sedikit lokomotif di Indonesia yang punya radio).
Selain itu di antara stasiun Kebayoran dan Sudimara kemudian dibangun stasiun baru, Pondok Ranji lalu disusul stasiun Jurang Mangu. Sistem persinyalan di jalur ini kemudian dirubah dari mekanik menjadi elektrik.
Namun, efek terbesar dari kejadian ini adalah pembangunan double track besar-besaran untuk mencegah tabrakan muka terjadi lagi. Ironisnya, program ini baru terlaksana hampir dua dekade kemudian dan akhirnya jalur ganda ini selesai pada tahun 2007. Andai proyek jalur ganda ini selesai 20 tahun lebih awal…
Kisah memilukan ini sempat diabadikan ke dalam sebuah filem dengan judul yang sama “Tragedi Bintaro”, untuk mengenang para korban dan berharap agar peristiwa ini tak terulang lagi, aamin. Berikut cupikannya, untuk film utuhnya bisa anda saksikan dibawah halaman ini atau klik disini: Cuplikan Film “Tragedi Bintaro”
Selain itu, penyanyi dan pencipta lagu terkenal Iwan Fals yang pada masa orde baru sempat dipidana karena lirik lagunya dan masuk bui, juga ikut mengabadikan peristiwa Tragedi Bintaro yang tragis ini dalam sebuah lagu yang berjudul 1910, berikut liriknya:
Apa kabar kereta yang terkapar di senin pagi
Di gerbongmu ratusan orang yang mati
Hancurkan mimpi bawa kisah
Air mata… air mata…
Belum usai peluit belum habis putaran roda
Aku dengar jerit dari Bintaro
Satu lagi catatan sejarah
Air mata… air mata…
Berdarahkan tuan yang duduk di belakang meja
Atau cukup hanya ucapkan belasungkawa aku bosan
Lalu terangkat semua beban dipundak
Semudah itukah luka-luka terobati
Nusantara, tangismu terdengar lagi
Nusantara, derita bila terhenti
Bilakah… bilakah…
Sembilan belas oktober tanah Jakarta berwarna merah
Meninggalkan tanya yang tak terjawab
Bangkai kereta lemparkan amarah
Air mata… air mata…
Oooh…
Nusantara langitmu saksi kelabu
Nusantara terdengar lagi tangismu
Ho.. ho… ho…
Nusantara kau simpan kisah kereta
Nusantara kabarkan marah sang duka
Saudaraku pergilah dengan tenang
Sebab luka sudah tak lagi panjang (klip video youtube – Iwan Fals 1910)
Kecelakaan ini juga menyisakan beberapa teka-teki hingga saat ini. Apa sesungguhnya yang menyebabkan masinis KA 225 berjalan tanpa ijin?
Dan setelah kejadian itu, kereta krane yang dijuluki “Si Bongkok”, yang dipakai untuk menolong, sempat mengalami anjlok dalam perjalanan kembali ke stasiun Manggarai.
Hingga saat ini perintah keberangkatan KA 225 yang diberikan PPKA Sudimara masih menjadi perdebatan, apakah akibat semboyan yang diberikan pak Djamhari (PPKA SDM saat itu) adalah semboyan 40 ataukah semboyan 46.
Kereta krane yang dijuluki “Si Bongkok”, yang pernah dipakai untuk menolong Tragedi Bintaro 1987 sempat anjlok di stasiun Manggarai.
Penyelidikan Menurut Saksi Mata dan Terdakwa
Dari hasil laporan terhadap beberapa petugas, di Stasiun Sudimara, terdapat 3 jalur yang saat itu sedang penuh dengan KA. Mengetahui hal tersebut, Djamhari selaku kepala PPKA ( Pengatur Perjalanan Kereta Api ) Stasiun Sudimara menghubungi Stasiun Kebayoran Lama untuk melakukan persilangan jalur di Stasiun Kebayoran Lama, namun Kepala PPKA Stasiun Kebayoran Lama, Umriyadi / Umrihadi menolaknya dan tetap meminta persilangan dilakukan di Stasiun Sudimara.
Mau tak mau, Djamhari kemudian mengosongkan jalur 2 (KA Indocement) untuk menampung KA 220 Patas yang telah berangkat dari Stasiun Kebayoran Lama setelah mendapat izin dari Kepala PPKA dengan memindahkan KA 225 ke jalur 1.
Djambhari kemudian memerintahkan Juru Langsir untuk memberi tahu masinis jika KA 225 hendak dipindah ke jalur 1. Juru Langsir kemudian memberi peringatan kepada masinis dan penumpang dengan mengibaskan Bendera Merah dan meniup peluit Semboyan 46 ( tanda kepada masinis dan penumpang jika kereta akan dilangsir )tanpa membatalkan perintah persilangan yang terlanjur diberikan kepada masinis KA 225.
Masinis KA 225 mendengar bunyi peluit Juru Langsir, namun ia tidak dapat memastikan apakah itu bunyi semboyan 46 atau semboyan 40 (tanda ketika petugas peron memberi sinyal hijau kepada kondektur KA, artinya jalur telah aman untuk dilalui).
Karena kondisi kereta yang penuh sesak, masinis pun menanyakan kepada penumpang yang berdiri di luar lokomotif, dan orang tersebut menjawab jika sudah waktunya kereta berangkat yaitu Semboyan 40 tanpa memastikan kembali.
Maka masinis membalas membunyikan Semboyan 41 (tanda yang dibunyikan oleh masinis dan kondektur sebagai respon atas dimengertinya semboyan 40 yang telah diisyaratkan oleh Kepala Stasiun), disusul kemudian dibunyikannya semboyan 35 (masinis membuyikan klakson sebagai tanda kereta akan berangkat).
Padahal sang Masinis tidak tahu jika semboyan 40 belum diberikan oleh Kepala PPKA, yang diberikan hanyalah Semboyan 46 (kereta harus langsir) dan sang masinis KA 225 langsung memberangkatkan kereta, hanya karena jawaban seseorang yang mengatakan jika kereta telah siap untuk berangkat.
Pada pukul 07.00 WIB, KA 225 berangkat tanpa ijin dari Kepala PPKA. Para petugas di Stasiun Sudimara dan Kepala PPKA langsung panik saat mengetahui KA 225 telah berangkat tanpa ijin, apalagi setelah Djamhari dihubungi oleh Kepala PPKA Stasiun Kebayoran Lama jika KA 220 Patas juga telah berangkat menuju Sudimara.
Juru Langsir kemudian langsung mengejar KA 225 dan berhasil naik gerbong paling belakang, namun sayangnya ia tidak dapat memberi tahu sang masinis karena penuhnya penumpang. Maka tragedi tak dapat dihindari. Begitulah versi dan alibi serta kesaksian dari para petugas di tempat kejadian tentang penyebab tragedi ini.
Kamus Kecil:
  • Semboyan 35: Ketika Masinis membunyikan Horn (Klakson) KA, sebagai Tanda KA akan diberangkatkan.
  • Semboyan 40: Ketika Petugas Peron memberikan Sinyal Hijau kepada Kondektur KA, tanda jalur telah aman untuk dilalui.
  • Semboyan 41: Ketika Kondektur membunyikan Peluit sebagai respon atas dimengertinya Semboyan 40 yang telah diberikan.
  • Semboyan 46: Ketika Juru Langsir meniup peluit dan mengibaskan Bendera Merah, sebagai tanda kepada masinis dan penumpang bahwa KA akan segera dilangsir.

Nasib Sang Masinis Tragedi Bintaro
Purworejo – Kecelakaan kereta api di Bintaro tahun 1987 yang menewaskan ratusan penumpang tidak hanya menjadi tragedi bagi mereka yang ditinggalkan. Ini juga sebuah tragedi besar bagi Slamet Suradio yang kala itu jadi masinis kereta nahas itu. Slamet menjadi terpidana dan dipenjara selama tiga tahun lebih. Pemeriksaan yang dialaminya pun penuh kekerasan.
Sejak itu, jalan hidup Slamet, warga Krajan, Desa Gintungan, Purworejo, Jawa Tengah, ini berbalik arah.. Selain dipenjara, lelaki empat anak ini dipecat dengan tidak hormat yang membuat ia kehilangan hak pensiunnya.
Keluar dari bui, untuk menghidupi istri dan anaknya, pria 71 tahun ini berdagang asongan dengan pendapatan Rp 3.000 sampai Rp 4.000 per hari.
Kenangan saat jadi masinis membuatnya terkadang ingin mengenakan kembali baju kebanggaannya, seragam pegawai PT Kereta Api. Baju yang sudah berumur puluhan tahun itu masih terawat dan bersih. Kartu kepegawaian pun masih disimpannya. Slamet pasrah dengan jalan hidupnya. Hanya saja kalau bisa meminta ia ingin mendapat hak pensiunnya karena dia merasa pernah jadi pegawai negeri.
Slamet bintaro dan istri
Munculnya kisah Slamet Suradio (71) mantan masinis kereta yang mengalami tragedi kecelakaan Bintaro 1987 tersebut ini, dalam pemberitaan di beberapa media pekan lalu membuat kakek tua warga RT 02 RW 02 Dusun Krajan Kidul, Desa Gintungan, Kecamatan Gebang, Purworejo ini mendadak tenar.
Apalagi setelah Mbah Slamet Bintaro, sapaan akrabnya di daerah tempat tinggalnya, tampil dalam sebuah acara televisi swasta, kisah nestapanya menggugah empati banyak orang.
Beberapa dermawan akhirnya mengulurkan tangannya untuk membantu laki-laki yang saat menjalani hukuman penjara di LP Cipinang istrinya direbut orang itu.
Di dunia maya, nama Mbah Slamet pun tiba-tiba moncer. Di situs jejaring sosial Facebook juga muncul empati dari facebuker (pengguna Facebook) yang membuat grup “Dukung Mbah Slamet Memperjuangkan Uang Pensiunnya”.
Dalam group tersebut, banyak diupload pemberitaan dari berbagai media, baik cetak maupun elektronik yang mengupas mengenai kisah- kisah kehidupan Mbah Slamet setelah menjalani hukuman akibat diputus bersalah dalam tragedi Bintaro.
Kisah sedih Mbah Slamet juga mampu menggugah rasa iba di kalangan para pengguna situs Kaskus. Di situs tersebut juga muncul seruan untuk mendukung Mbah Slamet untuk memperjuangkan uang pensiuannya. Bahkan beberapa orang menawarkan ide menggalang donasi untuk membantu mantan masinis malang ini.
Slamet masinis Tragedi Bintaro
Layaknya seorang selebriti, ketenaran mendadak itupun ternyata juga meminta “tumbal”. Mungkin bagi Anda sebuah lapak tempat jualan itu menjadi barang yang tidak berharga.
Tapi tidak bagi Mbah Slamet yang hanya memiliki penghasilan Rp 5.000 per hari dari pekerjaanya sebagai pengasong rokok dan tukang kayu.
Lapak tempat dia jualan di perempatan BRI Kutoarjo diambil paksa oleh pemiliknya. Tampilnya Mbah Slamet dalam pemberitaan media dianggap pemilik lapak itu sebagai bukti Mbah Slamet sudah mendapatkan uang pensiun.
“Dikira uang pensiuan saya sudah turun. Keluarga saya memang punya hutang sama orang yang meminjami saya lapak. Hutangnya 5 gram emas dan dijual dulu untuk mengurus pensiuan. Terus saya ditagih hutang. Saya jelaskan uang pensiun belum turun, dia tidak percaya. Akhirnya tempat jualan rokok itu diambil paksa,” keluh Mbah Slamet dengan tertawa polos saat ditemui di sela-sela dia membuat lapak baru di rumahnya, Rabu (13/10/2011).
Apes betul, ketenarannya itu juga membuat orang-orang yang dulu disambati Mbah Slamet menganggap kehidupan suami dari Tuginem (45) ini sudah mapan dan hidup layak. Padahal itu berbanding terbalik. Belum ada perubahan yang mencolok. Blandar rumahnya juga tetap keropos, bahkan dikhawatirkan bisa ambruk.
“Memang karena berita-berita kemarin, ada beberapa orang yang baik hati memberi bantuan. Tapi itu digunakan istri saya untuk memperbaiki rangka atap rumah. Kalau dibiarkan rumah bisa roboh dan menimpa keluarga kami kan bisa celaka semuanya,” katanya.
Slamet Suradio mantan masinis KA Cepat 220 Jurusan Tanahabang – Merak, saat Tragedi Bintaro.
Paiman (51), warga Tegal Kutoarjo yang juga masih saudara dengan Mbah Slamet tadi datang untuk memastikan keselamatan Mbah Slamet.
Sebab dia mendengar kabar lapak Mbah Slamet sempat akan dibakar setelah dia menyatakan benar-benar belum mendapat uang pensiun. “Saya kasihan, makanya untuk memastikan kondisinya saya datang kesini,” katanya, tadi.
Paiman menegaskan, hingga hari ini uang pensiun Mbah Slamet benar-benar belum turun. Oleh karena itu, dia berharap ada orang atau lembaga bantuan hukum yang secara sosial bersedia membantu Mbah Slamet untuk bisa memper-juangkan uang pensiuannya.
Lagi-lagi karena uang pensiun itulah yang menjadi harapan Mbah Slamet yang kini usianya sudah semakin udzur.
Timbul pertanyaan, kenapa selalu masinis yang dipersalahkan dalam setiap kasus tabrakan? Apakah ada yang salah dengan hukum dan keadilan di negeri ini? Apa ada “main-main” di dalam tubuh PT. KAI sendiri? atau ada hal lain?
Masinis hanyalah manusia atau karyawan rendahan PNS yang menjalankan perintah sesuai semboyan perkereta-apian yang diberikan dari atasannya. Justru jika ia tak melaksanakannya, barulah ia melanggar perintah yang telah diberikan kepadanya. (https://indocropcircles.wordpress.com)

Senin, 16 Februari 2015

10 BENCANA ALAM PALING TRAGIS DALAM SEJARAH

 
images
Siapapun tak ingin bencana alam menimpanya. Namun apabila Tuhan sudah berkehendak, tak ada yang mampu melarikan diri darinya. Berikut ini adalah 10 bencana alam paling tragis dalam sejarah dunia, mulai dari banjir, gempa, tsunami, angin ribut, gunung meletus, hingga sambaran petir. Beberapa dikenal sebagai bencana alam yang paling banyak memakan korban jiwa. Yang lebih tragis lagi, beberapa bencana alam terburuk dalam sejarah dunia terjadi di Indonesia.

10. Ledakan Palace of Grand Masters 1856
Lokasi: Pulau Rhodes, Yunani
Penyebab: Sambaran petir
Korban: 4.000 jiwa
  Lightning1
Bencana ini so pasti adalah bencana teraneh yang pernah terjadi di bumi ini. Pada 3 April 1856, petir menyambar tepat di gudang amunisi di Pulau Rhodes, menyebabkan seluruh pulau meledak dan menelan 4.000 korban. Bandingkan jumlah korban dengan penduduk Pulau Rhodes saat ini, yaitu 6.000 jiwa.
 
9. Letusan Krakatoa 1883
Lokasi: Selat Sunda
Penyebab: Letusan gunung Krakatau
Korban: 21.000 jiwa
471px-Krakatoa_eruption_lithograph
Gunung Krakatau pernah mengalami letusan dahsyat pada tahun 1883. Bencana yang diikuti dengan tsunami ini menyebabkan 21 ribu nyawa warga lokal lenyap, terutama karena tsunami yang timbul dari letusan gunung berapi tersebut. Konon, suara letusan terdengar hingga Perth, Australia. Well, kalau suara letusannya saja sekeras itu, gimana dong dengan penduduk Batavia saat itu? Apa mereka nggak tuli, soalnya lokasi mereka kan dekat sekali? Ternyata abu vulkanik yang menyelimuti kota-kota di sekitar Krakatau berperan sebagai peredam suara.
Pada saat berita tentang meletusnya gunung ini sampai ke telinga seorang wartawan The Times di Inggris, ia salah menuliskan nama Krakatau menjadi Krakatoa, sehingga bangsa Barat lebih mengenalnya dengan nama tersebut. Menurut legenda rakyat Sunda, letusan Krakatau terdahulu pada tahun 535 SM menyebabkan terputusnya Pulau Sumatra dan Jawa, walaupun banyak ahli vulkanologi meragukannya. Pada tahun 1927, gunung vulkanik baru muncul dari lokasi meletusnya Krakatau dan disebut Gunung Anak Krakatau. Gunung tersebut hingga kini masih terus naik ke permukaan laut dan bertambah tinggi 5 m per tahun.
 
8. Gempa Besar Lisboa 1755
Lokasi: Lisboa, Portugal
Penyebab:gempa bumi 8,5-9 SR
Korban: 100.000 jiwa
lisbon_earthquake
Jika satu bencana tak cukup, bagaimana dengan tiga bencana sekaligus: gempa bumi, tsunami, dan kebakaran sekaligus dalam satu hari? Hmmm…terima kasih. Bencana yang menimpa ibu kota Portugal pada 1 November 1755 memang dikenal sebagai salah satu bencana alam terburuk sepanjang sejarah Eropa. Tak hanya karena korban jiwa mencapai 100.000, namun juga karena hancurnya banyak bangunan bersejarah di Lisboa, rusaknya ribuan karya seni yang tak ternilai harganya, serta lenyapnya catatan historis Vasco da Gama dan literatur sejarah lainnya.
 
7. Tahun Tanpa Musim Panas 1816
Lokasi: Indonesia, namun dampaknya dirasakan di seluruh dunia
Penyebab: letusan Gunung Tambora
Korban: 200.000 jiwa di Eropa dan 70.000 jiwa di Indonesia
images4
Tahun Tanpa Musim Panas adalah sebutan bagi bencana yang melanda seluruh dunia pada tahun 1816. Pada tahun tersebut terjadi anomali (keanehan) dimana suhu udara turun sangat drastis. Pada bulan yang semestinya musim panas, justru turun salju. Bahkan salju dilaporkan turun di Taiwan yang seharusnya beriklim tropis. Akibatnya penduduk Amerika dan Eropa tidak dapat bercocok tanam dan bencana kelaparan melanda dua benua tersebut, memangsa hingga 100 ribu jiwa hanya dalam kurun waktu setahun.
Dari penyelidikan modern, diketahui bencana tersebut disebabkan oleh abu letusan gunung Tambora di Sumbawa yang letusannya mencapai skala VEI 7, menjadikannya letusan gunung berapi terbesar dan terkuat dalam sejarah modern. Saking kerasnya, letusan gunung ini terdengar hingga Sumatra. Suara letusan yang mirip tembakan meriam menyebabkan Raffles, gubernur jenderal saat itu, mengutus pasukan dari Yogyakarta karena mengira terjadi serangan perang. Uniknya, bencana ini juga menyebabkan dampak pada budaya sebagai berikut.
1. Banyaknya kuda yang mati selama masa kelaparan membuat Karl Drais, seorang penemu dari Belanda menciptakan alat transportasi baru yang disebut sepeda.
2. Suasana Tahun tanpa Musim Panas yang dingin, gelap, dan menakutkan menginspirasi Mary Shelley menciptakan novel “Frankenstein” dan John William Polidori menciptakan novel “Vampyre”. Novel “Vampyre” kemudian dibaca oleh Bram Stoker dan menginspirasinya menciptakan tokoh Dracula yang terkenal itu.
3. Justus von Liebig, seorang ahli kimia menciptakan pupuk sintetis pertama di dunia untuk mengatasi kelaparan.
 
6. Gempa dan Tsunami Aceh 2004
Lokasi: Indonesia dan negara Asia Pasifik lainnya
Penyebab: gempa 9,3 SR
Korban: 280.000 jiwa
images2
Bencana ganda ini terjadi pada 26 Desember 2004, dimana gempa dan tsunami menyapu lebih dari empat negara, yaitu Indonesia, Sri Lanka, India, dan Thailand. Efek tsunami dapat dirasakan hingga Somalia (Afrika), Meksiko, Kanada, hingga Antartika. Gempa di Aceh pada tahun 2004 merupakan gempa terkuat ketiga dalam sejarah, setelah Gempa Cile 1960 (9,5 SR) dan Gempa Alaska 1964 (9,2 SR). Namun tsunami yang dirasakan merupakan tsunami yang memakan korban jiwa terbanyak dalam sejarah. Uniknya, gempa ini terjadi tepat setahun (hingga pada jamnya) setelah gempa 6,6 SR menewaskan 30.000 orang di Bam, Iran. Gempa ini juga melepaskan energi setara 550 juta kali lipat dari bom atom Hiroshima atau setara dengan penggunaan energi di Amerika Serikat selama 370 tahun. Tak hanya warga lokal, sekitar 9.000 turis mancanegara juga menjadi korban bencana alam ini.
 
5. Siklon Bhola 1970
Lokasi: Bangladesh
Penyebab: angin ribut
Korban: 500.000 jiwa
708px-November_1970_Bhola_Cyclone_Repair
Bencana ini tercatat sebagai badai siklon tropis terbesar dalam sejarah dan menyerang bagian timur Pakistan (sekarang Bangladesh). Pemimpin junta militer Pakistan Yahya Khan saat itu dianggap bertanggung jawab karena lambatnya penanganan bencana serta kesombongan sang jenderal ketika menolak bantuan dari India. Hal ini menyebabkan setengah juta penduduk menjadi korban dan memicu lepasnya Bangladesh dari wilayah Pakistan.
 
4. Gempa Shaanxi 1456
Lokasi: Shaanxi, Cina
Penyebab: gempa 8 SR
Korban: 830.000 jiwa
19956425
Gempa ini dianggap sebagai gempa bumi dengan jumlah korban jiwa terbanyak dalam sejarah dunia. Bencana ini terjadi pada masa Dinasti Ming yaitu pada masa pemerintahan Kaisar Jianjing sehingga sering disebut pula gempa Jianjing. Gempa ini menewaskan kira-kira 60% penduduk wilayah yang mengalami gempa saat itu.
 
3. Banjir Besar Cina 1931
Lokasi: Cina
Penyebab: meluapnya Sungai Kuning, Sungai Yangtze, dan Sungai Huai
Korban: 4 juta jiwa
Bundesarchiv_Bild_102-12231,_China,_Überschwemmungsopfer
Banjir ini disebut-sebut sebagai bencana alam yang paling banyak memakan korban dalam sejarah modern. Pemerintah komunis RRC menyatakan dalam pernyataan resminya bahwa jumlah korban hanya mencapai 145.000, namun media Barat meyakini jumlah korban tewas dapat mencapai 4 juta jiwa. Banyaknya korban jiwa tak hanya disebabkan karean tenggelam, namun juga karena bencana kelaparan dan wabah penyakit seperti kolera dan tifus.
 
2. Bencana Kelaparan Besar 1958-1961
Lokasi: Cina
Penyebab: alam dan human error
Korban: 48 juta jiwa
china41
Bencana kelaparan ini terjadi selama 3 tahun dan menyebabkan jutaan rakyat Cina tewas. Laporan resmi pemerintah Cina menyatakan bahwa bencana ini merenggut nyawa 15 juta jiwa, namun media Barat memperkirakan korban berjumlah hingga 48 juta jiwa. Diperkirakan bahwa bencana ini 30% disebabkan oleh alam dan 70% sisanya disebabkan kesalahan pemerintah.
1. Pemerintah menganjurkan sistem pertanian monokultur, yang justru menyebabkan tumbuhan tumbuh menjadi lebih pendek.
2. Pemerintah menyarankan petani mencangkul hingga kedalaman 1-2 m karena tanah yang subur dianggap berada pada lapisan tanah paling bawah, padahal seharusnya tanah tersubur ada di bagian paling atas.
3. Distribusi bahan makanan yang tidak adil. Ada laporan yang menyebutkan, sementara banyak warganya yang mati kelaparan, pemimpin desa justru mendapatkan makanan dan minuman yang berlebih.
4. Pemerintah menarik jutaan petani Cina untuk bekerja di pabrik baja dan besi, menyebabkan lahan-lahan pertanian terbengkalai.
5. Bencana kekeringan pada 1960 karena perubahan pola cuaca.
6. Meluapnya Sungai Kuning pada tahun 1959.
Yang paling mengerikan dari bencana ini bukan hanya tingginya jumlah korban jiwa, namun juga penderitaan tak terbayangkan yang mereka alami serta munculnya kanibalisme.
 
1. Wabah Black Death abad ke-14
Lokasi: Eropa
Penyebab: bakteri Yersinia pestis
Korban: 100 juta jiwa
800px-zz
Wabah ini adalah wabah terbesar dalam sejarah umat manusia. Hanya dalam waktu dua tahun (1348-1350), wabah ini telah menyapu separuh dari populasi Eropa. Penyebabnya diduga bakteri Yersinia pestis yang dibawa oleh kutu yang kemudian menjadi parasit pada tikus. Wabah ini diduga berasal dari Cina lalu masuk ke Eropa melalui Jalur Sutra. Wabah ini disebut Black Death karena gejala berupa ruam kehitaman pada kulit korban karena pendarahan di bawah kulit.
BONUS:
Letusan Toba 70 ribu tahun lalu
Lokasi: sekarang danau Toba, namun dampaknya dirasakan di seluruh dunia
Penyebab: letusan supervolcano
Korban: 99% populasi manusia saat itu
Toba_zoom
Letusan sebuah gunung yang disebut supervolcano sekitar 70.000 tahun yang lalu tidak hanya meninggalkan kawah yang kini menjadi danau terbesar di Indonesia, namun juga mengubah sejarah manusia. Letusan berskala VEI 8 atau terbesar sepanjang sejarah umat manusia ini menyebabkan munculnya Zaman Es yang menyebabkan sekitar 99% populasi manusia saat itu musnah, menyisakan hanya 10.000 manusia saja yang hidup. (http://mengakubackpacker.blogspot.com)

Senin, 02 Februari 2015

10 KECELAKAAN TRANSPORTASI PALING TRAGIS DI INDONESIA

 
ga-152
Membuat list ini membuatku miris. Begitu banyak kecelakaan transportasi di Indonesia tanpa adanya perbaikan yang berarti. Sebagian besar kecelakaan ini selain disebabkan oleh alam, juga karena kelalaian manusia serta kondisi alat transportasinya yang tidak memadai. Kapankah pemerintah akan mempedulikan kondisi seperti ini? Berikut ini adalah 10 tragedi transportasi paling memilukan dalam sejarah Indonesia.
1. Tragedi Bintaro
images
Tragedi Bintaro adalah peristiwa kecelakaan kereta api pada 19 Oktober 1987. Dikenal sebagai salah satu tragedi perkeretaapian paling tragis di dunia, kecelakaan ini melibatkan dua kereta ekonomi, satu berangkat dari Stasiun Rangkasbitung dan satunya berangkat dari Stasiun Tanah Abang. Keduanya bertabrakan di Pondok Betung, Bintaro dan menyebabkan 156 penumpangnya tewas. Yang mengerikan, banyak di antara korban tidak lagi utuh anggota tubuhnya. Kecelakaan ini murni disebabkan oleh kecerobohan manusia.
2. Tragedi Tampomas
tampomas02
Tragedi ini melibatkan KMP Tampomas II milik PELNI yang terbakar di perairan Masalembo pada 27 Januari 1981. Kapal ini dinahkodai Kapten Abdul Rivai yang memutuskan tetap berada di kapal hingga tenggelam. Berdasarkan manifes, kapal ini ditumpangi 1054 penumpang dan 82 awak kapal, namun pada kenyataannya diperkirakan terdapat 1442 penumpang (ditambah penumpang gelap). Kebakaran di kapal yang berangkat dari tanjung Priok dengan tujuan Ujungpandang tersebut disebabkan percikan api pada ruang mesin, ditambah lagi kapal tidak memiliki smoke detector. Pemerintah Soeharto kala itu berusaha menutupi kasus ini sehingga hasil investigasinya pun tidak memuaskan.
3. Tragedi Senopati Nusantara
sm16kapal1naseps
Lagi2 tragedi bahari yang mengoyak sejarah Indonesia, KM Senopati Nusantara adalah kapal ferry yang diperkirakan tenggelam pada 30 Desember 2006 di perairan Karimunjawa dalam perjalanannya dari Teluk Kumai (kalimantan Tengah) ke Semarang. Kapal ini diduga karam akibat cuaca buruk. Dari total 628 awak dan penumpang, hanya 128 jiwa yang berhasil diselamatkan.
4. Tragedi Lion Air 538
Kecelakaan-Jatuhnya-Pesawat-Lion-Air
Tragedi ini patut tercatat dalam sejarah, sebab setahuku inilah peristiwa jatuhnya pesawat terbang pertama yang benar2 mengguncang publik. Sejak saat itu, entah mengapa, semakin banyak pesawat2 berjatuhan dari langit. Peristiwa tergelincirnya pesawat Lion Air dengan kode penerbangan JT 538 di Bandara Adi Sumarmo Solo yang terjadi 30 November 2004 ini disebabkan karena licinnya landasan pacu akibat cuaca buruk. Kecelakaan yang menimpa pesawat jurusan Jakarta – Surabaya tersebut menewaskan 26 penumpang. Kecelakaan ini juga dikenal paling dramatis karena video yang direkam salah satu kru televisi yang juga berada dalam pesawat yang dengan jelas menggambarkan kengerian dan ketegangan detik2 setelah pesawat jatuh.
5. Tragedi Sukhoi
sukhoi
Kecelakaan ini pasti masih segar di ingatan kita. Kecelakaan pesawat Sukhoi Superjet 100 yang menghantam Gunung Salak ini pada 9 Mei 2011 disebabkan karena ketidaktahuan sang pilot yang asli Rusia dengan medan yang ia hadapi. Penerbangan ini seharusnya adalah sebuah penerbangan demo untuk memperkenalkan pesawat ini kepada para pengusaha maskapai penerbangan. Di antara 45 penumpang yang tewas termasuk 3 orang wartawan Indonesia.
6. Tragedi Adam Air 574
135237886456326_300x430
Adam Air Penerbangan 574 dengan jurusan Surabaya – Manado yang berangkat 1 Januari 2007 dan diperkirakan hilang di Perairan Majene, Sulawesi. Hingga kini, 96 penumpang dan 6 awak pesawat belum diketahui keberadaannya. Proses pencarian korban sempat dibantu oleh kapal Amerika Serikat dan Kanada hingga bantuan pesawat dari Singapura, namun yang ditemukan hanyalah kotak hitamnya. Tragisnya, kecelakaan memilukan ini hanya berselang 3 hari dari tragedi Senopati Nusantara.
7. Tragedi Garuda 152
garuda152
Pesawat garuda Indonesia Penerbangan GA 152 meruapakn pesawat jenis airbus yang jatuh di Sibolangit, Deli Serdang, Sumatra Utara saat hendak mendarat di Bandara Polonia, Medan. Peristiwa ini diduga disebabkan kabut asap dari kebakaran hutan yang kala itu memang menyelimuti kota medan. Hingga kini tragedi ini merupakan kecelakaan pesawat terbesar di Indonesia dengan jumlah korban 222 penumpang dan 12 awak.
8. Tragedi Mandala 21
makam masal mandala
Walaupun tak memakan korban jiwa sebanyak Tragedi Garuda di Medan, namun kecelakaan ini tetap kuanggap lebih tragis sebab tak hanya memakan koran para penumpang, melainkan warga tak berdosa yang berada di darat. Kecelakaan ini melibatkan pesawat Mandaa Airlines Penerbangan 91 jurusan Medan – Jakarta yang terjatuh segera setelah lepas landas dari Bandara Polonia, Medan.
5
Selain menewaskan 111 penumpang dan awak, tragedi ini juga menewaskan 44 orang yang berada di lokasi kecelakaan di Padang Bulan, Medan. Ajaibnya, 16 penumpang berhasil menyelamatkan diri dari tragedi mengerikan ini. Banyak dugaan tentang penyebab kecelakaan ini, mulai dari kerusakan mesin hingga bobot berlebih akibat kargo 2 kg durian yang dibawa Gubernur Sumatra Utara, Tengku Rizal Nurdin, yang juga meninggal akibat kecelakaan tersebut.
9. Tragedi Tugu Tani
pelaku-tragedi-tugu-tani
Tragedi kecelakaan ini benar2 membuat siapapun menjadi geram. Tragedi ini disebabkan karena Afriyani mengendarai mobilnya dalam kondisi dibawah pengaruh shabu-shabu sehingga menabrak dan menewaskan 9 pejalan kaki pada 21 Januari 2012.
10. Tragedi Situbondo
sm1hl25
Tragedi ini mungkin adalah kecelakaan lalu lintas paling memilukan yang pernah terjadi di Indonesia. Betapa tidak, kecelakaan yang terjadi 8 Oktober 2003 ini menewaskan seluruh penumpangnya yang mayoritas adalah siswi SMK Yapemda, Sleman yang berada dalam perjalanan pulang study tour ke Bali. Sebanyak 48 siswa dan guru tewas saat bus yang mereka tumpangi terbakar. Kecelakaan tersebut disebabkan oleh kelalaian sang sopir (satu2nya yang selamat dari kejadian ini) menerobos rambu lalu lintas. (http://mengakubackpacker.blogspot.com)