Rumah tinggal keluarga Djiau Kie Song berada di Kampung Bojong Tugu, Kelurahan Rengasdengklok, Kecamatan Rengasdengklok. Rumah tinggal ini menyimpan sejarah peristiwa menjelang proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia. Lingkungan di mana rumah ini berada merupakan pemukiman yang tidak begitu padat. Di sebelah selatan rumah, seberang jalan kampung berupa kebun dan belakang rumah merupakan area persawahan. Sedangkan di sebelah barat dan timur merupakan rumah penduduk. Rumah tinggal yang berada pada kawasan pedataran rendah pantai utara ini berada pada posisi 06° 09′ 377″ Lintang Selatan dan 107° 17′ 415″ Bujur Timur. Lokasi sekarang ini merupakan lokasi baru. Dahulu lokasinya berada di sebelah barat daya lokasi sekarang berjarak sekitar 500 m, pada tepi Citarum. Karena sering terkena banjir dan terancam roboh maka dipindahkan ke lokasi sekarang.
Tampilkan postingan dengan label sosok. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label sosok. Tampilkan semua postingan
Rabu, 26 Oktober 2016
Jumat, 19 Februari 2016
Penyair Alwy, Kenangan dalam 100 Hari
FOTO
ALWY, dia biasa dipanggil teman seusianya. Lelaki tak begitu tinggi dan tak juga pendek ini kelahiran Cirebon, 26 Agustus 1962. Anak keluarga pesantren, menempuh studi dan lulus dari IAIN (kini UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta.
Semasa di Yogya, penyair seangkatan Hamdy Salad, Mathowi A Elwa, Ulfatin Ch.–untuk menyebut beberapa nama saja–ini, tak asing di jagad sastra Indonesia.
Pada 1987, penyair bernama lengkap Ahmad Syubbanuddin Alwy ini menjadi “duta” Yogyakarta mengikuti Temu Penyair Indonesia 87 yang ditaja Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) di Taman Ismail Marzuki (TIM) Jakarta. Bersama sekira 80-an penyair muda se Indonesia.
Alwy sudah menunjukkan sebagai penyair masa depan, kala itu. Puisi-puisinya yang pada masa itu cenderung sufistik-islami telah “membetot” para penyair senior, seperti Abdul Hadi WM, Sutardji Calzoum Bachri, Abrar Yusra.
Selepas “nyantri’ di UIN Yogyakarta, Alwy kembali ke kota kelahirannya: Cirebon. Di sini ia makin “menggila” dalam menjaga dan membangun proses kreatif kepenyairannya.
Sebuah puisi panjang ihwal Cirebon ia tulis. Puisi “sejarah” itu ia beri tajuk “Cirebon, 630 Tahun Kemudian” amat menggetarkan. Entah, apakah puisi ini kemudian masuk dalam buku puisi dia. Sebab, Alwy memang bukan tipe penyair “suka” menerbitkan buku puisi. Puisi-puisi dia tersebar dan terdokumentasi di media massa maupun buku-buku antologi puisi bersama.
Alwy di luar kepenyairannya, adalah manusia humoris dan “jahil” terhadap kawan-kawan. Siapa pun yang berjumpa dengannya, apalagi penyair di bawah usia darinya, pasti mendapat “olok-olok” seorang sahabat.
Bagi yang telinganya tipis dan hati tak sekuat besi, niscaya akan mudah tersinggung. Bahkan, membara dan berang, dan bisa-bisa tak seenakan. Ini pun pernah saya alami, saat rehat di malam hari pada Pertemuan Sastrawan Nusantara (PSN) di Johor Bahru, Malaysia, dua puluhan tahun silam.
Tetapi, Alwy ternyata bukanlah tipe pemberang. Ia juga tak mudah terpengaruh, ketika kawan yang dicandainya sedang emosi. Ia akan tertawa (cengengesan, Red). Lalu diam, dan beberapa jenak kemudian ia kembali mengajak berbicara. Bercanda lagi.
Sepertinya, tiada hari tanpa canda dan mencandai kawan-kawannya. Almarhum Hamid Jabbar, hampir tak mampu menahan emosi karena “dicandai” Alwy saat jeda hendak ke PSN di Batam.
Begtulah Alwy. Suasana tak ramai jika tiada dia. Hampir setiap perhelatan sastra, Alwy langganan ditunjuk jadi pembawa acara (MC). Saat menyebut sastrawan yang hendak membacakan karyanya di panggung, narasi Alwy bisa membuat pengunjung “gerr” dan yang dicandai “mesem-mesem” menahan amarah.
Semasa hidup, Alwy bukan saja dikenal sebagai penyair. Ia juga penulis esai yang baik, pembicara (narasumber) di sejumlah kegiatan kebudayaan, peneliti, dan aktivis. Ia juga orang pertama di Indonesia yang memimpin Dewan Kesenian Cirebon (DKC) dari awal hingga akhir hayat, tanpa pernah meminta anggaran dari pemerintah (Cirebon).
Soal anggaran bagi DKC, saya pernah “menasihati” karena pemerintah berkewajiban mengucurkan dana kepada kegiatan senibudaya, apalagi sebagian dari APBD itu diambil dari pajak milik rakyat. Tetapi, Alwy tetap keukeh, sepertinya tak menginginkan lembaga kesenian yang dipimpinnya mendapat “belas kasihan” pemerintah.
Ketika Kongres Dewan Kesenian se Indonesia di Papua, yang salah satu agendanya hendak membentuk Dewan Kesenian Indonesia (DKI) yang digagas Ratna Sarumpaet–saat itu Ketua DKJ–saya dan Alwy berada di barisan depan untuk menolak.
Alasan penolakan kami saat itu bukan menolak lahir DKI, tetapi orang-orang yang akan menempati rumah itu. Sekiranya DKI dibentuk dulu sementara pengurusnya dilakukan pemilihan kemudian, barangkali saja kami sepakat.
Saat kami ditunjuk menjadi tim perumus, juga tetap menolak. Bahkan, jika ada “tawaran” masuk dalam kepengurusan. Alwy bilang, “saya ingin membangun Cirebon”. Saya pun menambahkan, “Lampung juga perlu dibangunkan!”
Hingga kini Dewan Kesenian Indonesia belum mewujud. Sementara Dewan Kesenian di daerah-daerah mulai adem, dan sebagian malah tak terdengar kiprahnya.
Alwy memang sahabat yang selalu dirindu. Ia sumber “keriuhan” di suatu acara. Ia juga “pembanyol” yang mampu mengocok perut kawan-kawan. Tetapi, sebagai manusia, ia kerap membuat kawannya tersulut emosi karena kata-katanya tak sengaja bagaikan cabai rawit.
Penyair ini dikenal sangat penolong. Banyak kawan-kawan seniman telah merasakan bantuannya. Dia juga “penyemangat” bagi seniman muda. Rasa tolong dan pertemanan, sangat saya rasakan.
Suatu kesempatan, rinduku pada kampung kelahiran ibu di Winduaji, Cirebon amat menggebu. Ia menawarkan diri untuk mengantar. Bersama Edeng Syamsul Ma’arif, dan Dirot Kadirah–pelukis–aku diantar menemui leluhur ibu.
Lalu, saat hendak mengambil putriku yang selesai “nyantri” di pondok pesantren di kawasan Cilimus, lagi-lagi Alwy siap direpotkan. Inilah Alwy.
Sebagai penyair, karya-karya Alwy tersebar di berbagai media massa, seperi Horison, Media Indonesia, Republika, Pikiran Rakyat, Kedaulatan Rakyat, dan sejumlah buku antologi puisi bersama penyair lain.
Alwy penulis baris-bari puisi demikian:
jalan-jalan masih berdarah, luka pohonan
berkabut dalam risik gelisah, riuh pertempuran
menghambur hancur ke pelukanku semalaman, dan…
berkabut dalam risik gelisah, riuh pertempuran
menghambur hancur ke pelukanku semalaman, dan…
(salah satu bait puisi “Kenangan, Seperempat Anad Silam”)
Alwy telah tiada kini. Persisnya, 2 November 2015 penyair dan budayawan asal Cirebon ini dipanggil Illahi, setelah beberapa hari menderita sakit dan dirawat di rumah sakit.
Pada 21 Februari 2016 kawan-kawan sesama penyair “membesarkan” UIN Yogyakarta membuat perhelatan untuk mengenang 100 Hari Wafat Ahmad Syubbanuddin Alwy, di Gedung PKKH Universitas Gajah Mada, pukul 18.30 hingga tuntas.
Sepatutnya Pemkot Cirebon menempatkan Alwy pada posisi yang tinggi. Ia telah banyak berjuang memperkenalkan Cirebon di tingkat nasional dan internasional. Betapa pun ia kerap berseberangan dengan penguasa.
Banyak kenangan bersama Alwy, seperti “kenangan” kita terhadap puisi-puisinya, tetapi hanya sedikit perjumpaan itu. Alwy, kukenang kau dalam syair-syairmu, kicaumu, tawamu, ketulusanmu… (isbedy stiawan zs)
Minggu, 10 Januari 2016
Seniman Patung Pancoran itu Berpulang
Popularitas
sebuah karya acapkali jauh melampaui ketenaran si pembuat karya. Bahkan,
popularitas sebuah karya nyaris tak hilang oleh waktu.
=================
Ketenaran seorang Edhie Soenarso boleh jadi
hanya berputar-putar di lingkup kehidupan para seniman patung atau mereka yang
pernah bersentuhan dengan sosok yang pernah aktif di Institut Seni Indonesia
(ISI) Yogyakarta. Tak banyak yang mengenal sosok Edhi Soenarso.
Tapi, bila kita menyebut Patung Dirgantara
alias Patung Pancoran dan Tugu Selamat Datang, banyak di antara paham dan
mengenal tugu atau patung yang sampai kini masih dianggap sebagai penanda
kawasan (landmark). Patung Dirgantara sangat identik dengan
kawasan Pancoran, Jakarta Selatan. Sedangkan Tugu Selamat Datang dikenal
sebagai penanda kawasan Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.
Ya, dua karya monumental itulah yang
sesungguhnya melambungkan nama seniman patung Edhi Soenarso. Dan sosok yang
sempat ragu menerima tawaran membuat Tugu Selamat Datang itu kini telah tiada. Seniman
Edhie Soenarso wafat dalam usia 83 tahun, Senin (4/1/2016) malam di Yogyakarta.
"Telah berpulang ke pangkuan Allah SWT,
pematung Indonesia Empu Ageng Edhi Soenarso, malam ini pukul 23.15 di RS Jogja
International Hospital," demikian ditulis akun Facebook resmi milik Institut Seni Indonesia Jogjakarta, Selasa
(5/1/2015). Jenazah Edhie dimakamkan pada Selasa. Upacara pemakaman dimulai
dari rumah duka di Desa Nganti RT 2 RW 7, Mlati, Sleman, Yogyakarta.
Melalui akun Twitter-nya, Sastrawan Goenawan
Mohamad mengenang Edhie sebagai pematung terbesar dalam sejarah seni rupa
Indonesia.
Edhie dikenal lewat karyanya berupa
patung-patung besar di Jakarta, antara lain Patung Dirgantara atau biasa
disebut Patung Pancoran di Jalan Gatot Subroto, Jakarta Selatan. Dia juga
membuat Tugu Selamat Datang di Bundaran Hotel Indonesia, Jakarta Pusat.
Tugu Selamat Datang dapat disebut karya patung
pertama anak bangsa berbahan perunggu. Tugu itu dibuat pada tahun 1959 atas pesanan
Presiden Soekarno untuk menyambut pesta olahraga Asian Games IV (1962). Harian Kompas terbitan tanggal 7 Juni 1999
memuat artikel di mana Edhie sempat merasa ragu tatkala diundang ke Istana
Negara dan diminta oleh Bung Karno untuk membuat patung itu dengan tinggi
sembilan meter.
Berkat dukungan rekan-rekan sesama seniman, lelaki
kelahiran Salatiga (Jawa Tengah) tanggal 2 Juli 1932 itu pun menyanggupi. Namun
dia menyarankan kepada Bung Karno agar tinggi patung dikurangi menjadi enam
meter.
Dalam proses pengerjaan patung modelnya, Edhie
dibantu oleh seniman Trubus. Kemudian pengecoran bahan perunggu dikerjakan oleh
Gardono. Pengerjaan patung selesai dalam waktu sembilan bulan. Dan imbalannya
waktu itu Rp3 juta, sebuah angka yang lumayan besar ketika itu.
"Tidak untung, tidak rugi. Tapi kami
bangga karena berhasil membuktikan bahwa kita mampu menghasilkan patung
berbahan perunggu," ujar Edhie waktu itu.
Sejak itu dia dipercaya oleh Bung Karno untuk
mengerjakan patung-patung lain, seperti patung Pembebasan Irian Barat di
Lapangan Banteng dan patung Dirgantara di Pancoran, Jakarta. Karya-karya Edhie
sungguh terasa ekspresif dan monumental.
Pada tahun 2012, sutradara Lasja Fauzia
Susatyo dan seniman grafis Alit Ambara meluncurkan film dokumenter berjudul
"Begini Lho, Ed!". Film ini berkisah tentang perjalanan hidup Edhie.
Edhie Soenarso telah tiada. Karya-karyanya
masih yang abadi di tengah-tengah kita, menjadi penyambung umur seorang Edhie. (*)
Kamis, 17 Desember 2015
Hikayat Syech Albar, Ayah Rockstar Ahmad Albar Perintis Musik Dangdut
Wenri Wanhar - Jawa Pos National Network
Bersama Orkes Gambus Al Wathon, Syech Albar sangat produktif merilis album.
"Satu yang paling terkenal album Zakhratoel Hoesoen yang dirilis 1937," tulis Dennie Sakrie, dalam buku 100 tahun musik Indonesia.
Syech Albar lahir di Surabaya pada 1908. Dendang karyanya, "sudah direkam sejak 1935 dalam piringan hitam His Master's Voice," tulis Alwi Shahab dalam buku Saudagar Baghdad dari Betawi..
Suara dan petikan gambus Syech Albar, sebagaimana dicuplik dari buku itu, bukan saja digemari di Indonesia, tapi juga di Timur Tengah.
Instrumen musik khas padang pasir ini terdiri dari gambus (mandolin) bersenar tiga sampai 12, biola, gendang, tabla dan seruling.
"Orkes ini mengiringi tari zapin," tulis Windoro Adi dalam Batavia 1740.
Zapin berasal dari kata zafn, bahasa Arab yang maknanya gerakan kaki cepat mengikuti irama musik nan riang.
Jalan yang dirintis Syeh Albar ini, sebagaimana diceritakan Abah Alwi--demikian Alwi Shahab biasa disapa--diikuti oleh pemuda-pemuda keturunan Arab di berbagai tempat.
"Pemainnya juga bukan hanya didominasi keturunan Arab, tapi juga penduduk setempat," tutur Abah Alwi.
Hal senada juga dikisahkan Windoro Adi. Menurut dia, begitu populer di Batavia pada era 1940-an, gambus yang mulanya hanya dimainkan di kalangan kaum Hadrami dan India Gujarat, mulai dapat panggung di tempat hajatan di lima tanah Betawi.
Nah, di Kampung Arab, Pekojan, Jakarta Barat, pernah ada Orkes Gambus Al Usysyaag. Didirikan oleh seorang seniman muda bernama Husein Aidid, pada 1947.
Pada masa itu, radio juga sudah mulai marak. NIROM (sekarang RRI), kerapkali memutar lagu-lagu gambus dan juga lagu Melayu.
Kabarnya, padu padan kedua musik ini kemudian hari melahirkan dangdut. (www.jpnn.com)
Minggu, 29 November 2015
Muda Baliya, Seniman Hikayat Aceh yang Masih Bertahan
Bek lee ta ingat e syedara kayee bak jaloh
Cit ka hana boh si umu masa
Bek lee ta ingat e syedara harta meulayang ka gadoh
Cit ka eh nanggroe bak po Rabbana
Meunyoe mantong e syedara e doa teuh gleeh
Mantong na hasee ta kirem doa
Nyoe mantong ta hudep wareh e galom ta mate
Wajeb sabee e wareh e pujo Rabbana,…
(Tidak usah diingat hai saudara pohon ulin
Tidak akan berbuah sepanjang masa
Jangan lagi diingat hai saudara harta melayang yang hilang
Sudah sampai masanya, negara pada Rabbana
Kalau masih hai saudara doa kita bersih
Masih ada hasil kalau kita berdoa
Selagi (semasih) hidup duhai sahabat sebelum mati
Wajib selalu sahabatku puji Rabbana...)
ITULAH sepenggal hikayat yang dilantunkan Muda Baliya pada 26-27 Desember 2009 selama 26 jam nonstop. Acara bertema "Tsunami Aceh – Thanks to The World" itu digelar di kompleks Kapal PLTD Apung untuk memperingati 5 tahun tsunami Aceh.
Sebagai korban tsunami yang melanda Aceh 26 Desember 2004, Muda Baliya masih ingat akan syair yang spontan dilantunkannya saat itu.
"Waktu itu mengisahkan tentang kisah yang saya alami, dengan mata kepala sendiri dan dengar dengan telinga sendiri. Itulah yang saya kupas di panggung saat itu," katanya kepada Aceh Tourism pertengahan November 2014.
Saat itu, Muda meraih Rekor Muri atas prestasinya sebagai pembaca hikayat terlama, yaitu 26 jam nonstop dengan jeda hanya 5 menit di tiap jam.
Ditemui di Museum Aceh, Banda Aceh, Selasa (20/10/2015), Muda Baliya tengah asyik mengisahkan perjalanan dirinya sebagai seniman hikayat Aceh untuk program Idenesia atau Ide untuk Indonesia.
Program Idenesia merupakan kerja sama Bakti Budaya Djarum Foundation bersama Metro TV dan Pendiri Pusat Studi Indonesia Cerdas yang dipimpin musisi Yovie Widianto.
"Dulu seni hikayat berkembang seluruh Aceh. Saat itu seni hikayat berfungsi untuk menyebarkan agama Islam. Selanjutnya para penghikayat tersebut ditarik ke istana kerajaan," tutur Muda Baliya.
Tugas mereka di kerajaan untuk memberi kabar dari raja kepada rakyat dengan bersyair dan sebaliknya. "Dulu tidak ada media surat kabar dan televisi. Makanya perlu banyak penyair yang dilatih," sambungnya.
Program raja disampaikan penyair yang disebar di kampung-kampung. "Gelarnya para penyair ini adalah 'radio begigi' atau 'radio megigau'. Waktu itu radio memang sudah ada, tetapi di Aceh belum ada," kata Muda yang tidak mengetahui persis tanggal kelahirannya itu.
Zaman penjajahan Belanda, lanjut Muda, rakyat Aceh bersatu melawan kaum penjajah. Berkurangnya para penghikayat Aceh sangat terasa ketika meletus peristiwa G-30-S PKI tahun 1965.
"Saat itu terjadi pembantaian luar biasa. Banyak penghikayat hilang. Kebetulan penghikayat pantai selatan (Kabupaten Aceh Selatan) lolos. Dari sinilah mereka berasal sekarang," kata Muda.
Laki-laki kelahiran tahun 1980 di Desa Seunuboek Aluebuluh, Kecamatan Pakongan, Kabupaten Aceh ini mulai berkenalan dengan hikayat gara-gara menonton pertunjukan hikayat pada hajatan perkawinan atau acara khitanan di desanya.
Namun, apa lacur, orangtua malah melarang keras Muda Baliya belajar seni hikayat. Saat itu nyaris tak ada anak muda yang memainkan hikayat, selain karena hikayat tak bisa dijadikan gantungan hidup.
"Orang kampung bilang pekerjaan hikayat itu orang yang malas kerja. Orang seni dianggap tak penting. Kala itu yang penting, pergi ngaji dan sekolah. Padahal sejak SD saya sudah naik panggung. Sekolah diabaikan," tutur ayah dengan dua anak, Lia Santika (kelas 4 SD) dan Ramatullah (kelas 1 SD), ini mengenang.
Muda Baliya prihatin, pemain hikayat semakin langka. "Kalau pembaca hikayat banyak. Mereka sekolah, pergi ke toko buku, cari buku hikayat, tinggal baca di depan banyak orang. Kalau pemain hikayat bisa dihitung dengan jari, karena mereka mainkan kisah lama atau legenda tanpa membaca teks," paparnya.
Keprihatinannya semakin bertambah di mana Pemprov Aceh jarang memintanya tampil membawakan hikayat Aceh.
Malah pihak luar negeri yang selalu mengundangnya. Muda sempat diundang ke Shanghai dan Singapura. Pada Mei 2016, Muda Baliya mengaku diundang ke Jepang.
"Saya berterima kasih kepada media massa yang selalu mengangkat hikayat Aceh," katanya.
Sebagai seniman hikayat Aceh, dia tak ingin hikayat Aceh tinggal kenangan. Untuk itulah Muda Baliya mendirikan Sanggar Jamboe Hikayat untuk melahirkan para penghikayat muda Aceh.
Bagaimana cara belajar hikayat sekaligus bisa bertahan dan menjaga suara agar tetap stabil, Muda tak pelit untuk memberikan saran.
"Boleh berguru (hikayat), tetapi jangan meniru. Bentengi badan dari segala penyakit," katanya seraya meniup bansi (seruling) yang mengalunkan nada-nada merdu Bumi Serambi Mekkah.
Mendengar alunan seruling Muda Baliya, orang yang mendengarnya terasa damai...
Cit ka hana boh si umu masa
Bek lee ta ingat e syedara harta meulayang ka gadoh
Cit ka eh nanggroe bak po Rabbana
Meunyoe mantong e syedara e doa teuh gleeh
Mantong na hasee ta kirem doa
Nyoe mantong ta hudep wareh e galom ta mate
Wajeb sabee e wareh e pujo Rabbana,…
(Tidak usah diingat hai saudara pohon ulin
Tidak akan berbuah sepanjang masa
Jangan lagi diingat hai saudara harta melayang yang hilang
Sudah sampai masanya, negara pada Rabbana
Kalau masih hai saudara doa kita bersih
Masih ada hasil kalau kita berdoa
Selagi (semasih) hidup duhai sahabat sebelum mati
Wajib selalu sahabatku puji Rabbana...)
ITULAH sepenggal hikayat yang dilantunkan Muda Baliya pada 26-27 Desember 2009 selama 26 jam nonstop. Acara bertema "Tsunami Aceh – Thanks to The World" itu digelar di kompleks Kapal PLTD Apung untuk memperingati 5 tahun tsunami Aceh.
Sebagai korban tsunami yang melanda Aceh 26 Desember 2004, Muda Baliya masih ingat akan syair yang spontan dilantunkannya saat itu.
"Waktu itu mengisahkan tentang kisah yang saya alami, dengan mata kepala sendiri dan dengar dengan telinga sendiri. Itulah yang saya kupas di panggung saat itu," katanya kepada Aceh Tourism pertengahan November 2014.
Saat itu, Muda meraih Rekor Muri atas prestasinya sebagai pembaca hikayat terlama, yaitu 26 jam nonstop dengan jeda hanya 5 menit di tiap jam.
Ditemui di Museum Aceh, Banda Aceh, Selasa (20/10/2015), Muda Baliya tengah asyik mengisahkan perjalanan dirinya sebagai seniman hikayat Aceh untuk program Idenesia atau Ide untuk Indonesia.
Program Idenesia merupakan kerja sama Bakti Budaya Djarum Foundation bersama Metro TV dan Pendiri Pusat Studi Indonesia Cerdas yang dipimpin musisi Yovie Widianto.
"Dulu seni hikayat berkembang seluruh Aceh. Saat itu seni hikayat berfungsi untuk menyebarkan agama Islam. Selanjutnya para penghikayat tersebut ditarik ke istana kerajaan," tutur Muda Baliya.
Tugas mereka di kerajaan untuk memberi kabar dari raja kepada rakyat dengan bersyair dan sebaliknya. "Dulu tidak ada media surat kabar dan televisi. Makanya perlu banyak penyair yang dilatih," sambungnya.
Program raja disampaikan penyair yang disebar di kampung-kampung. "Gelarnya para penyair ini adalah 'radio begigi' atau 'radio megigau'. Waktu itu radio memang sudah ada, tetapi di Aceh belum ada," kata Muda yang tidak mengetahui persis tanggal kelahirannya itu.
Zaman penjajahan Belanda, lanjut Muda, rakyat Aceh bersatu melawan kaum penjajah. Berkurangnya para penghikayat Aceh sangat terasa ketika meletus peristiwa G-30-S PKI tahun 1965.
"Saat itu terjadi pembantaian luar biasa. Banyak penghikayat hilang. Kebetulan penghikayat pantai selatan (Kabupaten Aceh Selatan) lolos. Dari sinilah mereka berasal sekarang," kata Muda.
Laki-laki kelahiran tahun 1980 di Desa Seunuboek Aluebuluh, Kecamatan Pakongan, Kabupaten Aceh ini mulai berkenalan dengan hikayat gara-gara menonton pertunjukan hikayat pada hajatan perkawinan atau acara khitanan di desanya.
Namun, apa lacur, orangtua malah melarang keras Muda Baliya belajar seni hikayat. Saat itu nyaris tak ada anak muda yang memainkan hikayat, selain karena hikayat tak bisa dijadikan gantungan hidup.
"Orang kampung bilang pekerjaan hikayat itu orang yang malas kerja. Orang seni dianggap tak penting. Kala itu yang penting, pergi ngaji dan sekolah. Padahal sejak SD saya sudah naik panggung. Sekolah diabaikan," tutur ayah dengan dua anak, Lia Santika (kelas 4 SD) dan Ramatullah (kelas 1 SD), ini mengenang.
Muda Baliya prihatin, pemain hikayat semakin langka. "Kalau pembaca hikayat banyak. Mereka sekolah, pergi ke toko buku, cari buku hikayat, tinggal baca di depan banyak orang. Kalau pemain hikayat bisa dihitung dengan jari, karena mereka mainkan kisah lama atau legenda tanpa membaca teks," paparnya.
Keprihatinannya semakin bertambah di mana Pemprov Aceh jarang memintanya tampil membawakan hikayat Aceh.
Malah pihak luar negeri yang selalu mengundangnya. Muda sempat diundang ke Shanghai dan Singapura. Pada Mei 2016, Muda Baliya mengaku diundang ke Jepang.
"Saya berterima kasih kepada media massa yang selalu mengangkat hikayat Aceh," katanya.
Sebagai seniman hikayat Aceh, dia tak ingin hikayat Aceh tinggal kenangan. Untuk itulah Muda Baliya mendirikan Sanggar Jamboe Hikayat untuk melahirkan para penghikayat muda Aceh.
Bagaimana cara belajar hikayat sekaligus bisa bertahan dan menjaga suara agar tetap stabil, Muda tak pelit untuk memberikan saran.
"Boleh berguru (hikayat), tetapi jangan meniru. Bentengi badan dari segala penyakit," katanya seraya meniup bansi (seruling) yang mengalunkan nada-nada merdu Bumi Serambi Mekkah.
Mendengar alunan seruling Muda Baliya, orang yang mendengarnya terasa damai...
Tugas mereka di kerajaan untuk memberi kabar dari raja kepada rakyat
dengan bersyair dan sebaliknya. "Dulu tidak ada media surat kabar dan
televisi. Makanya perlu banyak penyair yang dilatih," sambungnya.
Program raja disampaikan penyair yang disebar di kampung-kampung. "Gelarnya para penyair ini adalah 'radio begigi' atau 'radio megigau'. Waktu itu radio memang sudah ada, tetapi di Aceh belum ada," kata Muda yang tidak mengetahui persis tanggal kelahirannya itu.
Zaman penjajahan Belanda, lanjut Muda, rakyat Aceh bersatu melawan kaum penjajah. Berkurangnya para penghikayat Aceh sangat terasa ketika meletus peristiwa G-30-S PKI tahun 1965.
"Saat itu terjadi pembantaian luar biasa. Banyak penghikayat hilang. Kebetulan penghikayat pantai selatan (Kabupaten Aceh Selatan) lolos. Dari sinilah mereka berasal sekarang," kata Muda.
Laki-laki kelahiran tahun 1980 di Desa Seunuboek Aluebuluh, Kecamatan Pakongan, Kabupaten Aceh ini mulai berkenalan dengan hikayat gara-gara menonton pertunjukan hikayat pada hajatan perkawinan atau acara khitanan di desanya.
Namun, apa lacur, orangtua malah melarang keras Muda Baliya belajar seni hikayat. Saat itu nyaris tak ada anak muda yang memainkan hikayat, selain karena hikayat tak bisa dijadikan gantungan hidup.
"Orang kampung bilang pekerjaan hikayat itu orang yang malas kerja. Orang seni dianggap tak penting. Kala itu yang penting, pergi ngaji dan sekolah. Padahal sejak SD saya sudah naik panggung. Sekolah diabaikan," tutur ayah dengan dua anak, Lia Santika (kelas 4 SD) dan Ramatullah (kelas 1 SD), ini mengenang.
Muda Baliya prihatin, pemain hikayat semakin langka. "Kalau pembaca hikayat banyak. Mereka sekolah, pergi ke toko buku, cari buku hikayat, tinggal baca di depan banyak orang. Kalau pemain hikayat bisa dihitung dengan jari, karena mereka mainkan kisah lama atau legenda tanpa membaca teks," paparnya.
Keprihatinannya semakin bertambah di mana Pemprov Aceh jarang memintanya tampil membawakan hikayat Aceh.
Malah pihak luar negeri yang selalu mengundangnya. Muda sempat diundang ke Shanghai dan Singapura. Pada Mei 2016, Muda Baliya mengaku diundang ke Jepang.
"Saya berterima kasih kepada media massa yang selalu mengangkat hikayat Aceh," katanya.
Program raja disampaikan penyair yang disebar di kampung-kampung. "Gelarnya para penyair ini adalah 'radio begigi' atau 'radio megigau'. Waktu itu radio memang sudah ada, tetapi di Aceh belum ada," kata Muda yang tidak mengetahui persis tanggal kelahirannya itu.
Zaman penjajahan Belanda, lanjut Muda, rakyat Aceh bersatu melawan kaum penjajah. Berkurangnya para penghikayat Aceh sangat terasa ketika meletus peristiwa G-30-S PKI tahun 1965.
"Saat itu terjadi pembantaian luar biasa. Banyak penghikayat hilang. Kebetulan penghikayat pantai selatan (Kabupaten Aceh Selatan) lolos. Dari sinilah mereka berasal sekarang," kata Muda.
Laki-laki kelahiran tahun 1980 di Desa Seunuboek Aluebuluh, Kecamatan Pakongan, Kabupaten Aceh ini mulai berkenalan dengan hikayat gara-gara menonton pertunjukan hikayat pada hajatan perkawinan atau acara khitanan di desanya.
Namun, apa lacur, orangtua malah melarang keras Muda Baliya belajar seni hikayat. Saat itu nyaris tak ada anak muda yang memainkan hikayat, selain karena hikayat tak bisa dijadikan gantungan hidup.
"Orang kampung bilang pekerjaan hikayat itu orang yang malas kerja. Orang seni dianggap tak penting. Kala itu yang penting, pergi ngaji dan sekolah. Padahal sejak SD saya sudah naik panggung. Sekolah diabaikan," tutur ayah dengan dua anak, Lia Santika (kelas 4 SD) dan Ramatullah (kelas 1 SD), ini mengenang.
Muda Baliya prihatin, pemain hikayat semakin langka. "Kalau pembaca hikayat banyak. Mereka sekolah, pergi ke toko buku, cari buku hikayat, tinggal baca di depan banyak orang. Kalau pemain hikayat bisa dihitung dengan jari, karena mereka mainkan kisah lama atau legenda tanpa membaca teks," paparnya.
Keprihatinannya semakin bertambah di mana Pemprov Aceh jarang memintanya tampil membawakan hikayat Aceh.
Malah pihak luar negeri yang selalu mengundangnya. Muda sempat diundang ke Shanghai dan Singapura. Pada Mei 2016, Muda Baliya mengaku diundang ke Jepang.
"Saya berterima kasih kepada media massa yang selalu mengangkat hikayat Aceh," katanya.
sumber: http://travel.kompas.com
Rabu, 28 Oktober 2015
Kisah Si Pitung dan makamnya yang terbengkalai
Berita Terkait
Namun berbeda dengan makam lain, yang memiliki batu nisan, yang memberikan informasi tentang tubuh siapa yang dikebumikan, di makam yang hanya dipisahkan saluran air dengan lebar satu meter dari jalan raya itu, dengan pagar berukuran sekitar 5X5 meter yang mengelilinginya, tidak terdapat tanda bahwa di sana disemayamkan seorang legenda Betawi, Pitung.
"Ya di situ makam Pitung, pahlawan asli Rawabelong. Di depan kantor Telkom itu," jelas sesepuh Rawabelong, Nur Ali Akbar (65) saat ditemui merdeka.com di rumahnya, Jalan Yahya, RT 2, RW, 7, Sukabumi Utara, Kebon Jeruk, Jakarta Barat, Sabtu (8/9).
Lebih lanjut, meski tidak ada bukti otentik, semisal batu nisan yang memberikan informasi tentang siapa yang dimakamkan, pria yang juga ahli beladiri Betawi, Cingkrik ini yakin jika yang dikebumikan itu adalah si Pitung, Robin Hood Betawi.
"Dari cerita bapaknya kakek pak haji nih, di makam itu, Pitung dimakamkan."
Meski tidak mengetahui tanggal dan tahun kapan pastinya Pitung meninggal dunia, Haji Nunung membantah jika Pitung memiliki ilmu Rawa Rontek, seperti yang selama ini beredar. Karena menurutnya ilmu Rawa Rontek adalah ajaran agama Hindu.
Melihat kondisi makam yang mengenaskan. Dari pantauan merdeka.com, seperti kondisi makam yang dijelaskan di atas, peristirahatan Pitung itu juga tidak memiliki pengurus makam. Bahkan untuk membersihkan daun-daun bambu yang berguguran, terkadang petugas Telkom berinisiatif sendiri untuk membersihkannya.
Untuk itu, Haji Nunung berharap kepada Pemerintah Provinsi DKI Jakarta khususnya, pemerintah kota Jakarta Barat untuk memberikan perhatian terhadap makam Pitung. Perhatian yang diharapkannya, pemerintah mau mendirikan semacam monumen.
"Apalagi wali kota (Jakarta Barat) sekarang, si Fatahillah kan orang Betawi asli. Aturannya dia bisa bagusin makam Pitung," ujar Haji Nunung.
Dia juga meminta, jika nantinya pemerintah kota Jakarta Barat berniat untuk memugar makam pitung dan mendirikan prasasti, kakek yang humoris ini juga menyarankan agar ditempatkan seorang penjaga makam. Penjaga makam itu juga wajib mengetahui sejarah warga Rawabelong itu.
"Jadi nantinya, yang jaga makam itu bisa ngasih tahu sejarah pasti Pitung," ujarnya.
Sementara itu, salah seorang petugas keamanan Telkom, Rulli (45) mengatakan, di makam yang dipercaya sebagai makam Pitung itu, di waktu tertentu sering didatangi orang yang berkeinginan untuk berziarah. Bahkan tidak hanya satu, dua orang yang berziarah, bisa satu bus orang berziarah ke makam dikelilingi pagar setinggi satu meter itu.
[Merdeka.com]
Minggu, 04 Oktober 2015
Purnomo Prawiro, Mantan Sopir Kini Berharta Rp 16 Triliun
|
|
Purnomo, ayah tiga anak itu, disebut memiliki kekayaan sampai US$ 1,3 miliar atau sekitar Rp 16 triliun dari bisnis di bidang transportasi itu. Bisnis ini dimulai dari hanya 25 unit kendaraan. Kini sudah melebar jauh sampai 22 ribu kendaraan.
Bahkan, seperti dilansir Forbes, ketika Presiden Amerika Serikat Barack Obama berkunjung ke Jakarta pada 2010, pemerintah AS memakai jasa Blue Bird sebagai transportasi tim kepresidenan.
Bisnis perusahaan taksi ini diawali oleh Mutiara Siti Fatimah Djokosoetono, ibunda Purnomo. Diawali dari usaha ‘taksi gelap’, Sang Ibu menghidupi anak-anaknya setelah sang suami, Prof. Djokosoetono, wafat.
Di awal, anak-anak keluarga Djokosoetono dilibatkan dalam operasional. Anak tertua, Chandra Suharto, bertindak sebagai operator telepon. Sedangkan Purnomo, sang anak bungsu, jadi pengemudi.
Bisnis ini tumbuh seiring izin resmi yang dikeluarkan oleh Gubernur DKI Jakarta Ali Sadikin. Sampai kemudian Blue Bird melepas saham perdananya di lantai Bursa pada November lalu.
Armada taksinya sendiri mencapai 13.353 unit. Tahun depan Blue Bird akan menambah 7.500 unit lagi. (Baca: Blue Bird Tambah 7.500 Taksi Tahun Depan)
Layanan taksi masih menjadi kontributor utama pendapatan bisnis Blue Bird. Di samping itu, perusahaan ini mempunyai bisnis sewa mobil, limusin, dan bus wisata. (CNN Indonesia)
Minggu, 23 Agustus 2015
Darah Pemenggalan Raja Louis XVI Terkandung dalam Kendi Tua
Kendi berbentuk labu ini sempat menyimpan saputangan yang dicelupkan ke dalam darah Louis XVI sesaat setelah dieksekusi mati.
Ilmuwan menemukan sebuah kendi berbentuk labu yang mengandung jejak darah Raja Prancis Louis XVI. Melalui Jurnal Forensic Science International
yang diterbitkan pada 30 Desember 2012 lalu, para ilmuwan mengonfirmasi
bahwa jejak DNA pada kendi labu yang berhiaskan wajah tokoh
revolusioner Prancis, memiliki keterkaitan dengan rajanya terdahulu.
Dalam jurnal tersebut, para ilmuwan menegaskan bahwa DNA yang ada dalam kendi tersebut adalah milik Raja Louis XVI. Hal ini mereka pastikan setelah melakukan perbandingan dengan nenek moyang Raja Louis XVI yakni Raja Henry IV.
Raja terakhir disebut sebenarnya meninggal dalam keadaan utuh. Henry IV lahir 1553 dan menjadi raja di tahun 1589 dengan predikat "Good King Henry." Namun, pada tahun 1610 seorang Katolik fanatik membunuhnya kemudian tubuhnya dibalsem dan dikuburkan di utara Paris.
Tapi ketika Revolusi Prancis pecah, para penjarah menodai makam raja, salah satunya makam Henry IV. Mereka pun memenggal kepala jenazah sang Good King Henry.
"Kami memiliki potongan dari dua raja tersebut (Raja Louis XVI dan Henry IV) yang tersebar di berbagai tempat di Eropa," kata penulis studi Carles Lalueza-Fox, seorang peneliti paleogenom di Pompeu Fabra University di Spanyol.
Pada tahun 2010, peneliti telah menggunakan rekonstruksi wajah untuk meyatakan kepala tersebut milik Raja Henry IV. Namun, DNA yang diambil telah terkontaminasi dan tidak ada DNA pembanding. Sehingga sulit untuk menganalisa dan mendapatkan kesimpulan yang definitif.
Ilustrasi pemancungan kepala Raja Louis XVI (Thinkstockphoto)
Sementara itu, lebih dari 200 tahun yang lalu Raja Prancis Louis XVI dibunuh bersama istrinya, Marie Antoinette dengan guillotine. Sebuah legenda mengatakan, saat eksekusi ada seseorang yang menggunakan saputangan untuk menyerap darah raja yang telah mati.
Saputangan ini kemudian disimpan dalam sebuah kendi berbentuk labu dan akhirnya dimiliki oleh keluarga kaya di Italia.
Teks pada kendi labu tersebut menceritakan kisah mengerikan: "Pada tanggal 21 Januari, Maximilien Bourdaloue mencelupkan saputangan dalam darah Louis XVI setelah pemenggalan kepalanya."
Tahun ini para ahli forensik yang awalnya mempelajari penggalan kepala mumi milik Raja Henry IV, mengirim DNA kepada tim peneliti. DNA baru ini tidak rusak parah sehingga Lalueza-Fox dan rekan-rekannya bisa mendapatkan bagian dari kromosom Y, yakni kromosom yang sering digunakan untuk mengidentifikasi garis keturunan laki-laki.
Dengan membandingkan kromosom Y di kedua sampel, tim menyimpulkan bahwa kedua orang itu 250 kali lebih mungkin terkait genetik dibandingkan tidak memiliki kaitan. Kedua sampel memiliki varian genetik karakteristik wilayah Bourbon Prancis, dan mereka varian yang sangat jarang terjadi di Eropa saat ini.
Mengingat sejarah di balik sampel, temuan baru ini mengonfirmasi bahwa kedua darah kering ialah milik Raja Louis XVI sekaligus memverifikasi bahwa penggalan kepala yang dibalsem ialah milik Raja Henry IV.
Dalam jurnal tersebut, para ilmuwan menegaskan bahwa DNA yang ada dalam kendi tersebut adalah milik Raja Louis XVI. Hal ini mereka pastikan setelah melakukan perbandingan dengan nenek moyang Raja Louis XVI yakni Raja Henry IV.
Raja terakhir disebut sebenarnya meninggal dalam keadaan utuh. Henry IV lahir 1553 dan menjadi raja di tahun 1589 dengan predikat "Good King Henry." Namun, pada tahun 1610 seorang Katolik fanatik membunuhnya kemudian tubuhnya dibalsem dan dikuburkan di utara Paris.
Tapi ketika Revolusi Prancis pecah, para penjarah menodai makam raja, salah satunya makam Henry IV. Mereka pun memenggal kepala jenazah sang Good King Henry.
"Kami memiliki potongan dari dua raja tersebut (Raja Louis XVI dan Henry IV) yang tersebar di berbagai tempat di Eropa," kata penulis studi Carles Lalueza-Fox, seorang peneliti paleogenom di Pompeu Fabra University di Spanyol.
Pada tahun 2010, peneliti telah menggunakan rekonstruksi wajah untuk meyatakan kepala tersebut milik Raja Henry IV. Namun, DNA yang diambil telah terkontaminasi dan tidak ada DNA pembanding. Sehingga sulit untuk menganalisa dan mendapatkan kesimpulan yang definitif.
Saputangan ini kemudian disimpan dalam sebuah kendi berbentuk labu dan akhirnya dimiliki oleh keluarga kaya di Italia.
Teks pada kendi labu tersebut menceritakan kisah mengerikan: "Pada tanggal 21 Januari, Maximilien Bourdaloue mencelupkan saputangan dalam darah Louis XVI setelah pemenggalan kepalanya."
Tahun ini para ahli forensik yang awalnya mempelajari penggalan kepala mumi milik Raja Henry IV, mengirim DNA kepada tim peneliti. DNA baru ini tidak rusak parah sehingga Lalueza-Fox dan rekan-rekannya bisa mendapatkan bagian dari kromosom Y, yakni kromosom yang sering digunakan untuk mengidentifikasi garis keturunan laki-laki.
Dengan membandingkan kromosom Y di kedua sampel, tim menyimpulkan bahwa kedua orang itu 250 kali lebih mungkin terkait genetik dibandingkan tidak memiliki kaitan. Kedua sampel memiliki varian genetik karakteristik wilayah Bourbon Prancis, dan mereka varian yang sangat jarang terjadi di Eropa saat ini.
Mengingat sejarah di balik sampel, temuan baru ini mengonfirmasi bahwa kedua darah kering ialah milik Raja Louis XVI sekaligus memverifikasi bahwa penggalan kepala yang dibalsem ialah milik Raja Henry IV.
(Zika Zakiya/Umi Rasmi. Sumber: Live Science)
Sabtu, 22 Agustus 2015
Kisah perlawanan Pak Sakera hingga mati digantung Belanda
Sakera. ©film Pak Sakerah
Kisah Pak Sakera memang tidak banyak ditemukan dalam literatur buku-buku sejarah. Apalagi tokoh Madura yang dikenal berani melawan Belanda ini belum masuk sebagai pahlawan nasional. Namun demikian, epos perjuangan Sakera populer bagi masyarakat Jawa Timur, terutama di Pasuruan dan Madura dan tetap awet lewat cerita-cerita ludruk.
Bahkan kisah Pak Sakera ini juga pernah menghiasi layar televisi pada tahun 80-an. Misalnya lewat tayangan ludruk di TVRI maupun lewat film layar lebar yang dibuat pada 1982 silam dengan tokoh utama W.D. Mochtar sebagai Sakera.
Lalu bagaimana kisah Sakera yang disebut-sebut tewas dihukum gantung oleh Belanda itu?
Berdasar cerita tutur dan kisah-kisah dalam ludruk, Sakera bernama asli Sadiman lahir dari keluarga ningrat dari kelas MAS di Kelurahan Raci, Kota Bangil, Pasuruan, Jawa Timur, pada abad 19 ketika negeri ini di jajah Belanda. Sakera tumbuh menjadi jagoan di daerahnya, sehingga akhirnya dia bekerja sebagai mandor di perkebunan tebu milik Pabrik Gula Kancil Mas Bangil di Pasuruan, Jawa Timur.
Tampang Sakera digambarkan sangar dengan kumis lebat dan udeng di kepala. Namun demikian dia bukan lah mandor jahat, tapi sebaliknya dia adalah mandor baik dan sangat memperhatikan kesejahteraan para pekerja hingga dijuluki sebagai Pak Sakera (Sakera dalam bahasa kawi artinya ringan tangan, akrab/banyak teman).
Sakera memiliki dua istri, yang pertama bernama Ginten sementara istri kedua bernama Marlena. Dia juga merawat keponakannya bernama Brodin. Kehidupan keluarga Sakera awalnya bahagia sebelum dia dicap sebagai pembunuh dan menjadi buron kompeni.
Kisah perlawanan Sakera bermula setelah musim giling selesai, yakni ketika pabrik gula tersebut membutuhkan banyak lahan baru untuk menanam tebu. Karena kepentingan itu, orang Belanda pemimpin pabrik gula itu ingin membeli lahan perkebunan yang luas dengan harga semurah-murahnya.
Dengan cara licik pimpinan pabrik menyuruh carik di Kampung Rembang agar menyediakan lahan baru bagi perusahaan dalam jangka waktu singkat dan murah dengan iming-iming harta dan kekayaan. Bisa ditebak, si carik silau dengan iming-iming harta sehingga bersedia memenuhi keinginan tersebut.
Si carik lalu menggunakan cara-cara kekerasan kepada rakyat untuk memenuhi ambisi perusahaan Belanda tersebut. Sakera yang melihat ketidakadilan ini mencoba selalu membela rakyat sehingga berkali kali upaya carik Rembang itu gagal. Dia lantas melaporkan hal ini kepada pemimpin perusahaan. Benar saja, pemimpin perusahaan marah dan mengutus wakilnya, Markus untuk membunuh Sakera.
sumber: www.merdeka.com
Jumat, 08 Mei 2015
Chairil Anwar - Sang Sastrawan Indonesia
![]() |
| Chairil Anwar |
Chairil Anwar dijuluki sebagai "Si
Binatang Jalang" (dari karyanya yang berjudul Aku), adalah penyair
terkemuka Indonesia. Ia diperkirakan telah menulis 96 karya, termasuk 70 puisi.
Bersama Asrul Sani dan Rivai Apin, ia dinobatkan oleh H.B. Jassin sebagai
pelopor Angkatan '45 sekaligus puisi modern Indonesia.
Chairil lahir dan dibesarkan di Medan, sebelum
pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dengan ibunya pada tahun 1940, dimana ia
mulai menggeluti dunia sastra. Setelah mempublikasikan puisi pertamanya pada
tahun 1942, Chairil terus menulis. Pusinya menyangkut berbagai tema, mulai dari
pemberontakan, kematian, individualisme, dan eksistensialisme, hingga tak
jarang multi-interpretasi.
Chairil Anwar dibesarkan dalam keluarga yang
kurang harmonis. Orang tuanya bercerai, dan ayahnya menikah lagi. Ia merupakan anak satu-satunya dari
pasangan Toeloes dan Saleha, keduanya berasal dari kabupaten Lima Puluh Kota,
Sumatera Barat. Jabatan terakhir ayahnya adalah sebagai bupati Inderagiri,
Riau. Ia masih punya pertalian keluarga dengan Sutan Sjahrir, Perdana Menteri
pertama Indonesia. Sebagai anak tunggal, orang tuanya
selalu memanjakannya. Namun,
Chairil cenderung bersikap keras kepala dan tidak ingin kehilangan apa pun;
sedikit cerminan dari kepribadian orang tuanya.
Chairil Anwar mulai mengenyam pendidikan di
Hollandsch-Inlandsche School (HIS), sekolah dasar untuk orang-orang pribumi
pada masa penjajahan Belanda. Ia kemudian meneruskan pendidikannya di Meer
Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO). Saat usianya mencapai 18 tahun, ia tidak
lagi bersekolah. Chairil mengatakan bahwa sejak usia
15 tahun, ia telah bertekad menjadi seorang seniman.
Pada usia 19 tahun, setelah perceraian orang
tuanya, Chairil bersama ibunya pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) dimana ia
berkenalan dengan dunia sastra; walau telah bercerai, ayahnya tetap
menafkahinya dan ibunya. Meskipun
tidak dapat menyelesaikan sekolahnya, ia dapat menguasai berbagai bahasa asing
seperti Inggris, Belanda, dan Jerman.
Ia juga mengisi jam-jamnya dengan membaca karya-karya pengarang internasional
ternama, seperti: Rainer Maria Rilke, W.H. Auden, Archibald MacLeish, Hendrik
Marsman, J. Slaurhoff, dan Edgar du Perron. Penulis-penulis tersebut sangat
memengaruhi tulisannya dan secara tidak langsung terhadap tatanan kesusasteraan
Indonesia.
Bukan kematian benar yang menusuk kalbu/ Keridlaanmu menerima segala tiba/ Tak kutahu setinggi itu atas debu/ Dan duka maha tuan bertahta
Sesudah nenek, ibu adalah wanita kedua yang paling Chairil puja. Dia bahkan terbiasa membilang nama ayahnya, Tulus, di depan sang Ibu, sebagai tanda menyebelahi nasib si ibu. Dan di depan ibunya, Chairil acapkali kehilangan sisinya yang liar. Beberapa puisi Chairil juga menunjukkan kecintaannya pada ibunya.
Sejak kecil, semangat Chairil terkenal kedegilannya. Seorang teman dekatnya Sjamsul Ridwan, pernah membuat suatu tulisan tentang kehidupan Chairil Anwar ketika semasa kecil. Menurut dia, salah satu sifat Chairil pada masa kanak-kanaknya ialah pantang dikalahkan, baik pantang kalah dalam suatu persaingan, maupun dalam mendapatkan keinginan hatinya.
Keinginan dan hasrat untuk mendapatkan itulah yang menyebabkan jiwanya selalu meluap-luap, menyala-nyala, boleh dikatakan tidak pernah diam.
Rakannya, Jassin pun punya kenangan tentang ini. “Kami pernah bermain bulu tangkis bersama, dan dia kalah. Tapi dia tak mengakui kekalahannya, dan mengajak bertanding terus. Akhirnya saya kalah. Semua itu kerana kami bertanding di depan para gadis.”
Wanita adalah dunia Chairil sesudah buku. Tercatat nama Ida, Sri Ayati, Gadis Rasyid, Mirat, dan Roosmeini sebagai gadis yang dikejar-kejar Chairil. Dan semua nama gadis itu bahkan masuk ke dalam puisi-puisi Chairil. Namun, kepada gadis Karawang, Hapsah, Chairil telah menikahinya.
Pernikahan itu tak berumur panjang. Disebabkan kesulitan ekonomi, dan gaya hidup Chairil yang tak berubah, Hapsah meminta pisah. Saat anaknya berumur 7 bulan, Chairil pun menjadi duda.
Tak lama setelah itu, pukul 15.15 WIB, 28 April 1949, Chairil meninggal dunia. Ada beberapa versi tentang sakitnya. Tapi yang pasti, TBC kronis dan sipilis.
Umur Chairil memang pendek, 27 tahun. Tapi kependekan itu meninggalkan banyak hal bagi perkembangan kesusasteraan Indonesia. Malah dia menjadi contoh terbaik, untuk sikap yang tidak bersungguh-sungguh di dalam menggeluti kesenian. Sikap inilah yang membuat anaknya, Evawani Chairil Anwar, seorang notaris di Bekasi, harus meminta maaf, saat mengenang kematian ayahnya, di tahun 1999, “Saya minta maaf, karena kini saya hidup di suatu dunia yang bertentangan dengan dunia Chairil Anwar.”
KUMPULAN PUISI CHAIRIL ANWAR
*
Deru Campur Debu (1949)
*
Kerikil Tajam dan Yang Terampas dan Yang Putus (1949)
*
Tiga Menguak Takdir (1950) (dengan Asrul Sani dan Rivai Apin)
*
"Aku Ini Binatang Jalang: koleksi sajak 1942-1949", disunting oleh
Pamusuk Eneste, kata penutup oleh Sapardi Djoko Damono (1986)
*
Derai-derai Cemara (1998)
*
Pulanglah Dia Si Anak Hilang (1948), terjemahan karya Andre Gide
*
Kena Gempur (1951), terjemahan karya John Steinbeck
PUISI KARYA CHAIRIL ANWAR YANG DITERJEMAHKAN
DALAM BAHASA ASING
Karya-karya Chairil juga banyak diterjemahkan
ke dalam bahasa asing, antara lain bahasa Inggris, Jerman dan Spanyol.
Terjemahan karya-karyanya di antaranya adalah:
*
"Sharp gravel, Indonesian poems", oleh Donna M. Dickinson (Berkeley,
California, 1960)
*
"Cuatro poemas indonesios [por] Amir Hamzah, Chairil Anwar, Walujati"
(Madrid: Palma de Mallorca, 1962)
*
Chairil Anwar: Selected Poems oleh Burton Raffel dan Nurdin Salam (New York,
New Directions, 1963)
*
"Only Dust: Three Modern Indonesian Poets", oleh Ulli Beier (Port
Moresby [New Guinea]: Papua Pocket Poets, 1969)
*
The Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan
oleh Burton Raffel (Albany, State University of New York Press, 1970)
*
The Complete Poems of Chairil Anwar, disunting dan diterjemahkan oleh Liaw Yock
Fang, dengan bantuan H. B. Jassin (Singapore: University Education Press, 1974)
*
Feuer und Asche: sämtliche Gedichte, Indonesisch/Deutsch oleh Walter Karwath
(Wina: Octopus Verlag, 1978)
*
The Voice of the Night: Complete Poetry and Prose of Chairil Anwar, oleh Burton
Raffel (Athens, Ohio: Ohio University, Center for International Studies, 1993)
KARYA KARYA UNTUK MENGENANG CHAIRIL ANWAR
*
Chairil Anwar: memperingati hari 28 April 1949, diselenggarakan oleh Bagian
Kesenian Djawatan Kebudajaan, Kementerian Pendidikan, Pengadjaran dan
Kebudajaan (Djakarta, 1953)
*
Boen S. Oemarjati, "Chairil Anwar: The Poet and his Language" (Den
Haag: Martinus Nijhoff, 1972).
*
Abdul Kadir Bakar, "Sekelumit pembicaraan tentang penyair Chairil
Anwar" (Ujung Pandang: Lembaga Penelitian dan Pengembangan Ilmu-Ilmu
Sastra, Fakultas Sastra, Universitas Hasanuddin, 1974)
*
S.U.S. Nababan, "A Linguistic Analysis of the Poetry of Amir Hamzah and
Chairil Anwar" (New York, 1976)
*
Arief Budiman, "Chairil Anwar: Sebuah Pertemuan" (Jakarta: Pustaka
Jaya, 1976)
*
Robin Anne Ross, Some Prominent Themes in the Poetry of Chairil Anwar,
Auckland, 1976
*
H.B. Jassin, "Chairil Anwar, pelopor Angkatan '45, disertai kumpulan hasil
tulisannya", (Jakarta: Gunung Agung, 1983)
*
Husain Junus, "Gaya bahasa Chairil Anwar" (Manado: Universitas Sam
Ratulangi, 1984)
*
Rachmat Djoko Pradopo, "Bahasa puisi penyair utama sastra Indonesia
modern" (Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa, Departemen
Pendidikan dan Kebudayaan, 1985)
*
Sjumandjaya, "Aku: berdasarkan perjalanan hidup dan karya penyair Chairil
Anwar (Jakarta: Grafitipers, 1987)
*
Pamusuk Eneste, "Mengenal Chairil Anwar" (Jakarta: Obor, 1995)
*
Zaenal Hakim, "Edisi kritis puisi Chairil Anwar" (Jakarta: Dian
Rakyat, 1996)
PUISI “AKU” KARYA CHAIRIL ANWAR
![]() |
| Puisi Karya Chairil Anwar |
Kalau sampai waktuku
Ku mau tak seorang kan merayu
Tidak juga kau
Tak perlu sedu sedan itu
Aku ini binatang jalang
Dari kumpulannya terbuang
Biar peluru menembus kulitku
Aku tetap meradang menerjang
Luka dan bisa kubawa berlari
Berlari
Hingga hilang pedih peri
Dan aku akan lebih tidak perduli
Aku mau hidup seribu tahun lagi
Maret 1943. (http://biografi-orang-sukses-dunia.blogspot.com)
Senin, 06 April 2015
Ir. Djuanda Kartawijaya
Oleh: Didik Prajoko, M.Hum. & Asep Kambali, S.Pd.
Hari ini tidak nampak satu pun status FB/FS/Twitter,dll. tentang Hari Nusantara. Sedih sekali, padahal pada 13 Desember 1957 perdana menteri Ir.H. Djuanda telah melakukan terobosan besar dalam mengintegrasikan seluruh wilayah kepulauan & laut yang menjadi wilayah teritorial Indonesia dgn mencanangkan Deklarasi Djuanda. Namanya diabadikan sebagai nama jalan, bendungan, stasiun KA, bahkan bandara. Tp trnyta qta tdk mngenalnya, karena kita telah melupakannya :”( Mari blajar lagi sejarah! ;-)
12462_238547933451_798268451_4334529_6124757_a Nggak banyak generasi masa kini yang mengenal sosok Ir. H. Djuanda Kartawidjaja, meski namanya sudah sangat banyak diabadikan ke dalam nama jalan, nama bendungan, nama stasiun kereta api (di Jakarta) dan bahkan nama bandar udara di kota Surabaya. Banyak tokoh-tokoh yang hidup semasanya juga berpikir yang sama bahwa dalam dua puluh tahun terakhir ini namanya tidak menjadi buah bibir generasi muda, padahal Ir. H. Djuanda Kartawidjaja telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasiona RI. Walah, jangan-jangan banyak para elit Republik ini mengalami sindrom yang sama, yaitu sama sekali tidak mengenalnya. Ironis…
Tentunya hal ini menjadi kepedulian kita bersama. Perlu diketahui, bahwa sejak masa awal kemerdekaan (1946) sampai meninggalnya 6 Nopember 1963 dalam usia 52 tahun, Ir. H. Djuanda K. selalu mendapat kepercayaan menjadi menteri dalam berbagai kabinet, bahkan ketika meninggal masih menjabat sebagai Menteri Pertama antara tahun 1959-1963, dan sebelumnya adalah Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan selama tahun 1957-1959.
Ir. H. Djuanda dilahirkan di Tasikmalaya, 14 januari 1911, merupakan anak pertama pasangan Raden Kartawidjaja dan Nyi Monat, ayahnya seorang Mantri Guru pada Hollandsch Inlansdsch School (HIS). Pendidikan sekolah dasar diselesaikan di HIS dan kemudian pindah ke sekolah untuk anak orang Eropa Europesche Lagere School (ELS), tamat tahun 1924. Selanjutnya oleh ayahnya dimasukkan ke sekolah menengah khusus orang Eropa yaitu Hogere Burger School (HBS) di Bandung, dan lulus tahun 1929. Pada tahun yang sama dia masuk ke sekolah Tinggi Teknik (Technische Hooge School) di Bandung, mengambil jurusan teknik sipil dan lulus tahun 1933. Semasa mudanya Djuanda hanya aktif dalam organisasi non politik yaitu Paguyuban Pasundan dan anggota Muhamadiyah, dan pernah menjadi pimpinan sekolah Muhamadiyah. Karir selanjutnya dijalaninya sebagai pegawai Departemen Pekerjaan Umum propinsi Jawa Barat, Hindia Belanda sejak tahun 1939.
Ir. Djuanda oleh kalangan pers dijuluki ‘menteri marathon’ karena sejak awal kemerdekaan (1946) sudah menjabat sebagai menteri muda perhubungan sampai menjadi Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan (1957-1959) sampai menjadi Menteri Pertama pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1963). Sehingga dari tahun 1946 sampai meninggalnya tahun 1963, beliau menjabat sekali sebagai menteri muda, 14 kali sebagai menteri, dan sekali menjabat Perdana Menteri.
Pada saat diangkat oleh presiden Soekarno sebagai Perdana Menteri dalam Kabinet Karya, Ir. Djuanda bukanlah orang partai, sehingga ‘Kabinet Karya’ ini beranggotakan para menteri yang dipilih berdasarkan keahliannya bukan berdasarkan asal partainya. Pada saat menjabat sebagai perdana menteri inilah, Ir. Djuanda harus menghadapi dan menyelesaikan berbagai persoalan bangsa yang berat dan rumit. Beberpa diantarannya adalah masalah ketegangan hubungan antara presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta yang mengundurkan diri tahun 1956. Selain itu pergolakan di daerah semakin memanas dengan ketidakpuasan elit politik dan militer di daerah seperti di Sumatera barat, Sumatera Utara, Sulawesi Utara. Selain itu pemerintahan Djuanda juga harus mengatasi pemberontakan Darul Islam (DI/TII) di Jawa barat, Aceh dan Sulawesi Selatan dan Tenggara, Republik Maluku Selatan (RMS) di Ambon dan Seram, dan juga masalah provinsi Irian Barat yang masih diduduki oleh Belanda.
Sebagai perdana menteri, Djuanda memprakarsai kegiatan yang berusaha untuk menormalisasi keadaan dan menegakkan keutuhan Negara Republik Indonesia. Untuk itulah diadakan Musyawarah Nasional yang mengundang para penguasa sipil dan militer di daerah, tokoh-tokoh Indonesia yang dianggap mampu memberikan masukan-masukan yang positif sesuai dengan tujuan Munas. Acara diadakan di Gedung Proklamasi Jl. Pegangsaan Timur no. 56. Presiden Soekarno dan mantan Wakil Presiden Moh. Hatta juga bersedia hadir dalam acara tersebut. Kehadiran tokoh ‘dwi tunggal’ diharapkan dapat mempengaruhi para elit lokal untuk mau duduk dan bermusyawarah memecahkan berbagai masalah kebangsaan yang tengah mengancam keutuhan Negara RI. Acara Munas dimulai tanggal 10 September 1957 dan berlangsung sampai 14 September 1957.
Dalam pembukaan Munas, Ir. Djuanda menekankan pentingnya segala komponen bangsa untuk memikirkan pemecahan masalah yang membuat Negara RI berjalan tidak normal. Dengan membawa kepentingan negara dan bangsa di atas kepentingan golongan atau partai. Sementara itu Bung karno dan Bung Hatta mengingatkan kembali agar segenap komponen bangsa mengambil teladan dari proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 sebagai jiwa yang membawa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, mengingat munas ini juga diselenggarakan di gedung Proklamasi Jl. Pegangsaan No 56.
Munas ini secara umum cukup berhasil meredam ketegangan antara pusat dan daerah untuk sementara waktu. Memburuknya hubungan RI dan Belanda menimbulkan gejolak di Indonesia, sehingga terjadi kekacauan dalam pengambilalihan asset-asset milik Belanda dan ditambah lagi terjadinya ‘Peristiwa Cikini’ pada tanggal 30 Nopember 1957 yaitu peledakan granat di sekolah Cikini ketika Soekarno berkunjung ke sekolah anaknya tersebut, Soekarno selamat tetapi banyak yang tewas akibat ledakan granat tersebut. Peristiwa ini berkembang dan meningkatkan suhu politik di dalam negeri, termasuk penangkapan-penangkapan yang dilakukan oleh aparat keamanan. Keadaan menjadi tidak stabil ketika komandan-komandan militer dibeberapa daerah meminta agar Kabinet Djuanda dibubarkan atau mengundurkan diri. Sehingga memasuki 1958 situasi pergolakan mulai memuncak dan meletus di Sumatera Barat (PRRI) dan Sulawesi Utara (Permesta).
Namun dari semua kesulitan yang dihadapi oleh Kabinet Djuanda dan juga bangsa Indonesia umumnya. Perdana menteri Djuanda ternyata mampu melakukan terobosan besar dalam upanya mengintegrasikan seluruh wilayah kepulauan dan laut yang menjadi wilayah territorial Indonesia dengan mencanangkan Deklarasi Djuanda pada tanggal 13 Desember 1957, yang berbunyi:
”segala perairan disekililing dan diantara pulau-pulau di Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari daratan dan berada di bawah kedaulatan Indonesia”.
Pernyataan ini dibacakan dalam sidang Kabinet oleh Perdana menteri Djuanda sebagai landasan hukum bagi penyusunan Rancangan Undang Undang yang nantinya dipergunakan untuk menggantikan Territoriale Zee and Maritime Kringen Ordonantie tahun 1939, terutama pasal 1 ayat 1 yang menyatakan wilayah territorial Indonesia hanya 3 mill diukur dari garis air rendah setiap palung. Hal ini mengakibatkan wilayah perairan antara pulau-pulau di Indonesia menjadi kantung-kantung internasional yang dapat dimanfaatkan oleh pihak luar, dan waktu itu banyak kapal-kapal perang Belanda yang melintasi laut-laut dalam kita menuju Irian Barat dengan memanfaatkan hukum territorial laut tahun 1939.
Penyusunan Deklarasi Djuanda yang sangat penting ini tidak terlepas dari peran. Mochtar Kusumaatmadja yang pada saat itu adalah anggota panitia rancangan Undang-undang (RUU) Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim. “Ketika RUU sedang dalam proses penyelesaian dengan menetapkan wilayah laut territorial Indonesia adalah 12 mil dari garis air rendah. Bulan oktober 1957, menteri Chaerul Saleh mendatangi saya dan mengatakan bahwa RUU tersebut tidak banyak berguna untuk menutup Laut Jawa dari pelayaran kapal-kapal asing terutama kapal perang Belanda. Mochtar kemudian menyusun draft deklarasi atas seizin Letkol Laut Pirngadi, ketua Panitia RUU Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim dan juga Kepala Staff Operasi Angkatan Laut.” kata Mochtar.
Pada tanggal 13 Desember 1957, panitia RUU Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim dipanggil PM. Djuanda di Pejambon, Jakarta. Letkol Pirngadi dan Mochtar kusumatmadja kemudian dipersilahkan menjelaskan peta Indonesia yang sudah menggunakan konsep laut “antara” sebagai wilayah territorial Indonesia bukan hanya 3 mil atau 12 mil dari garis air rendah. Hasil rapat kabinet kemudian memutuskan konsep yang menyatakan bahwa; ”segala perairan disekililing dan diantara pulau-pulau di Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari daratan dan berada dibawah kedaulatan Indonesia” diterima sebagai keputusan rapat. Kemudian keputusan ini diumumkan oleh PM Djuanda, yang kemudian dikenal dengan Deklarasi Djuanda, yang memiliki arti yang strategis bagi perjuangan bangsa Indonesia untuk meningkatkan pembangunan dan memantapkan kesatuan nasionalnya. Dengan demikian wilayah laut kita dihitung 12 mil dari garis-garis dasar yang menghubungkan titik-titik terluar dari pulau-pulau Indonesia yang terluar, dengan demikian luas territorial Indonesia berkembang dari dua juta km2 menjadi lima juta km2.
Meskipun Deklarasi Djuanda belum diakui secara internasional, namun oleh pemerintah RI, deklarasi ini diundangkan melalui keputusan Undang-Undang/Prp No. 4/1960, bulan Februari 1960. UU ini kemudian diperkuat dengan Keputusan presiden no. 103/1963 yang menetapkan seluruh perairan Nusantara Indonesia sebagai satu lingkungan laut yang berada di bawah pengamanan Angkatan laut RI. Berbagai peraturan ini juga menimbulkan kecaman dari dunia Internasional, namun Indonesia tetap bersikukuh bahwa deklarasi Djuanda merupkan solusi yang terbaik untuk menjaga keutuhan laut Indonesia dan dipergunakan untuk kemamkmuran rakyat Indonesia.
Dalam konferensi Hukum laut PBB ke-3, Indonesia memprjuangkan konsep kesatuan kewilayahan Nasional yang meliputi wilayah darat, laut dan udara dan seluruh kekayaan alam yang terkandung didalamnya. Konsep ini kemudian diakui dalam konvensi Hukum laut PBB di Montego Bay (Jamaika) pada tanggal 10 Desember 1982. Indonesia kemudian meratifikasinya dalam UU No. 17/1985 pada tanggal 31 Desember 1985. akhirnya setelah 25 tahun menunggu Deklarasi Djuanda telah diakui oleh PBB, namun baru diakui secara internasional sejak 16 Nopember 1994, setelah 60 negara meratifikasinya. Hal ini berarti butuh waktu 37 tahun sejak Deklarasi Djuanda Kesatuan Kewilayahan Indonesia diakui oleh dunia Internasional. Saat ini dengan diberlakukannya Zona Ekonomi Eksklusif sejauh 200 mil dari garis dasar perairan maka wilayah yang dapat dikelola ekonominya termasuk wilayah laut seluas delapan juta km2, enam juta km2 diantaranya adalah wilayah perairan laut. Sosok diplomat dan ahli hukum laut Indonesia yang sangat aktif memperjuangan cita-cita deklarasi Djuanda adalah selain prof. Dr, Mochtar Kusumaatmadja adalah prof. Dr. Hashim Djalal yang dengan aktif mengikuti berbagai sidang PBB tentang hukum laut, sejak tahun 1970-an sampai 1990-an. Hashim Djalal menyelesaikan gelar Doktor tentang hukum laut pada Universitas Virginia tahun 1961, karena diilhami oleh Deklarasi Djuanda. Bahkan dia juga menggagas Rancangan peraturan pemerintah temntang lalu Lintas Laut Damai Kendaraan Air Asing melalui Perairan Nusantara Indonesia, pada bulan Juli 1962, yang kemudian disetujui oleh kabinet dan dijadikan Peraturan pemerintah No. 8/1962.
Demikianlah Deklarasi Djuanda yang kita peringati setiap tanggal 13 Desember ini merupakan momentum yang dapat dijadikan refleksi sudah sejauh mana wilayah territorial darat dan laut yang sudah diperjuangkan oleh para pendahulu kita termasuk Prof. Dr. Mochtar kusumaatmadja dan Prof. Dr. Hashim Djalal dapat kita ambil semangatnya bagi pembangunan Indonesia yang lebih baik. Kehilangan Sipadan dan Ligitan, hilangnya pulau-pulau di selat Malaka akibat pengerukan pasir yang dijual ke Singapura dan masalah-masalah pulau terdepan kita yang rentan dijarah oleh pihak luar. Sudah selayaknya dalam peringatan Deklarasi Djuanda para elit sipil dan militer negeri ini selalu mengedepankan kinerjanya agar jangan sampai wilayah territorial kita berkurang karena ketidakpedulian kita terhadap territorial laut dan pulau-pulau di perbatasan dengan Negara lain. Peringtan Deklarasi Djuanda dapat dimaknai sebagai tanggung jawab setiap generasi untuk menjiwai semangat deklarasi tersebut. Maka, fahami dan dalamilah segenap ruh dan jiwa dari deklarasi itu, agar kita tidak kehilangan apa yang seharusnya menjadi hak kita dan generasi setelah kita.
Naskah:
Tim Panitia Seminar dan Pameran 50 Tahun Deklarasi Djuanda. Direktorat Georgrafi Sejarah Departemen Kebudayaan & Pariwisata RI.
Disarikan oleh:
Didik Prdjoko, M.Hum dan Drs. Asep Kambali
Sumber:
I.O. Nanulaita, Ir. Haji Juanda Kartawijaya, Depdikbud, IDSN, 1980/1981
Awaloedin Djamin, ed., Pahlawan Nasional Ir. H. Djuanda: Negarawan, Administrator dan Teknokrat Utama, Jakarta, Kompas, 2001
Hari ini tidak nampak satu pun status FB/FS/Twitter,dll. tentang Hari Nusantara. Sedih sekali, padahal pada 13 Desember 1957 perdana menteri Ir.H. Djuanda telah melakukan terobosan besar dalam mengintegrasikan seluruh wilayah kepulauan & laut yang menjadi wilayah teritorial Indonesia dgn mencanangkan Deklarasi Djuanda. Namanya diabadikan sebagai nama jalan, bendungan, stasiun KA, bahkan bandara. Tp trnyta qta tdk mngenalnya, karena kita telah melupakannya :”( Mari blajar lagi sejarah! ;-)
12462_238547933451_798268451_4334529_6124757_a Nggak banyak generasi masa kini yang mengenal sosok Ir. H. Djuanda Kartawidjaja, meski namanya sudah sangat banyak diabadikan ke dalam nama jalan, nama bendungan, nama stasiun kereta api (di Jakarta) dan bahkan nama bandar udara di kota Surabaya. Banyak tokoh-tokoh yang hidup semasanya juga berpikir yang sama bahwa dalam dua puluh tahun terakhir ini namanya tidak menjadi buah bibir generasi muda, padahal Ir. H. Djuanda Kartawidjaja telah ditetapkan sebagai Pahlawan Nasiona RI. Walah, jangan-jangan banyak para elit Republik ini mengalami sindrom yang sama, yaitu sama sekali tidak mengenalnya. Ironis…
Tentunya hal ini menjadi kepedulian kita bersama. Perlu diketahui, bahwa sejak masa awal kemerdekaan (1946) sampai meninggalnya 6 Nopember 1963 dalam usia 52 tahun, Ir. H. Djuanda K. selalu mendapat kepercayaan menjadi menteri dalam berbagai kabinet, bahkan ketika meninggal masih menjabat sebagai Menteri Pertama antara tahun 1959-1963, dan sebelumnya adalah Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan selama tahun 1957-1959.
Ir. H. Djuanda dilahirkan di Tasikmalaya, 14 januari 1911, merupakan anak pertama pasangan Raden Kartawidjaja dan Nyi Monat, ayahnya seorang Mantri Guru pada Hollandsch Inlansdsch School (HIS). Pendidikan sekolah dasar diselesaikan di HIS dan kemudian pindah ke sekolah untuk anak orang Eropa Europesche Lagere School (ELS), tamat tahun 1924. Selanjutnya oleh ayahnya dimasukkan ke sekolah menengah khusus orang Eropa yaitu Hogere Burger School (HBS) di Bandung, dan lulus tahun 1929. Pada tahun yang sama dia masuk ke sekolah Tinggi Teknik (Technische Hooge School) di Bandung, mengambil jurusan teknik sipil dan lulus tahun 1933. Semasa mudanya Djuanda hanya aktif dalam organisasi non politik yaitu Paguyuban Pasundan dan anggota Muhamadiyah, dan pernah menjadi pimpinan sekolah Muhamadiyah. Karir selanjutnya dijalaninya sebagai pegawai Departemen Pekerjaan Umum propinsi Jawa Barat, Hindia Belanda sejak tahun 1939.
Ir. Djuanda oleh kalangan pers dijuluki ‘menteri marathon’ karena sejak awal kemerdekaan (1946) sudah menjabat sebagai menteri muda perhubungan sampai menjadi Perdana Menteri dan Menteri Pertahanan (1957-1959) sampai menjadi Menteri Pertama pada masa Demokrasi Terpimpin (1959-1963). Sehingga dari tahun 1946 sampai meninggalnya tahun 1963, beliau menjabat sekali sebagai menteri muda, 14 kali sebagai menteri, dan sekali menjabat Perdana Menteri.
Pada saat diangkat oleh presiden Soekarno sebagai Perdana Menteri dalam Kabinet Karya, Ir. Djuanda bukanlah orang partai, sehingga ‘Kabinet Karya’ ini beranggotakan para menteri yang dipilih berdasarkan keahliannya bukan berdasarkan asal partainya. Pada saat menjabat sebagai perdana menteri inilah, Ir. Djuanda harus menghadapi dan menyelesaikan berbagai persoalan bangsa yang berat dan rumit. Beberpa diantarannya adalah masalah ketegangan hubungan antara presiden Soekarno dan Wakil Presiden Moh. Hatta yang mengundurkan diri tahun 1956. Selain itu pergolakan di daerah semakin memanas dengan ketidakpuasan elit politik dan militer di daerah seperti di Sumatera barat, Sumatera Utara, Sulawesi Utara. Selain itu pemerintahan Djuanda juga harus mengatasi pemberontakan Darul Islam (DI/TII) di Jawa barat, Aceh dan Sulawesi Selatan dan Tenggara, Republik Maluku Selatan (RMS) di Ambon dan Seram, dan juga masalah provinsi Irian Barat yang masih diduduki oleh Belanda.
Sebagai perdana menteri, Djuanda memprakarsai kegiatan yang berusaha untuk menormalisasi keadaan dan menegakkan keutuhan Negara Republik Indonesia. Untuk itulah diadakan Musyawarah Nasional yang mengundang para penguasa sipil dan militer di daerah, tokoh-tokoh Indonesia yang dianggap mampu memberikan masukan-masukan yang positif sesuai dengan tujuan Munas. Acara diadakan di Gedung Proklamasi Jl. Pegangsaan Timur no. 56. Presiden Soekarno dan mantan Wakil Presiden Moh. Hatta juga bersedia hadir dalam acara tersebut. Kehadiran tokoh ‘dwi tunggal’ diharapkan dapat mempengaruhi para elit lokal untuk mau duduk dan bermusyawarah memecahkan berbagai masalah kebangsaan yang tengah mengancam keutuhan Negara RI. Acara Munas dimulai tanggal 10 September 1957 dan berlangsung sampai 14 September 1957.
Dalam pembukaan Munas, Ir. Djuanda menekankan pentingnya segala komponen bangsa untuk memikirkan pemecahan masalah yang membuat Negara RI berjalan tidak normal. Dengan membawa kepentingan negara dan bangsa di atas kepentingan golongan atau partai. Sementara itu Bung karno dan Bung Hatta mengingatkan kembali agar segenap komponen bangsa mengambil teladan dari proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945 sebagai jiwa yang membawa persatuan dan kesatuan bangsa Indonesia, mengingat munas ini juga diselenggarakan di gedung Proklamasi Jl. Pegangsaan No 56.
Munas ini secara umum cukup berhasil meredam ketegangan antara pusat dan daerah untuk sementara waktu. Memburuknya hubungan RI dan Belanda menimbulkan gejolak di Indonesia, sehingga terjadi kekacauan dalam pengambilalihan asset-asset milik Belanda dan ditambah lagi terjadinya ‘Peristiwa Cikini’ pada tanggal 30 Nopember 1957 yaitu peledakan granat di sekolah Cikini ketika Soekarno berkunjung ke sekolah anaknya tersebut, Soekarno selamat tetapi banyak yang tewas akibat ledakan granat tersebut. Peristiwa ini berkembang dan meningkatkan suhu politik di dalam negeri, termasuk penangkapan-penangkapan yang dilakukan oleh aparat keamanan. Keadaan menjadi tidak stabil ketika komandan-komandan militer dibeberapa daerah meminta agar Kabinet Djuanda dibubarkan atau mengundurkan diri. Sehingga memasuki 1958 situasi pergolakan mulai memuncak dan meletus di Sumatera Barat (PRRI) dan Sulawesi Utara (Permesta).
Namun dari semua kesulitan yang dihadapi oleh Kabinet Djuanda dan juga bangsa Indonesia umumnya. Perdana menteri Djuanda ternyata mampu melakukan terobosan besar dalam upanya mengintegrasikan seluruh wilayah kepulauan dan laut yang menjadi wilayah territorial Indonesia dengan mencanangkan Deklarasi Djuanda pada tanggal 13 Desember 1957, yang berbunyi:
”segala perairan disekililing dan diantara pulau-pulau di Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari daratan dan berada di bawah kedaulatan Indonesia”.
Pernyataan ini dibacakan dalam sidang Kabinet oleh Perdana menteri Djuanda sebagai landasan hukum bagi penyusunan Rancangan Undang Undang yang nantinya dipergunakan untuk menggantikan Territoriale Zee and Maritime Kringen Ordonantie tahun 1939, terutama pasal 1 ayat 1 yang menyatakan wilayah territorial Indonesia hanya 3 mill diukur dari garis air rendah setiap palung. Hal ini mengakibatkan wilayah perairan antara pulau-pulau di Indonesia menjadi kantung-kantung internasional yang dapat dimanfaatkan oleh pihak luar, dan waktu itu banyak kapal-kapal perang Belanda yang melintasi laut-laut dalam kita menuju Irian Barat dengan memanfaatkan hukum territorial laut tahun 1939.
Penyusunan Deklarasi Djuanda yang sangat penting ini tidak terlepas dari peran. Mochtar Kusumaatmadja yang pada saat itu adalah anggota panitia rancangan Undang-undang (RUU) Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim. “Ketika RUU sedang dalam proses penyelesaian dengan menetapkan wilayah laut territorial Indonesia adalah 12 mil dari garis air rendah. Bulan oktober 1957, menteri Chaerul Saleh mendatangi saya dan mengatakan bahwa RUU tersebut tidak banyak berguna untuk menutup Laut Jawa dari pelayaran kapal-kapal asing terutama kapal perang Belanda. Mochtar kemudian menyusun draft deklarasi atas seizin Letkol Laut Pirngadi, ketua Panitia RUU Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim dan juga Kepala Staff Operasi Angkatan Laut.” kata Mochtar.
Pada tanggal 13 Desember 1957, panitia RUU Laut Teritorial dan Lingkungan Maritim dipanggil PM. Djuanda di Pejambon, Jakarta. Letkol Pirngadi dan Mochtar kusumatmadja kemudian dipersilahkan menjelaskan peta Indonesia yang sudah menggunakan konsep laut “antara” sebagai wilayah territorial Indonesia bukan hanya 3 mil atau 12 mil dari garis air rendah. Hasil rapat kabinet kemudian memutuskan konsep yang menyatakan bahwa; ”segala perairan disekililing dan diantara pulau-pulau di Indonesia merupakan bagian yang tidak terpisahkan dari daratan dan berada dibawah kedaulatan Indonesia” diterima sebagai keputusan rapat. Kemudian keputusan ini diumumkan oleh PM Djuanda, yang kemudian dikenal dengan Deklarasi Djuanda, yang memiliki arti yang strategis bagi perjuangan bangsa Indonesia untuk meningkatkan pembangunan dan memantapkan kesatuan nasionalnya. Dengan demikian wilayah laut kita dihitung 12 mil dari garis-garis dasar yang menghubungkan titik-titik terluar dari pulau-pulau Indonesia yang terluar, dengan demikian luas territorial Indonesia berkembang dari dua juta km2 menjadi lima juta km2.
Meskipun Deklarasi Djuanda belum diakui secara internasional, namun oleh pemerintah RI, deklarasi ini diundangkan melalui keputusan Undang-Undang/Prp No. 4/1960, bulan Februari 1960. UU ini kemudian diperkuat dengan Keputusan presiden no. 103/1963 yang menetapkan seluruh perairan Nusantara Indonesia sebagai satu lingkungan laut yang berada di bawah pengamanan Angkatan laut RI. Berbagai peraturan ini juga menimbulkan kecaman dari dunia Internasional, namun Indonesia tetap bersikukuh bahwa deklarasi Djuanda merupkan solusi yang terbaik untuk menjaga keutuhan laut Indonesia dan dipergunakan untuk kemamkmuran rakyat Indonesia.
Dalam konferensi Hukum laut PBB ke-3, Indonesia memprjuangkan konsep kesatuan kewilayahan Nasional yang meliputi wilayah darat, laut dan udara dan seluruh kekayaan alam yang terkandung didalamnya. Konsep ini kemudian diakui dalam konvensi Hukum laut PBB di Montego Bay (Jamaika) pada tanggal 10 Desember 1982. Indonesia kemudian meratifikasinya dalam UU No. 17/1985 pada tanggal 31 Desember 1985. akhirnya setelah 25 tahun menunggu Deklarasi Djuanda telah diakui oleh PBB, namun baru diakui secara internasional sejak 16 Nopember 1994, setelah 60 negara meratifikasinya. Hal ini berarti butuh waktu 37 tahun sejak Deklarasi Djuanda Kesatuan Kewilayahan Indonesia diakui oleh dunia Internasional. Saat ini dengan diberlakukannya Zona Ekonomi Eksklusif sejauh 200 mil dari garis dasar perairan maka wilayah yang dapat dikelola ekonominya termasuk wilayah laut seluas delapan juta km2, enam juta km2 diantaranya adalah wilayah perairan laut. Sosok diplomat dan ahli hukum laut Indonesia yang sangat aktif memperjuangan cita-cita deklarasi Djuanda adalah selain prof. Dr, Mochtar Kusumaatmadja adalah prof. Dr. Hashim Djalal yang dengan aktif mengikuti berbagai sidang PBB tentang hukum laut, sejak tahun 1970-an sampai 1990-an. Hashim Djalal menyelesaikan gelar Doktor tentang hukum laut pada Universitas Virginia tahun 1961, karena diilhami oleh Deklarasi Djuanda. Bahkan dia juga menggagas Rancangan peraturan pemerintah temntang lalu Lintas Laut Damai Kendaraan Air Asing melalui Perairan Nusantara Indonesia, pada bulan Juli 1962, yang kemudian disetujui oleh kabinet dan dijadikan Peraturan pemerintah No. 8/1962.
Demikianlah Deklarasi Djuanda yang kita peringati setiap tanggal 13 Desember ini merupakan momentum yang dapat dijadikan refleksi sudah sejauh mana wilayah territorial darat dan laut yang sudah diperjuangkan oleh para pendahulu kita termasuk Prof. Dr. Mochtar kusumaatmadja dan Prof. Dr. Hashim Djalal dapat kita ambil semangatnya bagi pembangunan Indonesia yang lebih baik. Kehilangan Sipadan dan Ligitan, hilangnya pulau-pulau di selat Malaka akibat pengerukan pasir yang dijual ke Singapura dan masalah-masalah pulau terdepan kita yang rentan dijarah oleh pihak luar. Sudah selayaknya dalam peringatan Deklarasi Djuanda para elit sipil dan militer negeri ini selalu mengedepankan kinerjanya agar jangan sampai wilayah territorial kita berkurang karena ketidakpedulian kita terhadap territorial laut dan pulau-pulau di perbatasan dengan Negara lain. Peringtan Deklarasi Djuanda dapat dimaknai sebagai tanggung jawab setiap generasi untuk menjiwai semangat deklarasi tersebut. Maka, fahami dan dalamilah segenap ruh dan jiwa dari deklarasi itu, agar kita tidak kehilangan apa yang seharusnya menjadi hak kita dan generasi setelah kita.
Naskah:
Tim Panitia Seminar dan Pameran 50 Tahun Deklarasi Djuanda. Direktorat Georgrafi Sejarah Departemen Kebudayaan & Pariwisata RI.
Disarikan oleh:
Didik Prdjoko, M.Hum dan Drs. Asep Kambali
Sumber:
I.O. Nanulaita, Ir. Haji Juanda Kartawijaya, Depdikbud, IDSN, 1980/1981
Awaloedin Djamin, ed., Pahlawan Nasional Ir. H. Djuanda: Negarawan, Administrator dan Teknokrat Utama, Jakarta, Kompas, 2001

Langganan:
Postingan (Atom)

