Tampilkan postingan dengan label senjata. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label senjata. Tampilkan semua postingan

Jumat, 11 September 2015

Makna Filosofi Rencong



Meski tidak ditemukan catatan sejarah yang mengisahkan asal usul Rencong, namun asal mula Rencong terekam dalam sebuah legenda Aceh. Dalam sebuah cerita rakyat dikisahkan. 
"Zaman dahulu di daratan Aceh hidup seekor burung raksasa sejenis Rajawali/Garuda, orang Aceh menyebutnya "Geureuda" -yang berarti serakah-. Keberadaan burung raksasa tersebut sangat menggangu kehidupan rakyat. semua jenis tanaman, buah-buahan dan ternak rakyat dilahapnya.

Semua jenis perangkap dan senjata yag digunakan untuk membunuhnya tidak mapan, malah makin lama "Geureuda" tersebut makin beringas melahap tanaman rakyat, mungkin dari legenda itulah sampai sekarang orang Aceh menyebutkan "Geureuda" kepada orang–orang yang serakah/rakus.

Oleh raja yang berkuasa ketika itu, memerintahkan seorang pandai besi yang juga ulama untuk menciptakan sebuah senjata ampuh yang mampu membunuh Geureuda tersebut.

Oleh pandai besi yang mempunyai ilmu maqfirat besi, setelah melakukan puasa, shalat sunat dan berdoa baru menempa besi pilihan dengan campuran beberapa unsur logam menjadi Rencong.

Menyebut senjata rakyat Aceh, selain meriam dan senjata api, yang paling terkenal adalah Rencong. Bahkan, salah satu gelar tanah Aceh disebut juga sebagai “Tanah Rencong”.

Rencong (Reuncong) adalah senjata tradisional dari Aceh. Rencong Aceh memiliki bentuk seperti huruf [ L ] atau lebih tepat seperti tulisan kaligrafi "Bismillah ".

Rencong termasuk dalam kategori dagger atau belati (bukan pisau atau pedang).
Rencong selain simbol kebesaran para bangsawan, merupakan lambang keberanian para pejuang dan rakyat Aceh di masa perjuangan. Keberadaan rencong sebagai simbol keberanian dan kepahlawanan masyarakat Aceh terlihat bahwa hampir setiap pejuang Aceh, membekali dirinya dengan rencong sebagai alat pertahanan diri.

Namun sekarang, setelah tak lagi lazim digunakan sebagai alat pertahanan diri, rencong berubah fungsi menjadi barang cinderamata yang dapat ditemukan hampir di semua toko kerajinan khas Aceh.

Menurut sejarahnya, rencong memiliki tingkatan. Pertama, rencong yang digunakan oleh raja atau sultan. Rencong ini biasanya terbuat dari gading (sarung) dan emas murni (bagian belatinya). Kedua, rencong-rencong yang sarungnya biasa terbuat dari tanduk kerbau atau kayu, sedangkan belatinya dari kuningan atau besi putih.
Bentuk rencong berbentuk kalimat bismillah, gagangnya yang melekuk kemudian menebal pada sikunya merupakan aksara Arab "Ba", bujuran gagangnya merupaka aksara "Sin", bentuk lancip yang menurun kebawah pada pangkal besi dekat dengan gagangnya merupakan aksara "Mim", lajur besi dari pangkal gagang hingga dekat ujungnya merupakan aksara "Lam", ujung yang meruncing dengan dataran sebelah atas mendatar dan bagian bawah yang sedikit keatas merupakan aksara "Ha".

Rangkain dari aksara Ba, Sin, Lam, dan Ha itulah yang mewujudkan kalimat Bismillah.

Jadi pandai besi yang pertama kali membuat rencong, selain pandai maqrifat besi juga memiliki ilmu kaligrafi yang tinggi. Oleh karena itu , rencong tidak digunakan untuk hal-hal kecil yang tidak penting, apalagi untuk berbuat keji, tetapi rencong hanya digunakan untuk mempertahankan diri dari serangan musuh dan berperang dijalan Allah.

Secara umum, ada empat macam rencong yang menjadi senjata andalan masyarakat Aceh.
  • Rencong Meucugek (Meucungkek), Disebut meucugek karena pada gagang rencong terdapat suatu bentuk panahan dan perekat yang dalam istilah Aceh disebut cugek atau meucugek. Cugek ini diperlukan untuk mudah dipegang dan tidak mudah lepas waktu menikam ke badan lawan atau musuh. 
  • Rencong Meupucok, Rencong ini memiliki pucuk di atas gagangnya yang terbuat dari ukiran logam yang pada umumnya dari emas. Gagang dari rencong meupucok ini kelihatan agak kecil, yakni pada pegangan bagian bawah. Namun, semakin ke ujung gagang ini semakin membesar. Jenis rencong semacam ini digunakan untuk hiasan atau sebagai alat perhiasan. Biasanya, rencong ini dipakai pada upacara-upacara resmi yang berhubungan dengan masaalah adat dan kesenian. 
  • Rencong Pudoi, Rencong jenis ini gagangnya lebih pendek dan berbentuk lurus, tidak seperti rencong umumnya. Terkesan, rencong ini belum sempurna sehingga dikatakan pudoi. Istilah pudoi dalam masyarakat Aceh adalah sesuatu yang diangap masih kekurangan atau masih ada yang belum sempurna. 
  • Rencong Meukuree, Perbedaan rencong meukuree dengan jenis rencong lain adalah pada matanya. Mata rencong jenis ini diberi hiasan tertentu seperti gambar ular, lipan, bunga, dan sebagainya. Gambar-gambar tersebut oleh pandai besi ditafsirkan dengan beragam macam kelebihan dan keistimewaan. Rencong yang disimpan lama, pada mulanya akan terbentuk sejenis aritan atau bentuk yang disebut kuree. Semakin lama atau semakin tua usia sebuah rencong, semakin banyak pula kuree yang terdapat pada mata rencong tersebut. Kuree ini dianggap mempunyai kekuatan magis. 
Rencong yang ampuh biasanya dibuat dari besi-besi pilihan, yang di padu dengan logam emas, perak, tembaga, timah dan zat-zat racun yang berbisa agar bila dalam pertempuran lawan yang dihadapi adalah orang kebal terhadap besi, orang tersebut akan mampu ditembusi rencong.


Gagang rencong ada yang berbentuk lurus dan ada pula yang melengkung keatas. Rencong yang gagangnya melengkung ke atas disebut Reuncong Meucungkek, biasanya gagang tersebut terbuat dari gading dan tanduk pilihan.
Bentuk meucungkek dimaksud agar tidak terjadinya penghormatan yang berlebihan sesama manusia, karena kehormatan yang hakiki hanya milik Allah semata.

Maksudnya, bila rencong meucungkek disisipkan dibagian pinggang atau dibagian pusat, maka orang tersebut tidak bisa menundukkan kepala atau membongkokkan badannya untuk memberi hormat kepada orang lain karena perutnya akan tertekan dengan gagang meucungkek tersebut.

Gagang meucungkek itu juga dimaksudkan agar, pada saat-saat genting dengan mudah dapat ditarik dari sarungnya dan tidak akan mudah lepas dari genggaman.

Satu hal yang membedakan rencong dengan senjata tradisional lainnya adalah rencong tidak pernah diasah karena hanya ujungnya yang runcing saja yang digunakan.
***
(http://www.atjehcyber.net)

Senin, 18 Mei 2015

Mengenal Lebih Jauh Meriam Legenda " Meriam Si Jagur "


Negara kita, Indonesia, bukan cuma kaya akan hasil alam, kesenian, dan budaya, tetapi juga peninggalan sejarah yang tak ternilai harganya. Salah satu peninggalan sejarah yang bernilai adalah Meriam Si Jagur yang sekarang ada di Museum Sejarah Jakarta.

Usia Meriam Si Jagur sudah sangat tua. Meriam ini dibuat di Makau pada abad ke-16 oleh orang Purtugis bernama N.T. Bocarro. Kemudian meriam itu digunakan oleh Portugis sebagai senjata perangnya di sebuah benteng di Malaka (seakrang sebuah daerah di Pulau Sumatra dekat semenanjung Malaysia) untuk melawan Vereenigde Oostindische Compagnie (VOC). VOC adalah Perserikatan Perusahaan Hindia Timur atau Perusahaan Hindia Timur Belanda. VOC didirikan pada tanggal 20 Maret 1602, dan menjadi pemegang kekuasaan jajahan di Indonesia sampai runtuhnya pada tahun 1799. Kembali ke soal Si Jagur. Setelah Malaka jatuh ke tangan VOC Belanda dan Portugis kalah perang pada tahun 1641, meriam ini diboyong ke Batavia (sekarang Jakarta) oleh VOC. Kata Pak Kasirun yang bekerja sebagai Staf Koleksi Museum Sejarah Jakarta, tempat di mana sekarang meriam itu ditaruh, Si Jagur adalah peralatan perang yang dahsyat pada masanya. Bisa kamu bayangkan betapa dahsyatnya meriam itu. Mungkin kalau diibaratkan, meriam itu seperti seorang manusia yang berpangkat Jenderal. Benda bersejarah ini jadi andalan untuk merubuhkan pertahanan musuh.

Saat di Batavia (Jakarta) meriam ini beberapa kali berpindah-pindah tempat. Pak Kasirun bilang, pertama kali berada di sini, meriam ini diletakkan di Jembatan Kota Intan. Jembatan ini sendiri merupakan peninggalan Belanda yang dibangun pada tahun 1628, dan sekarang menjadi benda cagar budaya yang dilindungi pemerintah kita. Setelah Indonesia merdeka, dari Jembatan Kota Intan, meriam ini dipindahkan lagi ke Museum Nasional. Lalu pada tahun 1968, Si Jagur dipindahkan lagi ke Museum Wayang, dekat Museum Sejarah Jakarta yang saat itu belum difungsikan sebagai sebuah museum. Setelah Museum Sejarah Jakarta diresmikan, meriam ini dipindahkan ke Taman Fatahillah, atau di halaman depan Museum SeJarah Jakarta. Baru pada tahun 2002, meriam bernilai ini diletakkan di halaman belakang Museum Sejarah Jakarta sampai sekarang.

Meriam peninggalan Portugis ini berbahan dasar perunggu mempunyai berat 3, 5 ton, dan panjang 3, 81 cm. Yang menarik, konon meriam ini merupakan hasil leburan dari 16 meriam kecil. Ada yang unik kalau kamu perhatikan bentuk meriam ini. Uniknya di mana? Coba kamu perhatikan bagian punggung atau belakang meriam, di sana kamu akan menjumpai sebuah bentuk tangan kanan menggenggam dengan ibu jari terjepit di antara jari telunjuk dan jari tengah. Bentuk ini mempunyai makna yang tidak sembarangan lho. Kata Pak Kasirun, ini merupakan simbol dari kesuburan, kejayaan, dan kekuatan. “Kalau orang berbicara hebat cuma dengan mengacungkan jempol itu sudah biasa. Tetapi kalau menggenggam tangan dengan jempol yang terjepit itu artinya luar baisa,” Katanya. Berarti simbol ini melambangkan sebuah keberanian yang luar biasa. Konon katanya, di samping peralatan perang yang luar baisa, meriam ini juga mempunyai kekuatan mistis. Kekuatan mistis adalah kekuatan di luar panca indera kita dan tidak bisa dijelaskan dengan akal sehat. Pak Kasirun bilang, dulu banyak orang yang “meminta” pertolongan ke meriam ini. Tapi, sekarang seiring perkembangan zaman, benda itu tidak lagi dijadikan benda mistis.

Selain bentuk unik tadi, kalau kamu perhatikan di bagian punggungnya terdapat sebuah tulisan bahasa Latin,”EX ME IPSA RENATA SUM”. Jika diterjemahkan ke dalam bahasa Indonesia, artinya “Dari Diriku Sendiri Aku Dilahirkan Lagi.” Nah, dari sebuah meriam saja jika kamu pintar menghayatinya, kamu bisa belajar soal makna keberanian orang-orang zaman dulu. Belum lagi bentuknya dan hasil pengerjaannya yang unik. Hal itu berarti bahwa orang-orang zaman dahulu tidak kalah hebatnya dalam menghasilkan sebuah benda bernilai. Sekarang, meriam ini merupakan benda yang tidak ternilai harganya dan menjadi warisan sejarah bangsa kita.


Sumber : Mengenal Lebih Jauh Meriam Legenda " Meriam Si Jagur "

Senin, 22 Desember 2014

Meriam Si Amuk Banten

Di kompleks masjid Agung Banten di Serang, terdapat sebuah meriam yang bernama Si Amuk. Menurut cerita masyarakat setempat, meriam ini merupakan jelmaan dari salah satu kakak beradik yang dikutuk pada masa Kerajaan Banten masih berdiri. Meriam ini amat berjasa saat terjadi perang besar di tanah Banten. Dengan suaranya yang menggelegar bagaikan raksasa mengamuk, banyak musuh-musuhnya yang ciut. Inilah kisah meriam si Amuk yang melegenda itu.

Abad ke XVI merupakan masa kejayaannya perkembangan agama Islam di kawasan Nusantara, khususnya di Pulau Jawa. Kerajaan Islam yang pertama tumbuh di Demak, yang kemudian dikenal sebagai pusat kerajaan dan perkembangan Islam. Lalu disusul dengan berdirinya Kerajaan Mataram. Dari Mataram berkembang ke arah Barat, ke Cirebon. Dari Cirebon ke wilayah Banten, yang semula di bawah pemerintahan Kerajaan Hindu Pakuan Padjadjaran.

Saat Banten dibawah pemerintahan Kerajaan Demak inilah, Banten menjadi kota pelabuhan niaga yang cukup terkenal hingga sampai daratan Eropa. Terutama untuk barang niaga jenis rempah-rempah. Keadaan ini tentu saja mengundang orang-orang Eropa untuk datang berniaga ke Banten. Tapi kedatangan mereka di Banten ditolak mentah-mentah oleh Sultan Banten.

Penolakan pertama dilakukan terhadap pedagang berkebangsaan Portugis, yang mengakibatkan timbulnya persengketaan di antara mereka. Sehingga timbullah pikiran orang-orang Portugis untuk menguasai wilayah Banten. Sejak saat itulah cikal bakal perselisihan di antara mereka terjadi, hingga terjadilah cekcok secara fisik dalam peperangan. Dalam pertempuran tersebut Portugis kalah. Dua buah meriam sebagai perlengkapan perang bangsa Portugis berhasil dirampas.

Guna memudahkan membawa kedua meriam itu, oleh seorang tukang pandai besi yang bermukim di kaki sebuah gunung di pedalaman Banten dibuatkan gelang di sebelah kiri dan kanannya. Disamping diberi gelang pada pangkalnya juga diberi tambahan hiasan berbentuk tangan yang sedang mengepal dengan ibu jari menyeruak di antara dua jari.

Pemberian gelang pada kedua meriam tersebut dilakukan oleh seorang pandai besi, desa tempat tinggal pandai besi yang membuat gelang itu lantas dikenal dengan kampung pandai (yang membuat) gelang. Lalu jadilah nama kampung tersebut dikenal dengan kampung Pandaigelang, yang kemudian jadi kota Padegelang. Dan kedua meriam yang diberi gelang itu lalu dikenal sebagai meriam si Amuk dan si Jagur.

Terkena kutukan

Tapi ada juga yang meyakini, bahwa meriam si Amuk dan si Jagur adalah perwujudan dari dua saudara kakak beradik laki-laki dan perempuan yang melanggar larangan. Akibat pelanggaran itu mereka mendapat kutukan dan berubah wujud menjadi dua pasang meriam.

Dikisahkan, pada saat itu wilayah pelabuhan Banten dikenal sebagai pelabuhan niaga rempah-rempah yang cukup terkenal sampai ke daratan Eropa. Munculah suatu bencana peperangan, akibat keinginan bangsa asing (Eropa- Portugis) yang ingin menguasai pelabuhan niaga Banten sebagai wilayah kekuasaannya. Wilayah Banten yang saat itu ada di bawah pemerintahan Kerajaan Demak dalam keadaan terancam.

Sultan Demak lalu mengirim pasukannya ke Banten di bawah pimpinan prajurit-prajurit pilihannya. Di antara prajurit pilihannya itu terdapat tiga bersaudara prajurit yang terjun ke medan laga. Salah satu dari tiga prajurit pilihannya itu ternyata seorang wanita. Dengan gagah berani mereka memimpin anak buahnya menghadang penyerbuan balatentara Portugis yang datang dari arah laut.

Nah, saat menjalankan tugas belanegara itulah dua kakak beradik lelaki dan perempuan yang ternyata kembar itu melanggar larangan. Yakni dengan mandi air laut pada waktu matahari bersinar terik. Akibatnya mereka terkena kutukan leluhur dan berubah wujud menjadi sepasang meriam.

Melihat kejadian yang menimpa saudara kembarnya itu, si adik berniat untuk membawa pulang kedua meriam itu ke Demak untuk dipersembahkan pada rajanya. Untuk memudahkan membawanya, kedua meriam itu lalu dipasangi dua buah gelang oleh seorang pandai besi yang bertempat tinggal disebuah desa di kaki gunung. Ternyata kedua meriam itu juga memberi andil yang cukup besar dalam peperangan yang berkecamuk di pantai Banten.

Kedua meriam itu nampak seperti mengamuk dengan menimbulkan suara menggelegar memuntahkan peluru ke arah musuh-musuhnya. Akibat jasanya itu, kedua meriam itu lalu diberi nama si Amuk dan si Jagur. Sedangkan desa tempat pandai besi yang memberi tambahan gelang pada meriam itu lalu diberi nama Pandaigelang, yang akhirnya menjadi nama kota Pandegelang. Yang menggantikan kota Menes sebagai ibu kota Banten Kulon. (http://ekorisanto.blogspot.com)

Legenda Meriam “Si Jagur”

Si Jagur
Pernahkah dengar nama “Si Jagur”? Nama itu juga adalah nama sebuah meriam peninggalan Portugis. Meriam itu punya 3,5 ton dengan panjang 3,85 meter dan diameter laras 25 sentimeter. Para pengunjung Museum Fatahillah tentu tidak akan asing lagi dengan meriam itu. Sebab, meriam itu masih terpajang di salah satu halaman Museum Fatahillah?
Lalu, apa yang membuat meriam ini terkenal? Konon, meriam ini punya kekuatan mistis yang luar biasa. Konon, ketika meriam ini masih tergeletak di dekat kota Intan, meriam ini banyak dikunjungi peziarah.
Paling banyak peziarah itu adalah kaum perempuan. Umumnya, mereka berharap diberi kesuburan. Tetapi juga ada peziarah laki-kali yang merasa dirinya mandul. Konon kabarnya, usai berziarah dan memohon pada meriam ini, para pemohon akan segera mendapat keturunan.
Itu lantaran di pangkal meriam tersebut terdapat kepalan seperti kepalan Bima: kepalan tangan kanan dengan jempol dijepit oleh jari telunjuk dan jari tengah. Selain itu, di bagian punggung meriam ini terdapat tulisan latin “EX ME IPSA RENATA SUM”—yang kurang lebih berarti: “Dari diriku sendiri, aku dilahirkan lagi”.
Sewaktu masih di dekat Jembatan kota Intan, di sekitar meriam itu sering dipenuhi kembang dan kemenyan. Namun, ketika—pada tahun 1968—dipindah ke depan museum Wayang, peziarah mulai berkurang. Lalu, pada tahun 1974, meriam “Si Jagur” itu dipindah lagi ke halaman Museum Fatahillah.
Bukan cuma mengikat para peziarah, tapi  meriam ini juga membuat takut para penjahat. Konon dari cerita, para penjahat Batavia sangat ketakutan jika dibawa ke dekat Si Jagur. Banyak penjahat itu memilih mengakui kejahatannya ketimbang di bawah ke dekat meriam peninggalan portugis ini.
Dari mana datangnya meriam itu? Konon, meriam itu dibuat di Makau pada abad ke-16 oleh orang Purtugis bernama N.T. Bocarro. Kemudian Portugis menggunakan meriam itu untuk mempertahankan kekuasannya di Malaka.
Nama si Jagur kemungkinan karena dulu meriam itu pertama kali diletakkan di benteng Santo Jago de Barra sebelum dipindahkan ke Kota Malaka oleh Portugis.
Pada tahun 1641, Malaka jatuh ke tangan VOC-Belanda. Belanda, yang berhasil merebut benteng Portugis, menemukan meriam itu. Meriam itu kemudian diboyong Belanda ke Batavia.
Akan tetapi, sejak tahun 1810-an meriam si jagur tidak lagi dipergunan. Mungkin karena meriam itu terlalu berat untuk dipakai pasukan artileri Belanda. Meski begitu, meriam Si Jagur pernah menjadi senjata paling hebat di masanya.
Di pantai Karangantu, Banten, ada juga meriam tua yang dikeramatkan. Namanya Si Amuk. Ada kepercayaan sebagian orang kala itu, kalau Si Amuk sudah dipertemukan dengan Si Jagur, maka itu pertanda berakhirnya kekuasaan Belanda di Indonesia.

Senin, 08 Desember 2014

4 Senjata adat suku Jambi

Salam Takzim
Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbudaya
Provinsi Jambi yang berada pada urutan ke tujuh memiliki keunikan senjata tradisionil, karena di provinsi ini banyak terdapat suku adat, ada suku kerinci, suku kubu, suku anak dalam, suku batin dan suku melayu. Dari suku suku adat yang ada dijambi sudah barang tentu peralatan adatnya berbeda, karenanya suku ini menjadi sorotan istimewa bagi batavusqu.
Keempat senjata masyarakat Jambi itu adalah:
1. Badik Tumbuk Lada
Tumbuk Lada
Senjata adat ini berbentuk menyerupai badik milik masyarakat bugis, namun memiliki gagang yang lurus, hampir juga menyerupai keris hanya tidak bergelombang. Selain untuk berburu senjata ini juga dipergunakan untuk berperang. Proses pembuatannya menyerupai keris atau badik
2. Sumpit
Sumpit suku kubu
 Selain badik tumbuk lada, masyarakat suku jambi juga menggunakan sumpit untuk berburu. Selain suku yang ada di Jambi, sumpit juga digunakan oleh masyarakat suku dayak, papua dan baduy dalam. Untuk mengetahui sumpit lebih dalam silahkan taut ke sini
3. Tombak
Tombak
Senjata adat ini hampir semua masyarakat suku di Indonesia memiliki alat ini, karena senjata ini lebih memudahkan perburuan, tinggal dilempar saja dan ujungnya yang dipasang semacam belati akan memberikan beban dan tombak pasti bergerak lurus. Selain untuk berburu senjata adat ini juga pernah dipakai untuk berperang.
4. Pedang
Pedang
Bentuknya menyerupai mandau dan parang hanya saja pada kedua sisi pisau memiliki ketajaman yang sama dan ujungnya dibuat tajam. Pedang lebih sering digunakan untuk berperang dibanding untuk berburu
Demikian senjata suku Jambi disaji semoga dapat dimaklumi. (http://zipoer7.wordpress.com)
Gambar diambil dari google

Berburu Dengan Sumpit

Setelah berhenti cukup lama sajian gratis tentang senjata tradisional, perkenankan kembali batavusqu menyajikan satu lagi tentang informasi senjata tradisional sebagai pelengkap budaya. ya kali ini saya akan angkat senjata Sumpit dari pulau Kalimantan yang terkenal dengan suku dayaknya.
Suku Dayak di pulau Kalimantan mengenal berbagai macam senjata yang biasa digunakan untuk berburu dan berperang pada zaman dahulu hingga saat ini, atau untuk kegunaan sehari-hari semisal untuk berkebun di ladang. Beberapa jenis senjata tradisional tersebut diantaranya sumpitan (sipet), mandau, lonjo (tombak), perisai (telawang), dan taji. Ketua Dewan Adat Dayak Kaltim Barnabas Sebilang mengungkapkan, senjata sumpitan merupakan senjata kebanggaan dan menjadi senjata utama bagi masyarakat Dayak.  “Racun pada sumpitan ini sampai sekarang tidak ada penawarnya, entah kalau obat-obatan modern.” ujar Barnabas.
Sumpit harus terbuat dari kayu keras seperti kayu ulin, tampang, lanan, berang-bungkan, rasak, atau kayu plepek. Sumpit terbuat dari batang kayu bulat sepanjang 1,9 meter hingga 2,1 meter. Tak ketinggalan juga tamiang atau lamiang, yaitu sejenis bambu yang berukuran kecil, beruas panjang, keras, dan mengandung racun. Diameter sumpit dua hingga tiga sentimeter yang berlubang di bagian tengahnya, dengan diameter lubang sekitar satu sentimeter. Lubang ini untuk memasukkan anak sumpit atau damek. Racun pada damek oleh subetnis Dayak Lundayeh disebut parir. Racun yang sangat mematikan ini merupakan campuran dari berbagi getah pohon, ramuan tumbuhan serta bisa binatang seperti ular dan kalajengking.
Getah pohon yang digunakan untuk racun di antaranya getah kayu ipuh, kayu siren, atau upas, dicampur dengan getah kayu uwi ara, atau getah toba. Bisa binatang, seperti ular, akan menguatkan efek racun ini.
Menurut Barnabas, hingga sekarang ini belum ada penawar untuk racun anak sumpit yang sudah masuk ke pembuluh darah. Anehnya, lanjut Barnabas, meskipun sangat beracun, daging binatang buruan aman untuk dimakan. “Berburu kan dagingnya untuk dimakan. Akan tetapi, meskipun racun sumpit sangat kuat, kita aman saja makan daging binatang buruan tersebut, bahkan kalau kita menjilat racun itu sebenarnya tidak apa-apa,” ujar Barnabas.
Meski demikian, kalau racun damek itu langsung masuk ke darah, manusia atau semua binatang akan segera mati. “Kecuali ayam. Kami juga tidak tahu kenapa ayam tidak mati oleh racun tersebut,” ujarnya.
Pembuatan sumpit dikerjakan dengan sangat cermat dan teliti oleh warga Dayak. Hampir semua subetnis Dayak di pulau Borneo menggunakan sumpit, namun yang sangat terkenal lihai membuat sumpit, antara lain subetnis Dayak Ot Danom, Apu Kayan, Punan, Pasir, Ot, Siang dan Dayak Bahau.  “Secara tradisional, kalau ingin tepat sasaran dan kuat bernapas, panjang sumpit harus sesuai dengan tinggi badan orang yang menggunakannya,” tutur Ferain Mora, Kepala Adat Dayak Maanyan, Kalteng.
Di bagian ujung moncong dipasangi mata tombak terbuat dari besi atau batu gunung yang diikat dengan anyaman uei (rotan) yang disebut sangkoh. Kegunaan sangkoh ini untuk cadangan senjata saat binatang buruan yang sudah terluka dan belum mati ternyata berbalik menyerang penyumpit yang belum sempat mengisi kembali anak sumpit.
SELAIN beracun, kelebihan yang dimiliki senjata ini, dibandingkan dengan senjata khas Dayak lainnya, yakni kemampuan mengenai sasaran dalam jarak yang relatif jauh. Dan salah satu kelebihan dari sumpit atau sipet ini memiliki akurasi tembak yang dapat mencapai 218 yard atau sekitar 200 m. Selain itu, senjata ini juga tidak menimbulkan bunyi.
Unsur senyap ini sangat penting saat mengincar musuh maupun binatang buruan yang sedang lengah. Selain kegunaan berburu dan berperang, kegunaan lain sumpit adalah untuk upacara adat atau sebagai mas kimpoi dalam pernikahan adat Dayak. “Saat bertunangan, senjata sumpit ini juga bisa digunakan sebagai mas kawin,” ujar Barnabas.
Menurut kepercayaan suku Dayak sumpit atau sipet ini tidak boleh digunakan untuk membunuh sesama. Sumpit atau sipet hanya dapat dipergunakan untuk keperluan sehari – hari, seperti berburu. Sipet ini tidak diperkenankan atau pantang diinjak – injak apalagi dipotong dengan parang karena jika hal tersebut dilakukan artinya melanggar hukum adat, yang dapat mengakibatkan pelakunya akan dituntut dalam rapat adat
Sumber: melayuonline.com

Senjata adat Papua

Salam Takzim Sahabat dan pembaca batavusqu yang berbudaya
Lewat komentar sahabat dalam postingan senjata suku Jambi, memang hampir semua suku yang ada di Indonesia mempunyai jenis senjata yang mirip, namun memilki keunikan pada bentuk yang tajam dan bentuk warangka atau gagangnya, seperti halnya di papua, yang memiliki senjata berupa tombak untuk berburu walau bentuknya sama dengan tombak namun oleh masyarakat Papua lebih dikenal dengan nama lembing.Selain lembing suku Papua dalam, selalu menyelipkan belati yang diikatkan di betis atau di gantung dipinggangnya. Belati ini bentuknya hampir sama dengan badik, pisau dan atau mandau hanya bentuknya lebih kecil dan terbuat dari baja keras dengan ketebalan hampir mencapai 4mm. Sehingga seorang suku Papua akan lebih aman jika berada di hutan bila membawa belati dan lembing. secara pembuatan belati yang paling istimewa di Papua adalah yang terbuat dari sekang tulang kaki burung kasuari dan bulunya menghiasi hulu Belati tersebut.
Salah satu senjata tradisional di Papua yang cukup terkenal dan menjadi senjata utama adalah adalah Busur dan Panah.  Busur tersebut  terbuat dari sekang bambu atau kayu, sedangkan tali Busurnya terbuat dari sekang rotan. Anak panahnya terbuat dari sekang bambu, kayu atau tulang kangguru. Busur dan panah dipakai untuk berburu atau berperang. Selain ketiga senjata di atas tameng juga merupakan alat adat yang dipergunakan untuk pertahanan perang. Konsep tameng ini selanjutnya dipergunakan untuk aparat kita.
Nah berikut aqu lampirkan senjata  adat yang hingga kini tetap dipergunakan oleh masyarakat Papua, semoga berkenan (http://zipoer7.wordpress.com)
Gambar diambil dari google

Senin, 17 November 2014

Misteri Mandau Senjata Sakti Suku Dayak


http://anehdidunia.com

Mandau adalah salah satu senjata suku Dayak yang merupakan pusaka turun temurun dan dianggap sebagai barang keramat atau memiliki kesaiktian.Selain itu mandau juga merupakan alat untuk memotong dan menebas tumbuh-tumbuhan dan benda-benda lainnya, karena nyaris sebagian besar kehidupan seharian orang Dayak berada di hutan, maka mandau selalu berada dan diikatkan pada pinggang mereka. Mandau, Senjata Sakti Pusaka Suku Dayak. Suku Dayak adalah suku yang gemar sekali berpetualang, sehingga untuk memberi kenyamanan dalam perjalanannya seorang putra dayak akan melengkapi dirinya dengan senjata. Salah satu senjata yang pasti dibawa dalam sebuah perantauan adalah mandau. Mandau, Senjata Sakti Pusaka Suku Dayak.

Kalimantan adalah salah satu dari 5 pulau besar yang ada di Indonesia. Kalimantan merupakan “daerah asal” suku Dayak. Di kalangan orang Dayak sendiri satu dengan lainnya menumbuh-kembangkan kebudayaan tersendiri. Dengan perkataan lain, kebudayaan yang ditumbuh-kembangkan oleh Dayak-Iban tidak sama persis dengan kebudayaan yang ditumbuh-kembangkan Dayak-Punan dan seterusnya. Namun demikian, satu dengan lainnya mengenal atau memiliki senjata khas Dayak yang disebut sebagai mandau. Mandau, Senjata Sakti Pusaka Suku Dayak. Dalam kehidupan sehari-hari senjata ini tidak lepas dari pemiliknya. Artinya, kemanapun ia pergi mandau selalu dibawanya karena mandau juga berfungsi sebagai simbol kehormatan dan jatidiri. Mandau, Senjata Sakti Pusaka Suku Dayak.

http://anehdidunia.com

Mandau, Senjata Sakti Pusaka Suku Dayak ini dipercayai memiliki tingkat-tingkat kampuhan atau kesaktian. Kesaktian Mandau ini tidak hanya diperoleh dari proses pembuatannya yang melalui ritual-ritual tertentu, tetapi juga diperoleh dari pengayauan (pemenggalan kepala lawan-red). Semakin banyak orang yang berhasil di-kayau, mandau itu semakin sakti. Sebagian rambut kepala yang berhasil dikayau biasanya digunakan untuk menghias gagang mandaunya. Mereka percaya bahwa roh orang yang mati karena dikayau akan mendiami mandau sehingga mandau tersebut menjadi sakti.

Bilah mandau terbuat dari lempengan besi yang ditempa hingga berbentuk pipih-panjang dan berujung runcing. Salah satu sisi mata bilahnya diasah tajam, sedangkan sisi lainnya dibiarkan sedikit tebal dan tumpul. Beberapa jenis bahan yang dapat digunakan untuk membuat mandau, yaitu: besi montallat, besi matikei, dan besi baja yang diambil dari per mobil, bilah gergaji mesin, cakram kendaraan, dan lain sebagainya. Menurut cerita masyarakat dayak, mandau yang paling baik mutunya adalah yang dibuat dari batu gunung yang dilebur khusus sehingga besinya sangat kuat dan tajam serta hiasannya diberi sentuhan emas, perak, atau tembaga. Mandau jenis ini hanya dibuat oleh orang-orang tertentu.

http://anehdidunia.com

Sedangkan Gagang atau hulu mandau terbuat dari tanduk rusa yang diukir menyerupai kepala burung. Seluruh permukaan gagangnya diukir dengan berbagai motif seperti: kepala naga, paruh burung, pilin, dan kait. Pada ujung gagang ada pula yang diberi hiasan berupa bulu binatang atau rambut manusia. Bentuk dan ukiran pada gagang mandau ini dapat membedakan tempat asal mandau dibuat, suku, serta status sosial pemiliknya.

Sementara Sarung mandau atau yang biasa disebut kumpang biasanya terbuat dari lempengan kayu tipis. Bagian atas dilapisi tulang berbentuk gelang. Bagian tengah dan bawah dililit dengan anyaman rotan sebagai penguat apitan. Sebagai hiasan, biasanya ditempatkan bulu burung baliang, burung tanyaku, manik-manik dan terkadang juga diselipkan jimat. Selain itu, mandau juga dilengkapi dengan sebilah pisau kecil bersarung kulit yang diikat menempel pada sisi sarung dan tali pinggang dari anyaman rotan.

Jika dicermati secara seksama, di dalam pembuatan mandau, mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi kehidupan masyarakat. Nilai-nilai itu antara lain: keindahan (seni), ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Nilai keindahan tercermin dari bentuk-bentuk mandau yang dibuat sedemikian rupa, sehingga memancarkan keindahan. Sedangkan, nilai ketekunan, ketelitian, dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran. Tanpa nilai-nilai tersebut tidak mungkin akan terwujud sebuah mandau yang indah dan sarat makna. (www.anehdidunia.com)

Senin, 29 September 2014

Perkembangan Tombak


Dengan ditemukannya kelemahan pada tombak yang terbuat dari kayu, mudah rusak dan lapuk, sehingga tidak bisa digunakan dalam jangka waktu yang lama.
Sehingga ditemukan teknik baru dalam pembuatan tombak untuk meningkatkan daya hancur dan ketahanan dari tombak.

Sejarah Perkembangan Tombak
Teknik Pembakaran
Sekitar 250 ribu tahun yang lalu, para ahli memperkirakan, manusia pada masa itu telah menemukan teknik baru dalam pembuatan tombak, yaitu teknik pembakaran.
Keuntungan yang didapat dari teknik pembakaran adalah :
  • mendapatkan ujung (mata) tombak dengan menggosok bagian yang hangus
  • tongkat yang dihasilkan dari teknik ini lebih keras dan liat jika dibandingkan dengan tombak kayu asli

Perubahan Mata Tombak
Pada masa ini, manusia telah menemukan mata tombak yang lebih efektif untuk melumpuhkan buruannya, yaitu dengan menggunakan batu sebagai mata pada salah satu ujung tombaknya.
Bentuk batu yang digunakan sebagai mata pada ujung tombak adalah logam dengan bentuk pipih yang salah satu ujungnya telah dilancipkan.
Pada masa ini, tombak masih berfungsi sebagai  alat untuk melakukan pemburuan dan penyokong pada kehidupan sehari – hari.

Macam – macam Tombak Pada Masa ke Masa

Seiring berjalannya waktu, maka modifikasi dalam pembuatan tombak semakin beragam, sehingga tercipta beberapa macam jenis tombak, seperti :
1. Pila
adalah jenis tombak yang diciptakan oleh Bangsa Roma. Ciri – ciri dari tombak ini adalah :
  • umumnya memiliki ukuran sepanjang 6 kaki
  • setengahnya terbuat dari kayu, sedangkan setengah lainnya terbuat dari besi
Pila yang digunakan bangsa Roma dalam peperangan terdapat dalam dua jenis, yaitu :
  • pila ringan yang dilontarkan pada musuh dalam jarak jauh
  • pila berat yang digunakan untuk melumpuhkan musuh dalam jarak dekat
2. Tombak Bersayap
adalah tombak yang mata tombaknya memiliki dua cabang, sehingga bisa menghunjam sasarannya lebih tajam.
3. Naginata
adalah jenis tombak yang digunakan oleh masyarakat Jepang
4. Glaive
jenis tombak yang banyak ditemukan di daerah Eropa
5. Lance
adalah jenis tombak yang banyak digunakan oleh pasukan berkuda. (http://indobeta.com/)

Minggu, 21 September 2014

Sejarah Lempar Pisau


Melemparkan pisau mengacu pada seni lempar pisau pada target. Awalnya, pisau lempar digunakan sebagai cara untuk membela diri dan menyakiti atas individu lain. Sekarang pisau lempar dipraktekkan sebagai bentuk olahraga dan hiburan, terutama di teater.
Pisau lempar Sebagai Senjata  
1. Asal mula pisau lempar, melempar kayu berasal dari (gambar bumerang), yang digunakan sebagai senjata dalam pertempuran dan sebagai alat untuk berburu. Di Afrika Utara, bukti melemparkan kayu   kembali ke sekitar 6000 SM Di Mesir, melemparkan kayu ditemukan di makam Tut-anch-Amun (sekitar 1340 SM). Setelah pengenalan besi pada sekitar 600 SM, melemparkan kayu secara bertahap berkembang menjadi pisau lempar.
Di Amerika, pisau lempar populer di awal 1800-an dengan James Bowie, seorang tentara Amerika yang melemparkan pisau dalam pertempuran selama Revolusi Texas (termasuk kematian-Nya di Pertempuran Alamo) menjadi legendaris. Selama waktu ini, pisau-lempar sangat populer di kalangan tentara Konfederasi  sebagai bentuk pertempuran, tetapi juga digunakan sebagai bentuk hiburan ketika tentara tidak  bertempur, dilakukan saat-saat istirahat.
Pisau Lempar Sebagai Olahraga
2. Sementara peraturan sedikit berbeda dari kompetisi ke kompetisi, olahraga lempar pisau umumnya melibatkan target dengan ukuran diameter 50cm. target tersebut kemudian dibagi menjadi 5 cincin dengan diameter berikut: 10cm, 20cm, 30cm, 40cm, 50cm. Poin yang diperoleh membentur bull’s-eye (lima poin) dan cincin luar masing-masing  (empat, tiga, dua, satu). Secara umum, pisau yang dilemparkan dari jarak antara 3m dan 7m. Banyak organisasi yang ada di seluruh dunia untuk mempromosikan olahraga pisau lempar, termasuk International Knife penyembur Hall of Fame (IKTHOF) Asosiasi yang berbasis di Austin, Texas.
Melempar Pisau Sebagai Hiburan
3. Sebuah gambar, yang pertama kali muncul pada tahun 1861, berjudul “Hidup di Camp Tentara Konfederasi”  menggambarkan tentara Konfederasi  melemparkan pisau terhadap suatu tanda di pohon. Hal ini tampaknya menjadi bukti pertama dari pisau lempar untuk tujuan hiburan.
 Menurut buku Bernard L. Peterson “Profil Afrika-Amerika Pelaku Tahap dan Orang Teater,” pisau-lempar menemukan sebuah rumah di teater dengan bantuan Monsieur Bushnell, yang mencakup berbagai aktivitas lempar pisau pada awal 1890. Termasuk aktivitas awal lainnya seperti yang dipertunjukan   di sebuah teater dilakukan  oleh  Victor F. Cody dan Miss Lillian Cody, yang melakukan aktivitas lempar pisau yang dilakukan di seluruh negeri sejak 1902.
 Pada tahun 1938, The Gibsons, suami  istri dari Jerman memberikan pertunjukan yang menegangkan, muncul di Ringling Bros dan Barnum & Bailey menunjukkan sirkus dengan suatu tindakan yang disebut Wheel of Death. Roda Kematian adalah blok melingkar pada kayu dan seseorang  diikat  di blok kayu tersebut. Sebagai potongan kayu diputar, pelempar pisau melemparkan pisau pada blok dengan tujuan menguraikan tubuh tapi tentunya dirancang untuk tidak menyakiti.
 Pisau lempar Dalam Teater Populer
4. Sandiwara “Pin Cushion,” oleh Clay McLeod Chapman, menceritakan kisah seorang suami istri   bertindak  sebagai artis pisau lempar, dan termasuk pertunjukan monolog yang disampaikan oleh istri sementara suaminya melempar pisau di sekelilingnya. Drama itu dilakukan di The Red Ruang Theater di New York pada Mei dan Juni 2002. Kinerja melibatkan pelempar pisau profesional dalam Dr David Adamovich (The Great Throwdini  ) bermain sebagai suami.
“The Game piyama,” oleh Richard Adler dan Jerry Rossalso, terlibat pertunjukan lempar pisau. Drama itu akhirnya berubah menjadi sebuah film yang dibintangi oleh Doris Day
“Annie Get Your Gun,” oleh Herbert dan Dorothy Fields, fitur-pelempar pisau bernama Tommy Keeler.
Penn & Teller mungkin pertunjukan lempar pisau paling terkenal. Keduanya sering menampilkan pertunjukan   lempar pisau   dalam produksi teater mereka.
Peringatan
5. Melemparkan pisau bisa sangat berbahaya. Sebagian besar pertunjukan lempar pisau dilakukan di teater  yang dilakukan oleh para profesional. pelempar pisau Profesional mengambil keamanan yang sangat serius dan memiliki peraturan yang ketat untuk memastikan tidak ada yang terluka.
Martor KG
Ditulis Oleh Ellen Ramlan, seorang anggota  D’Lempis yg sudah mendapatkan sertifikasi Internasional Thrower Organisation.
(http://catros.wordpress.com/)

10 Pedang Tekenal dan Paling Mematikan di Dunia


Pedang pertama kali muncul pada Zaman Perunggu. terbuat dari tembaga dan ditemukan di situs Harappa di Pakistan . Pedang Abad Pertengahan dibuat dari besi dan baja, pada waktu itu pedang mulai diproduksi masal dan digunakan dalam pertempuran. Tentara dilatih dalam ilmu pedang dan siap untuk pertempuran. Itu sebelum era senjata dan artileri bertenaga tinggi dan berhadapan langsung dalam pertempuran. Selama waktu itu dalam sejarah, semua jenderal kerajaan, raja-raja, dan kaisar memiliki pedang pribadi yang dibuat dan diproduksi oleh pembuat pedang terbesar waktu itu. Artikel ini akan menampilkan sepuluh pedang terkenal di dunia yang masih bertahan hingga sekarang. terkecuali Mitologi dan pedang legendaris tidak akan terdaftar.

10. Tomoyuki Yamashita’s Sword


  
Tomoyuki Yamashita adalah seorang jenderal Angkatan Darat Kekaisaran Jepang selama Perang Dunia II. Dia menjadi terkenal setelah menaklukkan koloni Inggris di Malaya dan Singapura, akhirnya mendapat julukan “Harimau Malaya.” Setelah berakhirnya Perang Dunia II, Yamashita diadili atas kejahatan perang berkaitan dengan Pembantaian Manila dan kekejaman lainnya di Filipina dan Singapura. Itu adalah sidang kontroversial yang berakhir dengan hukuman mati bagi Tomoyuki Yamashita. Kasus ini mengubah aturan Amerika Serikat dalam hal tanggung jawab komando atas kejahatan perang, menciptakan sebuah hukum yang dikenal sebagai Standar Yamashita. 
http://anehdidunia.blogspot.com

Selama karir militernya, Tomoyuki Yamashita memiliki sebuah pedang pribadi yang berisi pisau yang diproduksi oleh pembuat pedang terkenal Fujiwara Kanenaga antara 1640 dan 1680. senjata itu pegangannya dibuat ulang pada awal 1900-an. Pedang Samurai itu diserahkan oleh Jenderal Yamashita, bersama dengan pasukannya, pada tanggal 2 September 1945 diambil oleh Jenderal MacArthur dan diberikan kepada West Point Military Museum dimana masih ada sampai saat ini. Pedang adalah salah satu bagian dalam kumpulan besar senjata militer yang bertempat di West Point Museum.

9. Curved Saber of San Martin


 
José de San Martín adalah seorang jenderal Argentina yang terkenal hidup antara tahun 1778-1850. Dia adalah pemimpin utama dari bagian selatan Amerika Selatan perjuangan untuk kemerdekaan dari Spanyol. San Martín adalah pahlawan Amerika Selatan dan Pelindung 1 Perú. Dibawah kepemimpinan San Martín, kemerdekaan Peru secara resmi dideklarasikan pada tanggal 28 Juli 1821. Di negara Argentina, Ordo Pembebas Jenderal San Martin adalah dekorasi tertinggi yang diberikan.

Salah satu harta yang paling dihargai José de San Martín adalah pedang melengkung bahwa ia membelinya di London. San Martín mengagumi pisau pedang melengkung dan merasa bahwa senjata itu bisa bermanuver dan ideal untuk pertempuran. Untuk alasan ini, ia persenjatai pasukan kavaleri nya granaderos dengan senjata yang sama, yang dianggap penting untuk menambah serangan. Pedang melengkung bersama dengan San Martín hingga kematiannya dan kemudian disampaikan ke Jenderal de la Republica Argentina, Don Juan Manuel de Rosas.

Dalam karyanya akan San Martín disebut pedang sebagai “pedang yang telah menemani saya selama Perang Kemerdekaan Amerika Selatan.” Pada tahun 1896 senjata itu dikirim ke Museum Sejarah Nasional di Buenos Aires di mana ia tetap ada sampai hari ini.


8. Seven-Branched Sword



Dinasti Baekje adalah kerajaan kuno yang terletak di barat daya Korea. Pada puncaknya pada abad ke-4, Baekje menguasai koloni di Cina dan sebagian besar di Semenanjung barat Korea. Mereka adalah salah satu dari Tiga Kerajaan Korea, bersama-sama dengan Goguryeo dan Silla. Pada 372, Raja Geunchogo dari Baekje membayar upeti kepada Jin Timur dan diyakini bahwa Pedang Tujuh-Branched diciptakan dan diberikan kepada raja sebagai tanda pujian.

Senjata besi itu panjangnya adalah 74,9 cm dengan enam tonjolan cabang seperti pisau sepanjang pusat, yang adalah 65,5 cm. Pedang dikembangkan untuk keperluan upacara dan tidak dibangun untuk pertempuran. Pada tahun 1870 seorang pendeta Shinto bernama Masatomo Kan menemukan dua tulisan di Pedang Tujuh-Branched itu. Salah satunya menyatakan “Pada siang pada hari keenam belas bulan kesebelas, tahun keempat era Taiwa, pedang itu terbuat dari baja yang dikeraskan selama 100 kali. Menggunakan pedang dari 100 tentara musuh. Tepat untuk sang raja. “

Pedang Tujuh-Branched mengandung banyak pernyataan, tapi yang paling kontroversial melibatkan frase “enfeoffed Lord,” digunakan ketika menggambarkan Raja Wa sebagai tunduk mungkin untuk penguasa Baekje. Pedang merupakan link sejarah yang penting dan menunjukkan bahwa memang ada hubungan antara negara-negara Asia Timur era ini. Pedang asli Tujuh-Branched saat ini disimpan di Kuil Isonokami di Prefektur Nara Jepang. Hal ini tidak dipamerkan ke publik.

7. Wallace Sword


 
William Wallace adalah seorang ksatria Skotlandia yang hidup 1272-1305. Wallace dikenal untuk memimpin perlawanan terhadap Inggris selama Perang Kemerdekaan Skotlandia, yang dilancarkan pada akhir abad 13 dan awal 14. Selama hidupnya, William Wallace diangkat sebgai Guardian Skotlandia. Dia memimpin sebuah tentara infanteri yang terlibat di tangan musuh untuk memeranginya. Kepemilikan hadiah banyak dari prajurit adalah pedang mereka. Untuk dapat bertahan di medan perang maka harus menjadi ahli pedang yang berbakat. Pada 1305, William Wallace ditangkap oleh Raja Edward I dari Inggris dan dieksekusi karena pengkhianatan. Hari ini William Wallace di Skotlandia dikenang sebagai seorang patriot dan pahlawan nasional. pedang-Nya adalah salah satu yang paling terkenal di dunia.

pedang William Wallace terletak di Monumen Nasional di Stirling, Skotlandia. Batang pedang ukuran 4 kaki dengan 4 inci panjangnya (132cm) dan berat £ 6,0 (2,7 kg). Pedang dikatakan senjata yang digunakan Wallace pada Pertempuran Stirling Bridge di 1297 dan Pertempuran Falkirk(1298).Terbuat dari besi berlapis emas dan pegangannya dibungkus dengan kulit coklat gelap. Gagang yang ada saat ini pada pedang Wallace bukan asli. Hal ini diyakini bahwa pedang itu telah diubah.

Setelah pelaksanaan William Wallace, Sir John de Menteith, gubernur Dumbarton Castle, menerima pedangnya. Pada tahun 1505, Raja James IV dari Skotlandia membayar 26 shilling untuk memiliki pedang binned dengan tali sutra. Dikatakan bahwa pedang itu telah mengalami banyak perubahan, yang mungkin saja diperlukan karena sarung asli Wallace, gagang dan sabuk dikatakan telah dibuat dari kulit kering Hugh Cressingham, seoang komandan Inggris.


6. Tizona



El Cid adalah seorang pria yang lahir sekitar tahun 1040 di Vivar, yang merupakan kota kecil sekitar enam mil utara Burgos, ibukota Castile . Kerajaan Kastilia adalah salah satu kerajaan abad pertengahan di Semenanjung Iberia. Selama hidupnya El Cid menjadi pemimpin militer yang sukses dan diplomat. Ia diangkat menjadi ketua umum tentara Alfonso VI dan menjadi pahlawan Spanyol. El Cid adalah aset raja paling berharga dalam perang melawan bangsa Moor. Dia adalah ahli strategi militer yang terampil dan ahli pedang yang kuat.

El Cid memiliki pedang yang berbeda dalam hidupnya, tetapi dua yang paling terkenal adalah Colada dan Tizona. Tizona adalah pedang yang digunakan oleh El Cid untuk melawan bangsa Moor. Senjata itu merupakan salah satu peninggalan yang paling dihargai di Spanyol dan diyakini telah ditempa di Cordoba, Spanyol, walaupun mata pedangnya dibuat dari baja Damascus. baja Damaskus terutama digunakan di Timur Tengah. Tizona adalah 103 cm/40.5 inci panjang dan berat 1,1 kg/2.4 pound. Ini berisi dua prasasti yang terpisah, dengan satu daftar tanggal pabrik 1002 dan yang lainnya mengutip doa Katolik Ave Maria. Tizona saat ini dipajang di Museo de Burgos di Spanyol.


5. Napoleon Sword


Pada tahun 1799, Napoleon Bonaparte menjadi pemimpin militer dan politik Perancis setelah melancarkan kudeta. Lima tahun kemudian Senat Prancis menyatakan dirinya kaisar. Pada dekade pertama abad ke-19 Napoleon dan Kekaisaran Perancis terlibat dalam konflik dan perang dengan setiap kekuatan utama Eropa. Pada akhirnya, serangkaian kemenangan memberikan posisi Perancis yang dominan di benua Eropa, tetapi sebagai sejarah nantinya akan terulang, pada tahun 1812 Perancis memulai serangan mereka dari Rusia. Keputusan untuk menyerang Rusia menandai titik balik dalam kekayaan Napoleon. Pada tahun 1814, Koalisi Keenam menyerbu Perancis dan Napoleon ditangkap dan diasingkan ke pulau Elba. Dia akan melarikan diri, tetapi akhirnya meninggal dalam kurungan di pulau Saint Helena. Sejarawan menganggap Napoleon sebagai seorang militer yang jenius dan seorang pria yang membuat kontribusi yang kuat untuk seni operasional perang. http://anehdidunia.blogspot.com

Di medan perang Napoleon membawa pistol dan pedang. Ia memiliki banyak koleksi senjata dan artileri. senjata-Nya adalah salah satu dari jenis dan termasuk bahan terbaik. Pada musim panas 2007, sebuah pedang emas bertatahkan yang dulu milik Napoleon dilelang di Perancis lebih dari $ 6.400.000 dolar. Pedang digunakan oleh Napoleon dalam pertempuran. Pada awal 1800-an, Napoleon memberikan senjata kepada saudaranya sebagai hadiah pernikahan.pedang itu diwariskan dari generasi ke generasi, tidak pernah meninggalkan keluarga Bonaparte. Pada tahun 1978, pedang itu dinyatakan sebagai harta nasional di Perancis dan pemenang lelang tidak teridentifikasi.

4. Sword of Mercy


 
Pedang Mercy adalah senjata yang terkenal yang dulu milik Edward Confessor. Edward Confessor adalah salah satu raja Anglo-Saxon terakhir Inggris sebelum Penaklukan Norman dari 1066. Ia memerintah 1042-1066 dan pemerintahannya telah ditandai oleh runtuhnya disorganisasi kekuasaan kerajaan di Inggris. Tak lama setelah kematian Edward Confessor, para Normandia mulai memperluas ke Inggris, dipimpin oleh William sang Penakluk.

Pedang Mercy memiliki pisau patah, yang memotong pendek dan persegi. Pada tahun 1236, senjata itu diberi nama curtana dan sejak itu digunakan untuk upacara kerajaan. Pada zaman kuno itu adalah suatu kehormatan untuk menanggung pedang ini sebelum raja. Ini dianggap sebagai isyarat belas kasihan. Cerita sekitar melanggar senjata tidak diketahui, tetapi sejarah mitologis menunjukkan bahwa ujungnya patah oleh seorang malaikat untuk mencegah pembunuhan yang salah. 
http://anehdidunia.blogspot.com

Pedang Mercy adalah bagian dari Permata Mahkota Kerajaan Inggris dan merupakan salah satu dari hanya lima pedang digunakan selama penobatan raja Inggris. Senjata itu merupakan senjata langka dan salah satu dari hanya sejumlah kecil pedang untuk bertahan hidup pada masa pemerintahan Oliver Cromwell. Selama penobatan di Inggris, Pedang Mercy adalah pedang yang dipegang oleh raja untuk melimpah kan kehormatan pada ksatria .

3. Honjo Masamune


 
Masamune adalah Pandai Pedang Jepang yang secara luas dianggap sebagai salah satu metallurgists terbesar di dunia. Tanggal yang tepat untuk hidup Masamune tidak diketahui, tetapi ia dipercaya bahwa ia bekerja antara tahun 1288-1328. senjata Masamune telah mencapai status legendaris selama berabad-abad. Dia menciptakan pedang dikenal sebagai tachi dan belati disebut tant?. pedang Masamune memiliki reputasi yang kuat untuk keunggulan dan berkualitas. Dia jarang menandatangani karya-karyanya, sehingga akan sulit untuk mengidentifikasi semua senjatanya.

Yang paling terkenal dari semua pedang Masamune bernama Honjo Masamune. The Honjo Masamune sangat penting karena mewakili Keshogunan selama periode Edo Jepang. Pedang ini diturunkan dari satu Shogun ke Shogun selama beberapa generasi. Pada tahun 1939 senjata itu merupakan harta karun nasional di Jepang, tetapi tetap milik keluarga Tokugawa. Pemilik terakhir yang diketahui dari Honjo Masamune adalah Tokugawa Iemasa. Rupanya Tokugawa Iemasa memberikan senjata dan 14 pedang lainnya ke kantor polisi di Mejiro, Jepang, pada bulan Desember 1945.

Tak lama kemudian pada bulan Januari 1946, polisi Mejiro memberikan pedang untuk Sgt. Bimore Coldy (US 7th Cavalry). Sejak saat itu, Honjo Masamune yang hilang dan keberadaan pedang tetap menjadi misteri. Honjo Masamune adalah salah satu artefak sejarah yang paling penting untuk menghilang pada akhir Perang Dunia II.

2. Joyeuse


 
Charlemagne adalah seorang pria yang lahir sekitar tahun 742. Dia adalah salah satu penguasa terbesar dalam sejarah dunia dan menjadi Raja kaum Frank pada 768. Pada 800 ia diangkat Kaisar Roma, posisi yang dipegangnya selama sisa hidupnya. Dalam Kekaisaran Suci Romawi ia dikenal sebagai Charles I dan adalah Kaisar Romawi Suci pertama. Selama masa Charlemagne ia memperluas kerajaan Frank menjadi sebuah kekaisaran, yang menutupi sebagian besar Barat dan Eropa Tengah. Charlemagne dianggap sebagai bapak pendiri baik monarki Perancis dan Jerman, serta bapak Eropa.

Joyeuse adalah nama pedang pribadi Charlemagne. Saat ini, ada dua pedang dikaitkan dengan Joyeuse. Salah satunya adalah pedang yang disimpan di Schatzkammer Weltliche di Wina, sementara yang lain ditempatkan di Louvre di Perancis. Pisau nya dipajang di Louvre mengklaim sebagian dibangun dari pedang asli Charlemagne. Pedang terbuat dari bagian-bagian dari abad yang berbeda, sehingga menjadi sulit untuk mengidentifikasi senjata itu sebagai Joyeuse. Gagang pedang menunjukkan tanggal pabrik sekitar waktu Charlemagne. The memukul emas terpahat dibuat dalam dua bagian dan cengkeraman emas panjang pernah dihiasi dengan berlian.

pedang Charlemagne muncul dalam banyak legenda dan dokumen sejarah. Bulfinch’s Mitologi dijelaskan Charlemagne menggunakan Joyeuse untuk memenggal komandan Saracen Corsuble serta ksatria temannya Ogier Dane. Setelah kematian Charlemagne, pedang itu dimiliki Basilika Saint Denis dan kemudian dibawa ke Louvre setelah dilakukan prosesi Coronation untuk raja-raja Perancis.

1. Zulfikar


 
Zulfikar adalah pedang kuno yang dimiliki oleh syaidina Ali . Ali adalah sahabat sekaligus menantu Nabi Muhammad SAW. Ia memerintah kekhalifahan Islam 656-661 M. Dengan beberapa catatan sejarah, Nabi Muhammad SAW memberikan pedang Zulfikar pada syaidina Ali di Pertempuran Uhud. Pedang adalah salahsatu simbol Islam dan dikagumi oleh jutaan orang. 
http://anehdidunia.blogspot.com

Zulfikar adalah pedang, yang mengacu pada pedang Asia Barat atau Asia Selatan dengan pisau melengkung. Dikatakan bahwa pedang Syaidina Ali digunakan pada Perang Parit, yang merupakan upaya pengepungan yang terkenal di kota Madinah. Selama pertempuran, Nabi Muhammad SAW, Syaidina Ali, dan pembela Islam membangun parit untuk melindungi Madinah terhadap kavaleri konfederasi yang jauh lebih besar.

Beberapa ada yang bertentangan dengan bentuk pendang ini. Beberapa dari mereka menggambarkan senjata itu memiliki dua bilah paralel, menekankan kemampuan mistis dan kecepatan, sementara yang lain menggambarkan Zulfikar sebagai pedang tradisional berbentuk lebih. Beberapa gambar sejarah menggambarkan pedang dengan split, pisau berbentuk V. senjata itu bertahan hingga hari ini dan disimpan dalam kepemilikan Imam Muhammad al-Mahdi. senjata ini merupakan bagian dari koleksi yang terkenal yang disebut al-Jafr.

Al-Jafr adalah sebuah buku suci Syiah. Hal ini terdiri dari dua kotak kulit yang berisi artefak yang paling penting dari saat Nabi Muhammad SAW dan Syaidina Ali. Koleksinya telah diturunkan selama beberapa generasi, dengan masing-masing Imam baru menerima dari pendahulunya . Isi Al -Jafr cukup mengesankan, tetapi mereka tidak tersedia untuk dilihatkan ke publik. Salah satu bagian buku ini menggambarkan aturan Islam, arahan, dan hal-hal sekitar perang, termasuk tas yang berisi baju besi dan senjata Nabi Muhammad SAW. Zulfikar merupakan salah satu artefak yang tak ternilai. (
http://www.anehdidunia.com/)

Rabu, 17 September 2014

Cipacing, Sentra Industri Senjata





dok / ist
Ilustrasi.
Kawasan ini pernah dirazia, tapi justru berkembang menjadi industri senjata api.
Cipacing, Sumedang, Jawa Barat, menjadi kawasan subur industri senjata api rumahan. Padahal, beberapa tahun lalu kawasan tersebut pernah dirazia oleh Subdit Reserse Mobil Direskrimum Polda Metro Jaya.
Namun, kawasan tersebut seperti tak pernah jera, malah berkembang menjadi sentra industri senjata pabrikan dengan beragam rakitan api. Salah satunya jenis senjata api serbu seperti AK-47, beserta bermacam peluru tajam. Bahkan, dari industri senpi rumahan tersebut, senpi dan peluru diperdaganglam dan sudah berpindah ke tangan teroris.
Pengungkapan tersebut dilakukan oleh Subdit Kejahatan dengan Kekerasan (Jatanras) Direskrimum Polda Metro Jaya lewat penggebrekan sejak Sabtu (24/8) hingga Minggu (25/8).
Kasubdit Jatanras AKBP Herry Heryawan saat dihubungi wartawan, Minggu, mengatakan, pengungkaan berawal dari pengakuan residivis teroris, Iqbal Khusaeni (32) alias Ramli, alias Rambo, alias Iboy yang diperiksa pada 10 Januari. Dia mengaku membeli dua pucuk Senpi rakitan jenis FN di Cipacing sepanjang 2013.
"Dua senpi yang dibeli kemudian diserahkan kepada seseorang di Bekasi, Jawa Barat. Setiap pucuk dia beli seharga Rp 10 juta. Keduanya digunakan untuk latihan perang," ujarnya.
Bahkan, saat itu Ramli juga membeli senpi untuk teroris Arhan yang kini sudah tewas. Senpi dari Cipacing dibawa hingga ke Aceh. Pada 10 Mei, Ramli kembali membeli dua pucuk senjata untuk seseorang di wilayah Depok yang kemudian dibekuk oleh Densus 88.
Pada 11 Februari, Ramli juga membeli dua senpi pesanan teroris dengan harga masing-masing Rp 8 juta. "Tanggal 11 November, Ramli membeli tiga pucuk FN pesanan untuk seseorang di Ambon," ujarnya.
Pada 12 Maret, Ramli membeli dua pucuk senjata jenis FN. Adapun pada 13 Januari, ia membeli sepucuk FN yang juga berasal dari Cipacing. Pada 13 April dia membeli sebuah senjata, sedangkan, pada 13 Agustus di rumah tersangka Iqbal, dua pucuk air softgun diubah menjadi Senpi Walter kaliber 32 dan Makarov kaliber 32.
Menurut Herry, Ramli juga mempunyai kemampuan untuk mengubah senjata jenis air softgun menjadi beragam jenis senpi.
"Keberadaan air softgun di Indonesia tidak bisa diremehkan. Di tangan para teroris, air softgun bisa diubah menjadi senpi berbahaya. Ini salah satu siasat para teroris meredam kasus-kasus senpi yang terungkap," tuturnya.
Herry menjelaskan, sepanjang Sabtu hingga Minggu kemarin, dia dan jajarannya juga menangkap sejumlah pria yang diduga memperjualbelikan senpi ilegal. Pada Sabtu (24/8), Subdit Jatanras menggerebek rumah kontrakan AW di Cicendo, Bandung, Jawa Barat (Jabar), dan menyita 4.000 peluru bermacam jenis.
"Kami juga menangkap empat pria di Jalan Masjid Nomor 25, RT 05 RW 06, Cipayung, Jakarta Timur. Keempat pria itu adalah Ramli, dan ketiga tamunya bernama Maryono alias Yono (38) pria asal Boyolali Jawa Tengah (Jateng), Eno Karseno (36) pria asal Cilacap, Jateng, dan Rukiyat (38) alias yayat," imbuhnya.
Dari tangan mereka, polisi menyita dua pucuk barreta makarov kaliber 32, dan Walter ppk 765 kaliber 35, dua pucuk air softgun, peluru kaliber 22 sebanyak 43 butir, kaliber 32, 53 butir, kaliber 32 colt dua butir, kaliber 32 hampa delapan butir, sepucuk senapan angin, enam senjata tajam, sebilah celurit, tiga buku catatan, sembilan telepon selular (Ponsel), dan satu CPU.
Herry melanjutkan, pada Minggu (25/8) pukul 00.30, tim gabungan Jatanras Polda Metro Jaya bersama Polda Jabar menangkap Asep Barkah (36) asal Kampung Galumpit, Cileunyi Kulon, Bandung; dan Aok Dahroh (50) asal Cipacing, Jatinangor, di Cipacing.
"Berselang dua jam, polisi kembali menangkap Dede Supriyatna alias Kudi (47) asal Cipacing, dan Yopi Maulana (31) alias Doyok asal Babakan Bentas Cileunyi Kabupaten Bandung, Yona Martiana (25) asal Cipacing. Penangkapan dilakukan di Cipacing," ujarnya.

Sumber : Sinar Harapan