Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label cerpen. Tampilkan semua postingan

Minggu, 26 Oktober 2014

Siri' Berganjar Nyawa


Judul Film             :   Badik Titipan Ayah
Dirilis                   :   2 Oktober 2010
Durasi                  :    01:22:05 (terbagi atas 11 bagian)
Sutradara              :   Dedi Setiadi
Penulis Naskah     :   Taufik Daraming Tahir
Desain Produksi    :   Deddy Mizwar
Produser                   :    Zairin Zain dan Mudzakir Rifai
Produksi                   :   Citra Sinema
Pemain Utama      : 

Tika Bravia             : Andi Tenri (putri tunggal Karaeng Tiro/kekasih A. Firman)
Reza Rahadian       : Andi Aso (putra tunggal Karaeng Tiro)
Guntara Hidayat    : Andi Firman (kekasih Andi Tenri)

Pemain Lain        :

Aspar Paturusi       : Karaeng Tiro (ayah Andi Aso dan Andi Tenri)
Widyawati             : Karaeng Caya (isteri karaeng Tiro/ibu A. Aso & A. Tenri)
Ilham Anwar         : Limpo (anak angkat Karaeng Tiro)
Laksmi Aspar        : Daeng Kanang
Edwin Sukmono    : Chandra
Cut Adis                : Dewi (kekasih Andi Aso)


Siri’ Berganjar Nyawa

Film televisi (FTV) ini merupakan sebuah produk yang sangat bagus karena mengangkat tema tentang budaya siri’ yang dijunjung tinggi dan sangat dijaga oleh masyarakat suku Bugis-Makasaar. Film yang diprakarsai oleh Deddy Mizwar ini merupakan suatu karya yang jarang ditemukan karena menguak tentang kearifan budaya lokal Bugis-Makassar. Film ini memicu animo dan antusias penonton terutama di daerah Makassar karena merasa penasaran dengan judul yang diusung oleh produser. Nuansa kedaerahan sangat kental di dalam karya ini, penggambaran tentang bagaimana masyarakat Bugis-Makassar menyikapi dan menyelesaikan masalah yang sangat fatal yang menyangkut harkat dan martabat keluarga.
Diceritakan, putri  tunggal Karaeng Tiro dan Karaeng Caya yaituAndi Tenri memutuskan untuk kawin lari (silariang) bersama kekasihnya Andi Firman yang telah menghamilinya atas permintaannya sendiri. Alasan mengapa ia melakukan kawin lari (silariang) adalah karena ia sadar bahwa rencananya untuk menjadikan bayi yang ada di dalam kandungannya sebagai alasan untuk menyatukan cintanya bersama Andi Firman akan sia-sia dan bahkan akan memicu kemarahan tettanya, Karaeng Tiro.
Mengetahui bahwa keluarganya telah dipermalukan (nipakasiri’) karena putri semata wayangnya Andi Tenri kawin lari (silariang) bersama kekasihnya, Karaeng Tiro lalu meminta putra tunggalnya Andi Aso untuk menyelesaikan persoalan tersebut sesuai dengan cara dan prinsip suku Bugis-Makassar yaitu dengan menggunakan badik. Karaeng Tiro mewariskan badik pusaka I La Sanrego yang merupakan warisan keluarga yang telah memakan banyak darah musuh dan penghianat untuk menyelesaikan masalah tersebut. Bagi orang Bugis-Makassar, persoalan siri’adalah persoalan adat, dan harus diselesaikan secara adat.
Perasaan dilema yang melanda Andi Aso antara rasa sayang kepada adik perempuannya dan upaya melaksanakan amanah tersirat sang ayahanda untuk menyelesaikan permasalahan ini demi menegakkan kembali harga diri dan martabat keluarga yang telah dinodai oleh Andi Tenri bersama kekasihnya Andi Firman.
Andi Aso didampingi oleh anak angkat Karaeng Tiro bernama Limpo kemudian mencari Andi Tenri dan Andi Firman hingga ke kota Makassar.
Beberapa waktu beselang Karaeng Tiro Wafat karena serangan jantung akibat dipermalukan oleh seorang warga yang menanyakan keberadaan Andi Tenri ketika menuju ke acara perkawinan kerabatnya. Mendengar kabar bahwa tettanya mennggal dunia Andi Tenri dan sang suami (sambil membawa bayi mereka yang baru lahir) nekad datang ke Bira, kampung halamannya untuk melihat jenazah tettanya untuk yang terakhir kalinya.  Andi Aso dan Daeng Limpo menyambut kedatangan mereka dengan amarah yang membara. Badikpun dihunus oleh Andi Aso, bersiap melakukan perhitungan dengan Andi Firman yang juga sudah menghunus badiknya.
“Ingat, badik yang sudah dikeluarkan dari sarungnya, pantang dimasukkan kembali sebelum melaksanakan tugasnya!,” tegas Daeng Limpo dengan mata menyala. Keadaan menjadi sangat tegang. Tanpa rasa takut sedikitpun, Andi Tenri maju menghadapi Badik yang terhunus di tangan sang kakak, siap menghadapi kemungkinan terburuk sebagai wujud tanggungjawab dan resiko atas perbuatannya.
Dengan wajah yang murung dan tetesan air mata di pipinya yang belum mengering, Karaeng Caya melerai konflik batin antar kedua anaknya beserta menantunya. Kemudian menghampiri jenazah suaminya sambil menggendong cucu pertamanya dari ramin putri tunggalnya dan memohon kepada jenazah suaminya agar memaafkan kesalahan yang dilakukan oleh putri tunggal mereka.
Pada akhirnya Limpo menghunuskan serta menancapkan ujung badik di perutnya, sebagai tindakan karena ia tidak mampu mengemban tugas untuk memulihkan Siri’  yang menjadi aib bagi keluarga Karaeng Tiro dan agar badik I La Sanrego dapat kembali masuk kedalam sarungnya karena telah melaksanakan yaitu dengan meneteskan darah. Selesai.
Film ini sangat bermanfaat karena film ini dapat menjadi penjelasan bagi masyarakat diluar sulawesi selatan yang mengaggap masyarakat Bugis-Makassar sebagai suku yang kasar bahwa masyarakat Bugis-Makassar tidak akan melakukan tindakan anarkis tanpa sebab, suku Bugi-makassar akan bertindak keras apabiala menerima perlakuan yang tak semestinya karena kami masyarakat bugis makassar menjungjung tinggi Siri’ na pacce sebagai falsafah yang harus diterapkan.
Tapi, dalam penggarapan film ini tentunya ada kekurangan seperti penggunaan beberapa kata berlogat yang agak aneh ditelinga orang bugis-makassar, hal ini dapat dimaklumi karena tidak semua pemeran berasal dari lokasi yang melatar belakangi film ini. selain pengunaan logat, cara memegang senjata tradisional badik juga salah.
Film ini layak ditonton bagi seluruh masyarakat indonesia. Bagi masyarakat di luar sulawesi selatan dimaksudkan agar mengetahui adat masyarakat sulawesi selatan yang menjungjung tinggi budaya siri’ na pacce. Bagi masyarakat sulawesi selatan khususnya suku Bugis-Makassar agar kembali memperdalam dan menghayati makna siri’ na pacce yang mulai tergeser akibat arus modernisasi. (http://andijaya27.blogspot.com/)

Silariang



Cerpen Khrisna Pabichara
I
Pernahkan kamu berhasrat melakukan sesuatu, tapi tak berdaya sama sekali? Begitulah suratan yang kujalani saat ini. Takdir mengajariku tabiat pantang menyerah, namun takdir pula yang mengunjukkan padaku pedihnya berpasrah. Rasanya tak perlu kita perdebatkan hakikat sabar, menyimpang terlalu jauh dari ruh cerita ini. Karena aku selalu tak yakin bisa bersabar, atau ikhlas, atau apa pun namanya segala wujud kepasrahan atau malah ketakberdayaan itu. Toh tak ada bedanya, tak mengubah garis nasib.
Apakah perlu kusebut nama gadis yang aku cintai itu? Jika kamu memintanya, baiklah, namanya Aisha Arissa Ashalina. Namanya cantik, bukan? Pernah, sekali waktu, aku iseng mencari arti namanya di kamus nama-nama indah, dan kutemukan makna namanya yang ternyata memang indah: putri yang cemerlang dan penyayang. Ia gadis tercantik di kampungku, tapi kecantikannya pudar tersebabkan takdir yang tak bisa diubahnya; ia putri pengusaha kaya, musuh bebuyutan keluargaku.
Sementara aku, Syarifuddin Tola, seorang karaeng tikno, bangsawan Turatea, tak diperkenankan menikah dengannya; betapapun cantik, alim, dan cerdasnya. Itulah muasal cerita yang kudaras ini.
II
Baiklah. Sebaiknya kututurkan dari mana bermula renjana ini. Sesungguhnya hubungan kami berlangsung sudah sangat lama, sejak kami masih kanak. Usiaku terpaut tak jauh beda darinya, hanya berselisih satu tahun.
Riwayat mencatat, dahulu, Bapaknya pernah melamar adik Bapakku. Bisa ditebak, lamaran itu ditolak mentah-mentah. Limpahan harta tidak serta-merta melunakkan hati Kakek. Bermula dari sana dendam itu tergurat.
Mereka memandang kami, keluargaku, pewaris lapuk kejayaan purba. Sedangkan keluargaku melihat mereka puak yang maruk harkat. Maka, kesumat itu terajut diam-diam, laiknya arus sungai yang tenang; di permukaan tampak diam, di bawah terus bergolak.
Oh ya, keakraban kami di masa kanak tak pernah jadi masalah bagi keluargaku, tidak juga bagi keluarganya. Mungkin karena mereka mengira kami masih kecil dan semua keakraban itu sebatas keintiman kanak-kanak. Ternyata dugaan mereka keliru, lambat laun keakraban itu terasa membahagiakan, setiap bersamanya aku merasa sangat hidup, menjelang dewasa, aku mulai merasa asing setiap jauh darinya, karena rindu yang indah meski sangat menyiksa.
Dan, tahukah kamu apa yang paling membahagiakan bagiku saat itu? Ia ternyata memiara perasaan yang sama. Resmilah kami menjadi sepasang kekasih. Semakin hari semakin dalam cinta itu menyelusup ke dalam hati kami. Pasti kamu menduga kisah kami berjalan mulus. Tidak. Bukan itu yang terjadi. Aku tak mengira Karaeng Sijaya, kakak sulungku yang pendiam, ternyata sejak lama memata-matai kami. Suatu sore, sesaat selepas berpisah dengannya di Kassi tempat rekreasi paling meriah di kampungku, Karaeng Sijaya berdiri kukuh seperentang lengan saja di hadapanku.
“Kamu tak bisa mengubah riwayat, andi’…” katanya ketika ia, gadis yang kucintai itu, perlahan menghilang.
“Bagaimana mungkin mereka bakal menerima pinanganmu?”
“Riwayat sudah tamat, daeng….” Kakakku itu tersenyum lembut, kemudian berkata,
“Aku tidak mau kamu terluka, andik, dalam tubuhmu mengalir darah bangsawan. Apa jadinya jika kamu dinistakan?”
Sejak itu aku tak banyak bicara, meski masih terus berharap.
III
Kami tak mudah lagi berjumpa. Ia jadi gadis pingitan. Sedangkan gerak-gerikku diawasi sepanjang hari. Tak ada lagi tawa bahagia, tak juga tatapan mesra. Dunia berbalik tigaratus enampuluh derajat. Setiap hari aku peras otak untuk menyusun siasat, hasilnya selalu sama; nihil.
Tak ada yang paling menyakitkan selain merasa tak berdaya. Dan, aku mulai gila. Benar-benar gila. Aku tidak berharap banyak, sungguh, aku hanya ingin menatap bening matanya, sekali saja, dan cukuplah itu bagiku.
Tahukah kamu apa buah dari keganjilan sikapku itu? Bapak dan Ibuku melunak. Pun begitu kerabat yang lain, termasuk kakakku, Karaeng Sijaya. Lalu, tiba satu hari mereka bermufakat hendak melamar Aisha – gadis impianku itu – untukku. Duh, bahagianya! Aku tahu itu bukan perkara mudah, bukan semata ritual lamar-melamar, melainkan pertaruhan harga diri dan nama baik keluarga. Tapi, itu juga membuktikan, betapa sayang keluargaku kepadaku. Tibalah malam bahagia, sekaligus mengerikan itu. Aku dan sanak-kerabat bertandang ke rumahnya.
Sepanjang jalan aku terus memikirkannya, gadis yang aku cintai selama bertahun-tahun itu. Ia tak tergantikan oleh siapa pun. Kapan, dan di mana pun.
Aku rindu hangat senyummu. Ternyata, malam itu, ketika keluargaku sepakat meminangnya sebagai pendamping hidupku, seperti telah ditilik sanak-kerabat, jadi pergi segala petaka.
“Apa?
Mahar seratus juta?” seru kakakku, juru pinang keluargaku malam itu.
“Ya!” “Semahal itu?”
“Ya!”
“Kami tidak punya uang sebanyak itu. Belum lagi biaya hajat, beli kuda, dan kerbau. Bagaimana kalau limapuluh juta saja?”
Bapaknya tersenyum sinis, “Ah, hanya sebatas itu kuasa keluarga bangsawan?”
“Tidakkah Bapak memikirkan perasaan mereka, Tola dan Aisha?” “Apakah keluargamu dulu memikirkan perasaanku dan perasaan keluargaku?”
Pinangan itu berakhir buntu karena dendam yang menyungkupi hati. Sungguh, aku dengar isak-tangis dari bilik kamarnya, lamat dan lirih, tapi pedihnya menyelusup hingga rongga hati. Sebaiknya kamu tahu, tradisi di Turatea, kampung kelahiranku, memperlakukan perempuan semena-mena; ditakar lewat setumpuk rupiah berdasar kecantikan, derajat, atau ilmunya. Semakin cantik semakin mahal, semakin tinggi derajatnya semakin mustahil mahar yang harus ditebus untuk meminangnya. Pahitnya, itu pula yang ditimpakan takdir padaku!
IV
Di awal kisah telah aku tuturkan padamu, bahwa takdir mengajarkan tabiat pantang menyerah padaku. Begitulah adanya. Setelah berbagai helat kucoba, akhirnya kami bersua juga. Sungguh, luar biasa. Kamu tahu di mana? Aku bertemu di kolong rumahnya setelah ia turun lewat pintu belakang, supaya tidak bingung, aku beritahukan padamu, rata-rata rumah di kampung kami berbentuk panggung, tepat ketika keluarganya sedang riuh menonton tivi di ruang tamu. Lama sekali kami larut melunaskan rindu yang tanak lewat hangat senyum. Hingga kami sadar waktu berjalan amat cepat.
“Kamu harus pulang, daeng…” desahnya di sela isak tertahan.
Sedetik membayang jalan pintas yang menjanjikan untuk kami sasar. “Selalu ada jalan,” ujarku takzim.
Matanya mengerjap, kebingungan. “Jika semua pintu tertutup, masih ada jendela untuk kita lewati.” “Silariang?”
Aku mengangguk dengan pasti. Aku tahu ini pilihan sulit. Orang-orang di kampung kami menamakannya silariang. Kamu boleh menyebutnya kawin lari. Hanya saja, kawin lari di sini tidak semata melarikan diri lalu menikah di kampung orang. Tidak sesederhana itu, kawan. Ketika silariang itu terjadi, berarti mencoreng aib di kening kerabat keluarga sang gadis. Dan, aib itu berarti siri’, harga diri tak terbeli, yang harus ditebus dengan nyawa. Sementara keluarga lelaki yang ditinggalkan akan menanggung pacce, malu tak terperi. Tapi, bukankah jodoh harus diperjuangkan?
Ia, juga aku, memilih pergi. Bersama.
V
Dan, tahukah kamu apa yang terjadi sesudahnya? Kami berjalan merambah kebun, meniti jalan di bawah kerlip bintang.
Rasanya seperti mimpi. Membahagiakan, dan mendebarkan. Menerobos gelap, ditelikung cemas, dilayangkan mimpi. Tubuh kami mmbubung ringan, seolah tak menjejak tanah. Di benakku membayang keindahan masa depan, menggusur percintaan masa lalu yang suram. Sebentar lagi cinta kami tunai, dan derita ini bakal usai.
Hingga….
“Berhenti!”
Suara itu bak petir menyambar-nyambar telinga, memilin-milin ulu hati. Lihat! Tiga tombak di depan kami berdiri tegap Arwan Arsuka, kakak Aisha, gadis yang mengkerut di punggungku. Andai saja kamu ada di sini, pasti kamu bisa melihat betapa piasnya wajah kami, tak lebih cakap dari kucing kuyup yang kedapatan maling ikan. Sepertinya semua harapan kami bakal buyar lagi. Aku nekat melawan, tapi, sungguh, baru kali ini aku sesali nasib mengapa tidak pernah serius belajar mancak, silat aliran Turatea, sehingga aku bisa membela diri dan melindunginya.
“Beginikah caramu memperlakukan perempuan? Ketika tak kuasa membayar uang mahar, kamu paksa Aisha silariang. Kamu pecundang, Tola!” hardiknya. Ia menjerit lirih ketika tangannya ditarik kakaknya dengan kasar. “Kak…”
“Pulang…, kamu tak bisa menjaga nama baik keluarga!”
Rasanya dunia tiba-tiba kiamat. Dan, riwayat ini segera tamat.
VI
“Lepaskan Aisha, Arwan. Atau kamu harus berhadapan denganku!” Tiba-tiba suara lain menyentak pendengaranku. Aku kenal suara itu, ya, itu kakakku. Lagi-lagi, andai saja kamu berada di sini, menyaksikan rentet peristiwa ini, pastilah kamu melihat betapa cerah wajahku. Betapa tidak, Karaeng Sijaya, kakakku yang pendiam itu, menantang Arwan berduel dengan sangat elegan. Dan, kakakku menoleh padaku, memberi isyarat agar aku segera menuntunnya meninggalkan tempat itu. Selekas-lekasnya.
Bagaimana menurutmu? Apakah aku harus pergi atau tetap di sini menyaksikan kesudahan yang bakal terjadi? Oh, baiklah, aku akan turuti saranmu. Kamu benar, tak baik menyia-nyiakan peluang. Terima kasih, kawan. Aku dan gadis yang kucintai itu perlahan menjauh dari pertarungan dua lelaki yang mempertaruhkan harga diri; yang satu demi nama siri’; dan nama baik keluarga, satunya lagi demi pacce dan cinta sepasang manusia.
VII
Di sinilah kami hari ini. Di pinggiran Jakarta. Sudah lima tahun sejak silariang itu terjadi, belum juga keluarganya mengikhlaskan dan merestui pernikahan kami. Berkali sudah keluargaku datang menjenguk, terutama kakakku, namun keluarganya belum juga datang bertandang. Meskipun kami sepakat, bahwa keluargaku adalah keluarganya juga.
Tapi, keluarganya tak kunjung menerimaku. ***
* Jakarta, Februari 2010
(http://sawali.info/)

Selasa, 30 September 2014

Penjudi Terkaya di Kota


Semua penduduk kota tahu belaka, kekayaan orang terkaya di kota, Sugiarta, didapat dari Judi. Sepakbola adalah ajang yang paling sering menjadi objek judinya.
Awalnya, Sugiarta hanyalah pemain judi kecil-kecilan. Sampai suatu kali, Ia memasang taruhan pada kesebelasan favoritnya. Di piala dunia 2006, ia menjagokan Italia. Menjual sepeda motor sebagai modal taruhan. Mujur baginya, Italia keluar sebagai juara. Ia menang besar. Meraup untung yang lumayan.
Keberuntungannya terus berlanjut ketika Tim Favoritnya, Inter Milan semakin menggila beberapa tahun belakangan ini. Uang kemenangan hasil judinya semakin bertumpuk. Ia gunakan sebagian untuk membangun rumah, sisanya lagi digunakan untuk membangun kerajaan, ia menjadi Bandar Judi.
“Feeling nya bagus sekali, aku curiga ia main dukun, masa tebakannya tepat melulu!” Begitu kira-kira komentar warga tentang kemujuran Sugiarta dalam judi bola.
“Ya dia pasti main dukun. Kemujurannya keterlaluan”
“Namanya Sugiarta. Sugih Harta, dalam bahasa jawa, artinya kaya harta. ini berpengaruh tidak pada peruntungannya?”
“Tidak! banyak nama sugiarta lain yang kukenal, mereka kere! Sugiarta yang satu ini pasti main dukun!”
Perbincangan itu terjadi di sebuah Cafe pada suatu malam beberapa tahun yang lampau, saat Sugiarta baru mulai merintis bisnis Judinya. Perbincangan yang diikuti oleh orang-orang paling kaya di kota. Salah satu yang terlibat dalam percakapan malam itu adalah Dayat, musuh besar Sugiarta.
“Aku tidak percaya klenik” Kata Dayat tiba-tiba, menghentikan perdebatan itu.
“Aku akan bungkam dia dengan caraku” lanjut Dayat.
*****
Sugiarta sedang berada di rumahnya yang megah. Rumah berpagar tinggi dengan pos satpam di halaman, menjaga keamanan rumah. Duduk ia di teras depan rumah, ditemani Karni, istrinya yang makin hari makin cantik saja penampilannya. Menikmati senja sambil mengamati rumput hijau di pekarangan rumahnya yang luas.
“Rumah kita ini masih bisa dibangun lagi, Pak. Dibikin rumah bertingkat” Ujar Karni sore itu.
“Buat apa, kita toh belum punya anak?”
“Biar terlihat makin megah gitu, Pak”
“Ah, Rumah ini juga sudah cukup mewah, kok, Bu. Kokoh dan penuh lukisan mahal”
Lukisan, adalah salah satu hal yang banyak menyedot harta Sugiarta. Dia suka pergi ke Galeri-galeri lukisan, mengunjungi pameran, mengangguk-angguk ketika mendengarkan penjelasan tentang pelukis ini pelukis itu, sekalipun sesungguhnya tidak mengerti. Yang ia Pahami, Dayat, orang yang juga termasuk paling kaya di kota, gemar menyambangi pameran semacam ini.
Sugiarta merasa puas bila mengalahkan penawaran Dayat di pelelangan Lukisan. Dengan begitu, ia merasa mengungguli kekayaan Dayat. Sebaliknya Dayat merasa sakit hati bila penawaran yang ia lontarkan di acara-acara lelang hampir selalu dikalahkan oleh Sugiarta.
Pernah suatu kali, mereka berdua bertarung untuk mendapatkan lukisan dari pelukis baru yang belum punya nama. Lukisan yang mereka berdua tak tahu dimana letak keindahannya. Dayat membuka pertarungan dengan tawaran dua puluh juta rupiah. Seketika ruang di balai lelang itu senyap. Dua puluh juta untuk lukisan tidak terkenal. Ketika juru lelang mulai mengumandangkan hitungan, Sugiarta menukas. “Duapuluh lima Juta!” teriaknya. Dayat tak mau kalah, tawarannya dinaikkan lagi.
Begitu terus, dua orang ini saling berusaha mengungguli.
Juru lelang menghapus keringat didahinya dengan saputangan. Tawaran terakhir, delapan puluh juta rupiah yang dilontarkan Sugiarta tidak mendapat perlawanan. Harga yang terlalu tinggi untuk sebuah lukisan yang entah siapa pelukisnya. Bagi Sugiarta, ini tidak penting. Yang penting adalah, semua orang tahu, siapa orang yang paling kaya di kota.
Dia yang paling kaya, yang mau menghamburkan uang untuk sebuah lukisan yang tidak jelas juntrungannya, itu standar yang dipakai oleh Sugiarta.
Perseteruan Dayat dan Sugiarta ini mulai terjadi ketika Sugiarta mulai merintis bisnis Judi bolanya. Dayat yang lebih dulu mengawali bisnis ini merasa dilangkahi. Ada orang yang berani membuka lahan yang sama di wilayah yang ia kuasai. Maka Dayat pun menyewa Mat Gedor, tukang pukul paling ditakuti di kota, memerintahkannya untuk meneror Sugiarta. Tiap malam, Mat Gedor menyatroni kediaman Sugiarta, yang kala itu belum berpagar setinggi sekarang, dan belum ada satpam di pelatarannya.
Sugiarta belum tahu soal ini ketika pada suatu malam kira-kira pukul sebelas, pintu rumahnya diketuk dengan keras. Ketika dibuka, terkejut ia mendapati sesosok Mat Gedor yang tinggi besar bertampang sangar menyeringai lebar tepat didepan mukanya.
“Kau yang namanya Sugiarta, heh?!”
Sugiarta mengangguk pelan, ia tak sanggup menjawab. Kata-katanya terhenti diujung lidah yang kelu.
“Mulai besok, kau musti tutup bisnismu!”
“Bisnis apa?” Sugiarta memberanikan diri bertanya.
“Bisnis Judi Bolamu! Tolol!” Bentak Mat Gedor.
“Itu.. eh.. anu.. kenapa?” tanya Sugiarta panik. Dibentak oleh seorang sekasar dan sesadis Mat Gedor, memang membuat nyali ciut seketika.
“Karena itu wilayah Bos Dayat! Kalau kau masih nekat juga, ku bikin mampus kau sekeluarga!”
Ancaman dari seseorang seperti Mat Gedor, mau tidak mau harus dituruti. Ia terlihat sangat serius waktu mengucapkan niatnya untuk menghabisi Sugiarta sekeluarga. Ancamannya bukan ancaman kosong. Tangan Mat Gedor sudah terlampau sering memakan korban. Sugiarta pun menuruti saran Mat Gedor. Menutup Bisnis Judinya. Saat itu, Sugiarta merasa keberuntungannya telah habis. Sampai akhirnya ia bertemu dengan Atmaja.
Atmaja, seorang pemuda kurus berkacamata, jika bicara sepatah-sepatah, selalu gugup. Sugiarta bertemu dengannya di sebuah warung internet (warnet) di dekat rumahnya. Sejak kejadian Mat Gedor itu, Sugiarta memang jadi lebih suka memasang taruhan judi secara On Line. Ia suka mengunjungi situs-situs judi bola.
Dari situ, kemujurannya perlahan kembali. Ia hampir selalu menang, tebakannya hampir selalu tepat. Atmaja sendiri adalah seorang pecandu Game Online. Tipa malam menghabiskan waktu di warnet untuk bermain game, mendapatkan uang dari menjual karakter game, atau item-item yang dibutuhkan oleh para pemain game. Atmaja dengan mudah mendapatkan item-item tersebut. Ia bisa membobol database server game tersebut.
Suatu kali kemampuan Atmaja membobol database ini sampai juga ke telinga Sugiarta. Ia membayangkan, dengan bantuan Atmaja, database server situs judi itu bisa ia ubah sesuka hati, mentransfer sejumlah nominal tanpa perlu berdebar-debar menanti hasil pertandingan.
Maka pada suatu kesempatan yang baik, ketika penjaga warnet telah tertidur, dan pengunjung warnet tinggal mereka berdua, Sugiarta memberanikan diri menghampiri Atmaja. Berbasa-basi sebentar, lalu mengutarakan maksudnya. Ingin mengajak Atmaja bekerja sama membobol database server situs judi langganan Sugiarta. Ajakan yang dijawab Atmaja dengan cibiran.
“Kalau saya sih, lebih suka bikin situsnya, jadi bandarnya” Kata Atmaja sambil tetap menatapi layar monitornya.
“Itu sih sudah jelas, Nah, masalahnya, saya tidak bisa bikin, dan saya dengar kamu bisa membobol database” tukas Sugiarta.
“Saya bisa bobol, saya juga bisa bikinnya pak” kata Atmaja lagi.
Mata Sugiarta berbinar-binar. Ia merasa sedikit malu, kenapa hal ini tidak terpikirkan sebelumnya. Menjadi bandar judi online, ini tentu lebih menguntungkan daripada mengambil sedikit-sedikit nominal dengan membobol database.
Dengan naluri penjudi yang ia punya, Sugiarta segera mencatat kontak Atmaja, menjadikannya rekan bisnis, dan dimulailah lembar baru itu. Ia gelontorkan sisa dana yang ia punya untuk membangun situs judi bola.
Satu semester berjalan, dan situs judinya itu sudah mulai menarik banyak pengunjung. Melampaui bisnis yang dibangun Dayat sejak lama, sebab bisnis Sugiarta kali ini, tidak terbatas ruang dan waktu. Mereka yang memasang taruhan di situsnya, berasal dari berbagai penjuru dunia.
Sejak saat itu, Sugiarta menjelma sebagai Orang kaya baru di kotanya. Dayat hanya bisa memandang iri, tidak bisa lagi ia menyuruh Mat Gedor untuk menggertak Sugiarta, karena Mat Gedor kini tunduk pada perintah Sugiarta. Bayaran yang ditawarkan Sugiarta jauh lebih tinggi.
Beruntung bagi Dayat, Sugiarta tidak menyimpan dendam, ia tidak memerintahkan Mat Gedor untuk mengancam Dayat. Kalaupun menyimpan dendam, ia lampiaskan dendamnya itu dengan membungkam Dayat di pameran-pameran lukisan.
***
“Jadi pak, bagaimana, rumah kita ini ditingkat saja ya? biar makin megah” Ucapan Karni membuyarkan lamunan Sugiarta.
“Bukannya tadi sudah aku bilang tidak perlu?”
“Ah..” Karni merengut kecewa.
“Jangan suka cemberut begitu, nanti cepat tua” Sugiarta tertawa menanggapi istrinya yang cemberut.
Kata-kata Sugiarta yang menegaskan bahwa merevonasi rumah adalah tidak perlu sepertinya cuma angin lalu. Satu bulan sejak percakapan sore itu, rumah itu dibongkar, dibangun ulang, melibatkan arsitek terbaik dikota untuk mengepalai proyek.
Sementara rumahnya direvonasi, Sugiarta dan Karni berlibur ke berbagai negara, sebulan lamanya. Karni tidak tahu mengenai rencana renovasi rumah ini. Sugiarta membayangkan bagaimana senangnya Karni nanti sepulang liburan nanti, rumahnya berubah wujud, menjadi rumah bertingkat seperti keinginannya. (http://kisahfiktif.wordpress.com/)

Selasa, 02 September 2014

Gerobak Kehidupan dan Mawar Surga*)




(Elegi Seorang Pemulung)


Luluh lantak sudah qalbu Atmo
Mulut pun tiada terucap
Getir terasa perih
Pedih tiada sedih

Kakinya terus melangkah
Menyusuri jalan ramai
Tak hirau hiruk pikuk
Langkah demi langkah

Berselimut sarung kumal
Digendongnya jasad kaku itu
Dengan selempang selendang
Menyilang di dada tak lagi berdaging
Menuju peristirahatan akhir

Lengan satunya menggamit jemari mungil anak lelakinya
yang berbaju lusuh dan kaki penuh luka
terseok-seok mengikuti langkah sang ayah
langkah yang entah di mana bakal berhenti

Dalam hati yang risau dan galau
Pikiran yang kacau menceracau
Atmo membawa-bawa jasad anak bungsunya
yang baru saja berpulang
dengan gerobak kehidupan
gerobak nomad di metropolitan
ibukota yang tak ramah pada kaum papa
saat datang dan ketika pulang

Atmo terus menghela gerobak
Di antara kisi-kisi
Orang-orang kota nihil peduli
Hanya menonton tragedi
Nestapa kaum duafa di panggung tonil
Di tengah deru mobil tak bertepi

Matahari sepenggalah naik
Terlintas di benak Atmo
bawa jasad anaknya
ke kampung halaman
yang masih penuh sapa ramah


Kaki Atmo terhenti di mulut stasiun
Tiada sepeser pun rupiah di kantong
Menatap kereta rakyat
Penumpang sampai atap-atap
Antar Atmo dan jasad anaknya
Ke kampung halaman
Di pinggiran Citayam

Atmo meraih jasad anaknya
yang berselimut sarung kumal
dengan selempang selendang
menyilang di dada tak berdaging
Tinggalkan gerobak kehidupan
Demi kewajiban kifayah

Penarik karcis sinis menghardik1)
Sarat syakwasangka
Buka selempang selendang
Jasad anak kecil pulas  
Nyenyak tak bergerak
Tanpa embusan nafas

Penarik karcis bertanya:
Anak mati mau dibawa ke mana

Atmo menjawab:
Mengubur anak di kampung halaman

Atmo sadar betapa sulit
Mengubur anak manusia di belantara Jakarta
Buat orang-orang tiada KTP “Monas”2)
orang-orang nomad dalam gerobak kehidupan
menggelandang tanpa arah dan tujuan

pun Atmo tahu
betapa mahal mati di metropolitan
bisa jutaan rupiah
(kecuali dikubur dengan nisan tak dikenal)3)
Atmo tak punya apa-apa
Orang dilarang sakit
Dilarang pula mati
Hidup susah mati juga tak mudah
Pulang kepada-Nya pun penuh liku
Jakarta hanya buat orang berduit
Duit tukang mandi jenazah
Duit tukang gali kubur
Duit retribusi kubur
Duit ambulance
Duit tukang doa
Duit liang lahat  ...

Penarik karcis terus menghardik
Menyeret Atmo ke pos polisi
Urusan jadi panjang
Jasad anaknya harus dibawa ke rumah sakit
Dibedah dicari penyebab kematiannya

Atmo tercenung di pintu kamar jenazah
Tak tega lihat jasad anaknya dibedah
Jadi obyek percobaan calon-calon dokter

Niat Atmo sederhana saja
Ingin menguburkan jasad anaknya
di tanah gembur kampung Citayam

Atmo tak habis pikir
mengapa harus berputar-putar
di antara nasib dan takdir
rangkaian jalan yang mengular

***

Di mulut kamar mayat Atmo terdiam
Hatinya tersayat sembilu
Air matanya mengering
Atmo dalam kesendirian
Ditemani anak lakinya yang belum berbenak
Tak tahu harus berbuat apa
Kala kepedulian sirna

Atmo masih tergeming
Menerawang ke masa silam
Saat masih bersama sang isteri
Cita-citanya sangat sederhana
Sesederhana cara hidupnya
Hidup bersama sang isteri
Di rumah kecil di pinggir kali
Sekadar hidup bersahaja
Lengkap kehadiran dua anak
Buah cintanya dengan sang isteri

Terkenang dua buah hatinya
Bermain kecipak air kali
Penuh canda ria
Penuh curahan kasih Atmo dan isteri
Dalam biduk yang teramat sederhana
Ya, Atmo hanya buruh tani
sekolah cuma sampai angka tiga
Hidup pun bersandar pada pemilik sawah

Atmo harus banting tulang
Demi sepiring nasi
‘Tuk melanjutkan kehidupan
di gubuk kecil di pinggir kali
dapur dan tempat tidur menyatu
yang bukan miliknya

Kehidupan di desa tak seperti masa lalu
Lahan sawah luas membentang
Kini sawah terus menciut
Berganti perumahan dan kawasan industri
Petani kian terjepit
Jual sawah lalu berdagang

Atmo kehilangan lapangan penghidupan
Kebisaannya cuma mencangkul
Sawah terus menyusut
Buruh tani bertambah-tambah

Atmo terdesak
Kebutuhan hidup membubung
Dua anaknya kerap merengek
Menahan perut keroncongan
Hidup begitu sulit

Nun jauh di kota terus menggoda
Mencari uang lebih gampang
Atmo mengambil keputusan
Meninggalkan desa nan tenteram
Menuju kota tanpa asa

***

Tekadnya membatu
Gubuk kecil di pinggir kali ditinggalkan
Bawa uang alakadar
Berharap berkembang di kota nanti
Isteri dan dua anaknya dibawa serta

Atmo tak tahu hendak tinggal di mana
Tak punya kerabat di kota
Untuk menumpang barang sejenak

Menuju pinggir Ciliwung
Gubuk sepetak untuk berempat
Milik Ibu Sri di daerah berjejal
Panorama air kali coklat
kadang hitam pekat
Tiada tempat bermain anak

Atmo ingat pesan mertua:
Bekerjalah sebagai wujud rasa syukur
Tapi, dia tak punya bekal ijazah
buat kerja kantoran
Jadi buruh bangunan pun tak lagi kuat

Kata orang:
Di kota apa saja bisa dijual
gelas mineral bisa jadi duit
bungkus tivi jadi fulus
asal mau tahan malu
Atmo lalu kumpulkan barang bekas
yang terbuang tak berguna
Memungut dari bak sampah
Mengambil di sepanjang jalan
Dari rumah ke rumah
Dari gang ke gang
Memulung
Memasukkan ke keranjang di punggung
Sejak fajar sampai mentari tergulung

Tiada pilihan lain
Cuma memulung barang bekas
Tanpa mesti terampil
Mudah dan cepat datangkan duit
Meski kadang ada caci
maki orang yang terganggu
Kaki pemulung di subuh hari

Atmo ikhlas menerima
Ditanggalkannya buruh tani
Dilepaskan pula cangkul
Berganti gancu
dan gerobak kehidupan 

Sang isteri tampak gelisah
Hasil jualan barang bekas tak pernah cukup4)
Ingin rasanya membantu suami
Khawatir anak terlantar
Apa daya
cuma bisa berkeluh-kesah

Gubuk sepetak di pinggir Ciliwung habis kontrak
Atmo termenung
Hasil sehari habis buat makan
Suara tagihan selalu terdengar
Mengusik ketenteraman hati
Tak tahan selalu didesak
Atmo memilih hengkang
Hidup nomad
dengan gerobak kehidupan

Atmo, isteri dan dua anaknya
berumah di gerobak kehidupan
Saat kantuk menggelayut
Gerobak jadi tempat tidur
beratap langit lepas
Kala siang kepanasan
Saat hujan pun kehujanan
Tak kenal mandi-cuci-kakus
Kadang makan kadang puasa

Setiap hari Atmo menghela gerobak kehidupan5)
Sesekali berhenti tatkala lelah mendera
Sambil memulung
Mengumpulkan barang bekas
Gerobak sarat tumpukan kertas
Dua anaknya berkasur kardus
Atmo di depan menarik gerobak
Isteri mengawasi di belakang
Membelah deru-debu metropolitan
Pagi
Siang
Malam

Jelang tengah malam
Atmo mencari lokasi
Kadang di pinggir jalan protokol
Gerobak di parkir di trotoar

Atmo duduk di sebelah gerobak
Dua anaknya masih bermain di dalam gerobak
Kadang turun dari gerobak mencari ibunya
Bercengkerama
Sang isteri berada di sebelah Atmo
Berempat mereka menikmati nasi bungkus
Tak ada kerat daging atau paha ayam
Mengusir lapar semalaman

Larut malam
Mobil-motor masih antre panjang
Bergegas pulang ke pinggiran kota
Mesin dan klakson membuat bising
Atmo kosong memandang
Mobil-mobil lalu-lalang

Tak ada yang peduli
Mobil-mobil miliaran
Dengan penumpang bersandang rapi
Dalam renyah raut bahagia

Tak ada yang peduli
pada Atmo beranak-pinak
dalam gerobak kehidupan
Hanya tontonan di pinggir jalan
Sekali toleh setelah itu lupa

Atmo memandang
Orang-orang baru keluar dari rumah makan
bergambar daging di tengah roti bundar
yang tampak kekenyangan
Tak ada yang peduli pada Atmo
pada gerobak kehidupan
orang-orang pinggiran
yang tersingkir

***

Atmo terus memutari gerobak kehidupan
Isterinya tak kuat menahan nestapa
mulai lelah mendampingi
berjalan setiap hari tanpa harap
Di tengah sengat mentari
Kadang diguyur hujan
dibekap embun dinihari

Hari ini makan
Esok belum tentu

Sang isteri bergelut kebimbangan
Di batas sabar, ia berkata:
“Aku ingin mencari penghidupan lain”
Atmo tak ingin berpisah
Dia ingin tetap sehidup-semati

Sampai suatu malam
Tatkala Atmo dan dua anaknya lelap
Diam tanpa pesan
si isteri meninggalkannya
Atmo mencari-cari
Nihil jejak
di rimba belantara kota

Atmo cuma pasrah
Hatinya menangis
Dia lumatkan sumpah serapah
Percuma menyesali diri
Dua buah cintanya lebih utama

Bertiga mereka menelan duka
Sirna kasih ibu memang terasa
Kosongan dari asih ibu
buat puteri bungsunya

Dalam gelimang kehidupan nan kotor
Puterinya diserang diare
Tergeletak tiada daya
Di atas tumpukan kardus
Atmo berlari-lari kecil
Cari-cari sekadar bantuan
Di kantong hanya ada selembar sepuluh ribu
Tak cukup sekadar buat berobat ke Puskesmas
Cukup sekali dibawa berobat
Setelah itu ...

Puteri bungsunya semakin lemah
”Pak ... ,” panggilnya nyaris tanpa suara
”Ya, Nak ... nanti kita ke rumah sakit,” sahut lembut Atmo
Atmo tergeming

Puterinya tak lagi bergerak
Matanya terkatup rapat
”Nak ... nak ...,” Atmo memeluk erat
Agaknya malaikat maut telah datang
Inna lilah wa inna ilaihi rojiun
Atmo menyesali dalam-dalam
Tak bisa berbuat apa-apa
Sekadar membahagiakan puterinya
barang sekejap

Teringat senyum si puteri
Terkenang rengekannya
menangis
tertawa
bermain
tidur
yang tak bakal kembali

***

Di mulut kamar jenasah
Atmo raih kembali jasad puterinya
Dipeluknya jasad itu
Dibawanya keluar
Dengan selempang selendang
di dadanya yang tirus

Di rembang petang
Elegi Atmo tersebar
Gerobak kehidupan selendang kematian
Tersiar ke sudut-sudut kota
Ke telinga pedagang asongan
juru parkir, penjual buah, pengamen
Mereka ikut iba
Dalam keterhimpitan
mereka rela
menyelisipkan recehan
di tangan Atmo

Belum cukup untuk menyewa ambulan6)
Sopir bajaj ingin mengantar
ke mana Atmo berkehendak
Mentari memasuki peraduan
Mustahil Atmo berjalan jauh
ke kampung halaman
untuk mengubur puterinya

Jasad anaknya mesti dikuburkan segera
Atmo kembali ke gubuk pinggir Ciliwung
Dengan bajaj pasti berlalu
Atmo memeluk jasad puterinya
dan menggamit lengan anak lakinya

Atmo berkeluh-kesah
pada Ibu Sri
tentang jasad puterinya
yang terlunta-lunta

Elegi tersebar ke tetangga
Sesama orang miskin
Mereka peduli
Ingat pada kewajiban kifayah
mengurus jenazah
Sekejap dalam kebersamaan
Jasad puteri Atmo
dimandikan
dikafankan
dishalatkan
lengkap mawar dan melati
harum mewangi
Diantar beramai-ramai
sesama orang miskin
Atmo menggendong
jasad berkafan putih
ke peristirahatan akhir

Hari telah gelap
Jasad masuk liang lahat
Adzan berkumandang
Syahdu merindu
Panggilan shalat
Bersama panggilan maut

Terdengar iqomah
Seruan segera mendirikan shalat
Bermunajat pada Ilahi Rabbi
Dalam tulus dan ikhlas

Atmo menitikkan air mata
Jasad kecil berkain kafan ditutup papan
Tanah-tanah berhamburan
Menggunung dengan nisan
“Mawar binti Atmo”
Ditaburi kembang setaman7)

Hari benar-benar gelap
Satu per satu pengiring pergi
Atmo masih terpekur di kubur
Berdoa dalam hati
Ditatapnya nisan kayu

Terdengar adzan isya
Atmo bersyukur
Atmo yakin
Mawar surga telah tenang di alam sana.....


----------------------
*)Puisi ini diilhami oleh kisah pilu Supriono (38), seorang pemulung asal Kampung Kramat, Bogor, Jawa Barat, yang harus menggendong mayat anak, Khaerunisa (3), berjalan kaki dari ‘rumahnya’ di kawasan Manggarai ke Stasiun Tebet (Jakarta Selatan) untuk menumpang KRL lalu menguburkan jenasah anaknya di kampung halaman Kramat, pada 5 Juni 2009.

1)Dalam kisah Supriono, saat memasuki Stasiun Tebet, dia dicegah oleh petugas Stasiun lalu si petugas menyerahkannya ke polisi karena kematian anaknya diduga ada faktor celaka atau kriminal. Dia pun harus melewati administrasi proses otopsi di RSCM Jakarta. Tapi kemudian, Supriono tak ingin anaknya dibedah, petugas RSCM memberikan surat pengeluaran jenasah tanpa terlebih dulu diotopsi.

2) Pemerintah DKI Jakarta memang menyediakan pelayanan gratis bagi orang yang tidak mampu. Dengan syarat meminta surat keterangan tidak mampu dari RT/RW di mana si ahli jenasah berdomisili. Asisten Bagian Kesejahteraan Masyarakat Sekda DKI Jakarta, Rohana Manggala berharap kisah pilu Supriono tidak terjadi lagi, dia berharap pengurusan RT aktif melakukan sosialisasi soal ini. Sementara, Supriono tinggal nomaden antara Manggarai dan Salemba. Ke mana mesti mengurus surat keterangan tidak mampu?

3) Kepala Administrasi RSCM, Ade, menuturkan, secara prosedural mayat tak dikenal yang masuk ke RSCM tidak langsung diotopsi, terlebih dulu menunggu apakah ada pihak keluarga yang melapor atau tidak. Setelah ditunggu 3 hingga 4 hari belum ada pihak orang yang melapor kehilangan anggota keluarganya, jenasah diotopsi untuk diketahui penyebab kematiannya. Kemudian, apabila dalam waktu seminggu belum ada keluarga yang melapor, maka akan dikuburkan oleh Dinas Pertamanan dan Pemakaman DKI. Seluruh hasil otopsi itu disimpan oleh RSCM dan diserahkan pula ke pihak kepolisian sebagai pemohon otopsi. Setiap bulan, Dinas Pertamanan dan Pemakaman meanguburkan sekitar 60 mayat tak dikenal di TPU Pondok Ranggon (Jaktim), TPU Tegal Alur (Jakbar) dan TPU Srengseng Sawah (Jakarta Selatan).

4) Penghasilan pemulung di Jakarta tidak menentu. Sebagaimana penuturan Supriono, kadang dia dapatkan Rp20.000, kadang Rp10.000 dan sering pula Rp0 (karena tidak ada barang hasil pulungan yang bernilai rupiah).

5)Bagi pemulung yang tidak mampu mengontrak gubuk di pinggiran Kali Ciliwung, mereka memanfaatkan gerobaknya untuk tidur dan bermalam di mana saja, saat kantuk menggelayut pelupuk mata di malam hari. Maka mereka menyebutnya sebagai gerobak kehidupan. Seperti pemulung Supriono yang mondar-mandir Manggarai-Salemba, ketika malam tiba, dia memarkir gerobaknya di kolong perlintasan rel KA di Cikini, Jakarta Pusat.

6)Sejak sekitar tahun 2005, banyak organisasi masyarakat, LSM, partai politik dan perorangan yang menyediakan ambulan gratis yang siap mengantar penguburan si ahli jenasah. Namun, banyak warga masyarakat seperti pemulung merasa gamang dan ragu apakah benar-benar gratis.

7)Seperti kisah pilu Supriono dan Khaerunisa, jasad si anak akhirnya dapat dikuburkan di sebuah TPU di wilayah Jakarta Selatan berkat kepedulian orang-orang pinggiran.



Senin, 01 September 2014

Toga Hakim dan Kotak Amal

(Penggalan Catatan Harian Seorang Hakim yang Lurus-lurus Saja)


Majelis meja hijau,
Tanggal tigabelas bulan tiga tahun nol-tiga
Aku sedikit tercenung
Di hadapanku, pagi itu
Tiga kerat singkong
dan seorang nenek tua di kursi pesakitan
Kata si nenek tua:
Satu kerat buat anak yang sakit
Satu kerat buat cucu yang lapar
Satu kerat lagi,
“saya sudah tiga hari tidak makan”
Singkong bukan sembarang singkong
Singkong bermerek Tapioka Andalas
Milik seorang petinggi partai
berdalih memberi contoh
contoh penegakan hukum
Lex dura sed tamen scripta
hukum itu kejam, kaku, dan keras1)
Ujar kaki tangan petinggi partai
kasus ini layak dibawa ke pengadilan

Jaksa pun tak kalah lugas
Bukan tiga kerat yang diembat
tapi singkong mukibat tiga ikat
Ibarat satu kilogram merica dibilang setengah ons2)
Maka, si nenek pantas dibui
kurungan seratus limapuluh hari
dan denda satu setengah juta rupiah

Aku harus mengetuk palu
Sembari memandang nenek di kursi pesakitan
“Saya tidak dapat membuat pengecualian hukum
hukum tetaplah hukum
nenek harus dihukum
Nenek dihukum denda satu juta rupiah
Bila nenek tidak mampu bayar
Nenek masuk bui duaratus hari
Atas nama meja hijau
Saya juga jatuhkan denda limapuluh ribu rupiah
pada tiap orang yang hadir di majelis ini
Karena, saudara-saudara sekalian
membiarkan nenek kelaparan”
Aku buka toga
Aku masukkan satu juta dari dompetku
“Saudara panitera, tolong bawa keliling
toga saya kepada semua yang hadir di sini
Serahkan kumpulan denda buat nenek"
Aku ketuk palu tiga kali

Penuh gerutu
Hadirin majelis satu per satu
Tidak terkecuali manajer Tapioka Andalas
yang tersipu malu
jatuhkan kertas nominal limapuluh ribu
Togaku pun penuh kertas nominal
Terhitung dua juta limaratus ribu rupiah
Nenek tua itu langsung bayar denda
Lalu pulang
bawa senyum buat anak dan cucu

OoO

Majelis meja hijau
Tanggal tigabelas bulan tiga tahun nol-lima
Aku sedikit dibuat jengah
Di hadapanku, pagi menjelang siang itu
Dua pasang sandal jepit (belel) harga ratusan ribu
dan seorang kakek di kursi terdakwa
Tutur si kakek tua:
Limabelas tahun sudah
Saya menyiangi rumput
pada keluarga pengusaha permata
Terkadang
Ketika penagih utang datang
Saya mesti berbohong
‘maaf ibu sedang memburu barang antik’
Waktu dua cucu saya minta sandal
Ibu memberi dua pasang sandal
Satu model buaya satu lagi model dinosaurus
Waktu pesta diskon di mal
Satu pasang dibanderol tigaratus ribu

Jaksa pun berujar:
Suatu malam yang gulita
Kakek pulang ke rumah kontrakannya
Majikan mencari-cari
Minta ditemani
Di tengah sunyi sendiri
Kakek tidak kunjung datang
Majikan menyusul dalam kesal
Melihat sandal buaya dan sandal dinosaurus
‘Kek, ini kan sandal anak saya
Di mana segenggam berlian,
sekantong sop buntut dan sebotol obat kumur’
Maka kakek layak dibui
kurungan seratus delapanpuluh hari
dan denda satu juta rupiah

Aku harus mengetuk palu
Sambil memandang kakek yang terus menunduk
Kataku jelas:
Memperhatikan pengakuan saksi
Dua pasang sandal apresiasi pengabdian
Atas nama meja hijau
Kakek bebas dari segala bentuk tuntutan hukum
Ongkos perkara duaribu limaratus rupiah
dibebankan kepada saksi pelapor

Jaksa langsung kasasi mahkamah yang agung
Minta kakek tetap dibui kurungan seratus delapanpuluh hari

Beberapa bulan berselang
Aku diangkat menjadi hakim yang agung
dan mahkamah yang agung tetapkan tiga hakim
tangani perkara kakek dan dua pasang sandal
Majelis kasasi lalu bersidang
Aku jadi ketua majelis mahkamah yang agung
Pendapatku:
“Kakek bebas dari segala tuntutan
dua pasang sandal itu pemberian majikan
Kasasi yang diajukan jaksa tidak dapat diterima
niet ontvankelijke verklaard”
Pikiran kolegaku:
“Kakek bersalah mencuri
Segenggam berlian itu bukan milik kakek”
Benak kolegaku yang satu lagi:
“Kakek bersalah mengambil tanpa hak
obat kumur itu milik majikan.”
Majelis kasasi menjatuhkan vonis3)
Putusan pengadilan tingkat pertama batal
Kakek mesti hidup di bui seratus delapanpuluh hari

Kakek telah berpindah tinggal
Jauh dari rumah majikannya yang pengusaha permata
Bahkan, melintas batas kota
Menikmati hari tua
Bercengkerama bersama anak-cucu
Tiba-tiba
Datang sepucuk surat
Kop mahkamah yang agung   
Mengabarkan kakek harus masuk bui
Sontak kakek rebah
Di pundak si cucu
Diam membisu
Raut wajah membiru
Pada akhir batas waktu

OoO

Majelis mahkamah yang agung
Tanggal 13 bulan tiga tahun nol-sembilan
Aku dan dua kolegaku
seonggok memori kasasi
atas putusan pencemaran nama baik
curahan hati lewat dunia maya
Pengadilan negeri putuskan salah
Enam bulan bui dengan percobaan
si pencurah hati yang kecewa
pada pelayanan rumah sakit
Aku yakin
Si pencurah hati tidak salah
Dia cuma curhat
pada batas komunitas dunia maya
Kolegaku yang ketua majelis
dan satu rekan anggota majelis berbeda
Si pencurah hati terbukti
cemarkan nama tenar rumah sakit
meski di komunitas terbatas
Majelis pun ketuk palu
Si pencurah hati
Mesti hidup di bui 200 hari
dengan 400 hari masa percobaan

Dengan gontai aku balik
pada rumahku yang mungil
di kaki bukit Ciragil
Isteri t’lah menanti
(kali ini) dalam tanda tanya
Selembar cek baru saja dia terima
bawah nama klinik ternama 
“Ma, pulangkan saja pada yang punya”

OoO

Majelis mahkamah yang agung
Tanggal 13 bulan tiga tahun sepuluh
Kembali aku dan dua kolegaku
Seonggok memori peninjauan
Atas vonis 15 tahun penjara pembunuh artis
dengan lagak overdosis
Tidak salah lagi, pikirku
Racikan yang membuat kulit biru
Si artis memasuki batas waktu
Sang pembunuh lama meramu
15 tahun singkat terlalu
Seumur hidup lebih patut
Benak dua kolegaku anggota majelis
Si artis (memang) pengguna narkotik
ketergantungan yang merakut
senantiasa berlebih
mendekati bibir ajal
Sang pembunuh
Di waktu dan tempat
yang tidak tepat
Tak sepantasnya 15 tahun dibui
Majelis memutus
Cukuplah 8 tahun
Sang pembunuh di balik jeruji

Rasa keadilan terkoyak
Ingin rasanya berontak
Pada sistem yang retak
Nurani yang nihil watak

Ah, gelayut pesimis
Pulang saja ke rumahku yang mungil
di kaki bukit Ciragil
Isteriku kembali mengagetkan
Segepok amplop tunai
Lembaran-lembaran
“I Gusti Ngurah Rai”4)
Tiada alamat jelas
Aku berkerut kening
Haruskah tanya Ayu Tingting
Tercetus ide sinting
Masukkan amplop
dalam kotak amal
saat aku naik Kopaja
menuju zona merah kota

Tapi, aku teringat
Pada kata-kata bijak
“Barangsiapa memperoleh harta
dari jalan yang haram
lalu buat bersilaturrahim
disedekahkan
dinafkahkan di jalan Allah
semua itu akan terasa sia-sia
dibakar api neraka”5)
Aku batal ‘beramal’
pada kotak amal
takut bikin kumal
hati yang kamal

OoO

Majelis mahkamah yang agung
Tanggal 13 bulan tiga tahun sebelas
Kali ini kuhadapi onggokan berkas kasasi
Perkara yang menguras perhatian masyarakat
Perkara jaksa yang disuap
oleh kaki tangan konglomerat hitam
yang takut ditagih utang negara
Aku bersama empat kolega
Bersidang tiada jeda
Nuraniku bicara
Kaki tangan itu sungguh terlalu
Melanggengkan mafia peradilan
Membangkrutkan uang negara
Merusak ekonomi masyarakat
Tidak cukuplah lima tahun di bui
Sebelas tahun lebih cocok
Lagi-lagi empat kolegaku senada
Jaksa itu tak punya malu
Disuap kok ya mau
Membuka jalan sekongkol
Kaki tangan itu
cuma memasuki jalan terbuka
Tidak layak luma tahun di bui
Cukup empat tahun enam bulan6)
Vonis pun kembali tidak bulat
Pendapatku kalah suara
Suara dewa kaum hedonis
yang menghalalkan segala cara
sesebentar mungkin masuk penjara

Lekas aku berkemas 
Bergegas dengan langkah lepas
Pulang ke rumah mungil
Di kaki bukit Ciragil
Baru kaki mau melemas
Satu amplop di sela bunga hias
Lembar-lembar dolar
Setara rupiah dalam miliar
Bawah nama kacau
Bikin pikiran risau

Kendati galau
Tekadku bulat
Bawa amplop dolar
dan secarik surat
“’Tuk menambal jalan abal-abal”  
Aku susuri jalan-jalan strategis
Penuh lubang menganga
Kubangan kerbau saat hujan
Anak-anak muda
Seember kerikil dan puing
Menengadah topi lusuh
Menahun ...
Aku jatuhkan amplop dolar
Aku ingin jalan itu mulus
Angkot-angkot melaju
Tiada lagi serapah penuh gerutu
Got7) di kanan-kiri jalan
lancar mengalir
tak lagi tumpah
melumat aspal
menggerus beton

Lega hatiku
Kembali ke rumah mungil
di kaki bukit Ciragil
Dalam kehangatan anak-isteri
tiada bara kayu bakar
tiada darah hitam pekat

OoO

-----------------------
1) Hukum yang bersifat memaksa dan tanpa kompromi terbukti sudah berlaku di bumi pertiwi Indonesia. Sistem ini memang pada dasarnya sebuah pembelajaran agar setiap orang mematuhinya. Sayangnya, hukum yang kejam, kaku dan keras tidak berlaku bagi pelaku kejahatan hak azasi manusia, bagi koruptor, bagi pelaku yang merendahkan moral dan martabat bangsa. Penjahat, pejabat dan penegak hukum telah berkolusi menjadi satu. Prinsip ini hanya berlaku buat Rasminah (56) yang dituduh mencuri enam buah piring, Rawi (66) yang didakwa mencuri satu ons merica, dan Samsu Alam yang dituding mencuri celana dalam wanita.   
2)Gara-gara mengambil satu ons merica, Rawi (seorang kakek berusia 66 tahun) disidang di Pengadilan Negeri Sinjai, Suawesi Selatan. Tapi, barang bukti yang dibawa ke pengadilan adalah setengah kilogram merica. Supriyadi, salah seorang saksi, mengatakan dia disuruh polisi untuk menambahkan merica sampai jumlah yang layak barang bukti.
3)Vonis tidak bulat. Salah satu hakim mengajukan beda pendapat (dissenting opinion).
4)I Gusti Ngurah Rai, Pahlawan Nasional asal Bali. Gambar potretnya kini dipasang di uang kertas nominal lima puluh ribu rupiah.
5)Sebuah hadits ditulis oleh al-Qasim bin Mukhaimarah dalam bukunya Marasil. Kalimat sedikit dimodifikasi dalam bahasa puisi.
6)Dengan seribu kata maaf bila kalimat ini mirip dengan pendapat hakim agung Imam Haryadi saat menangani kasasi Kasus Artalyta Suryani yang mengurangi hukuman Artalyta Suryani alias Ayin dari 5 tahun menjadi 4 tahun 6 bulan penjara. Sementara pada peradilan tingkat pertama, Artalyta dihukum lima tahun penjara dan denda Rp250 juta karena terbukti menyuap jaksa Urip Tri Gunawan sebesar 660 ribu dollar AS. Menurut catatan hukum beberapa media massa, Imam Haryadi bergabung dengan anggota majelis hakim lain yang terdiri dari Djoko Sarwoko (ketua), Hatta Ali, Krisna Harahap dan Sofyan Martabaya.
7)Di Negeri Jiran Malaysia, dalam anggaran pendapatan dan belanja negara, pemasukan yang haram (pajak judi, retribusi minuman keras, pajak babi) dan diragukan kehalalannya (hasil korupsi dan suap aparat, cukai rokok) dimasukkan ke rekening khusus dengan alokasi peruntukan tersendiri, antara lain untuk membangun got, tempat pembuangan sampah, tempat penampungan air limbah. dan infrastruktur yang kotor-kotor. Tidak digunakan untuk membayar gaji “kaki tangan kerajaan” (aparatur pemerintah/negara).