Tampilkan postingan dengan label maestro. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label maestro. Tampilkan semua postingan

Jumat, 27 Januari 2017

asal muasal seni tari Kuda Lumping

 

kuda lumping
 Sebuah Pagelaran Kuda Lumping

Sejarah asal muasal seni tari Kuda Lumping ini tidak  ada catatan secara tertulis yang menjelaskan.Hanya sebuah riwayat saja yang diceritakan turun temurun dari satu generasi ke generasi berikutnya.



Kesenian Tari Kuda lumping adalah sebuah seni tari yang dimainkan dengan menggunakan peralatan berupa kuda tiruan yang dibuat dari anyaman bambu.Jika dilihat ritmis tarian kuda lumping ini sepertinya merefleksikan semangat heroisme dan aspek kemiliteran jaman dulu ,yaitu sebuah pasukan kavaleri berkuda.Ini bisa dilihat dari gerakan seni tari kuda lumping yang dinamis,ritmis dan agresif,layaknya gerakan pasukan berkuda ditengah medan peperangan.

Mengenai Sejarah asal muasal seni tari Kuda Lumping konon katanya sih adalah bentuk dukungan rakyat jelata terhadap pasukan berkuda Pangeran Diponegoro dalam menghadapi penjajah Belanda. Ada pula versi yang menyebutkan, bahwa tari Kuda Lumping adalah menggambarkan kisah perjuangan Raden Patah, yang dibantu oleh Sunan Kalijaga, melawan penjajah Belanda. Versi lain menyebutkan bahwa, tarian ini mengisahkan tentang latihan perang pasukan Mataram yang dipimpin Sultan Hamengku Buwono I, Raja Mataram, untuk menghadapi pasukan Belanda.

Minggu, 04 Desember 2016

RHOMA IRAMA SANG MAESTRO DANGDUT


rhoma_irama


Nama asli : Raden Oma Irama
Nama beken : Rhoma Irama
Lahir : Tasikmalaya, 11 Desember 1946
Ayah : Raden Burdah Anggawirya
Ibu : Tuti Juariah
Isteri : Ricca Rachim (11 April 1959)
Pendidikan:
SD Kibono Manggarai Jakarta
SMP Negeri XV Jakarta
SMA Negeri VIII Jakarta (sampai kelas II)
SMA PSKD Jakarta
St Joseph Solo
SMA 17 Agustus Tebet Jakarta
Fakultas Sospol Universitas 17 Agustus
Album:
Berkelana (1978)
Rupiah (1978)
Begadang (1978)
Hak Asasi (1977)
Gitar Tua Oma Irama (1977)
Joget (1975)
Ke Bina Ria (1974)
Filmografi:
Oma Irama Penasaran (1976)
Gitar Tua Oma Irama (1977)
Darah Muda (1977)
Rhoma Irama Berkelana I (1978)
Rhoma Irama Berkelana II (1978)
Begadang (1978)
Raja Dangdut (1978)
Cinta Segitiga (1979)
Camelia (1979)
Perjuangan dan Doa (1980)
Melody Cinta Rhoma Irama (1980)
Badai Diawal Bahagia (1981)
Pengabdian (1984)
Kemilau Cinta di Langit Jingga (1985)
Menggapai Matahari I (1986)
Menggapai Matahari II (1986)
Nada-nada Rindu (1987)
Bunga Desa (1988)
Jaka Swara (1990)
Nada dan Dakwah (1991)
Takbir Biru (1993)

Senin, 07 November 2016

BASIYO, MANUSIA BIASA DAN MAESTRO




           Basiyo telah melampau dirinya. Ia bukan hanya pelawak legendaris Dagelan Mataram, tapi juga seorang maestro. Yakni,  sosok yang telah mengalami pencapaian mumpuni,  baik secara teknis, estetis maupun eksistensial.
Kreativitas humor-humor Basiyo --yang berbasis pada  kultur Jawa Mataraman-- adalah kreativitas yang lahir dari kepekaan sosial, kemampuan melakukan observasi (pengamatan lingkungan), cara pandang  subversif (tidak umum) atas realitas sosial, kecerdasan kreatif mengolah materi dan kemampuan teknis dalam mengkomunikasi ide-ide kepada masyarakat.
Selain itu, Basiyo berhasil di dalam menghadirkan karakter, identitas dirinya di dalam humor-humornya, sehingga selalu tampil khas dan membentuk gaya yang oleh publik dikenal “mbasiyo” (sebuah cara pandang subversif atas kenyataan). Karena itu, humor Basiyo adalah humor yang memiliki kepribadian.
Humor-humor Basiyo bukan banyolan artifisial atau semu/dangkal, vukgar,  tapi hasil olah-tafsir  atas realitas. Budayawan Umar Kayam mengatakan, Basiyo adalah seorang pengamat kehidupan dan lingkungan yang baik/mumpuni.”. Pendapat ini menegaskan, Basiyo sangat cerdas dan mampu merepresentasikan hasil pengamatan sosio-kulturalnya  dengan sangat kreatif, lucu, segar, memiliki pesan sosial terkait dengan kearifan lokal dan inspiratif.

Selasa, 25 Oktober 2016

Soekarno pada masa pengasingan di Ende


Soekarno pada masa pengasingan di Ende
Kota Ende, di pulau Flores, adalah tem­­pat Soekarno dibuang oleh pemerintah kolonial Belanda selama empat tahun. Soekarno tiba di Ende pada Februari 1934 dengan kapal Jan van Riebeeck dan meninggalkan kota ini pada Februari 1938 dengan kapal De Klerk milik KPM menuju Surabaya. Soekarno dan Ende akhirnya mempunyai hubungan yang patut ditelusuri kembali.

Flores sendiri merupakan pulau kecil pada periferi Soenda Kecil, yang baru menarik perhatian pemerintah Hindia Belanda pada awal dasawarsa kedua abad 20. Dengan demikian Ende dimaksudkan sebagai tempat yang dapat mengisolasi Soekarno, menjauhkan dia dari kegiatan politiknya, dan dari rekan-rekan seperjuangannya di Pulau Jawa. Kehadirannya di kota kecil ini dan pergaulannya dengan para misionaris Katolik sampai tingkat tertentu telah membawa sejarah pergerakan kemerdekaan Indonesia menjadi bagian sejarah gereja katolik di pulau ini. Sebaliknya, kehadiran seorang tokoh nasional dengan reputasi tak tertandingi pada masa itu telah membawa Ende, Flores, dan sejarah Gereja di pulau ini menjadi bab kecil atau catatan kaki dalam sejarah nasional Indonesia.

Sabtu, 21 Mei 2016

Waldjinah: Andjar Any Maestro Kondang Langgam Jawa

dok.timlo.net/achmad khalik
Waldjinah dan sejumlah penyanyi keroncong tampil dalam acara mengenang Andjar Any di Joglo, Sriwedari (dok.timlo.net/achmad khalik)
“Yen ing tawang ono lintang, cah ayu, aku ngenteni tekamu. Marang mega ing angkasa nimas, sun takokke pawartamu…”
Sepenggal lagu ciptaan Anjar Mudjiono atau yang akrab dikenal dengan sebutan Andjar Any berjudul ‘Yen Ing Tawang’ terlantun merdu dibawakan oleh diva keroncong kenamaan, Waldjinah di Joglo Sriwedari, Solo, Minggu (20/10) malam. Selain membawakan lagu tersebut, Waldjinah juga membawakan lagu berjudul ‘Ayo Ngguyu’ yang juga diciptakan oleh maestro Langgam Jawa tersebut.
“Bagi saya, beliau (Andjar Any) merupakan seorang maestro kondang di dunia Langgam Jawa. Karya-karyanya banyak dikenal luas oleh masyarakat,” ujar Waldjinah kepada wartawan usai tampil dalam acara Mengenang Lima Tahun Pasca Meninggalnya Sang Maestro Langgam Jawa tersebut.
Acara yang digagas oleh Himpunan Artis Musik Keroncong Indonesia (Hamkri) Cabang Surakarta tersebut juga turut menggandeng sejumlah artis keroncong seperti Nini Satria, Wulan, In indriyani, dan Cahwati.
Koordinator acara peringatan lima tahun meninggalnya Andjar Any, Wartono mengatakan acara tersebut hasil kerjasama ahli waris Almarhum Andjar Any dengan Pemkot Solo dan komunitas musisi keroncong. Digelarnya acara tersebut untuk mengenang jasa-jasa Andjar Ani yang telah mendedikasikan hidupnya dalam dunia seni langgam Jawa.
“Sulit sekali menemukan orang sekelas beliau (Andjar Any). Dimana, kemampuan, dedikasi serta jiwanya tercurah penuh pada karya seni Langgam Jawa. Sehingga dapat menghasilkan karya-karya yang fenomenal dan tidak termakan zaman,” ucap Wartono.
Sementara, orkes pengiring yang digunakan untuk mengiringi pentas lagu keroncong tersebut yakni Orkes Keroncong (OK) Hanjaringat. OK Hanjaringat sendiri merupakan kelompok orkes yang dibentuk saat Andjar Any masih hidup dan berkesenian di Kota Solo.
Salah seorang anggota OK Hanjaringat, Eddy Winoto mengaku tahu persis sosok Andjar Any semasa hidup. “Pada 1997-1998, orkes yang dipimpinnya mengisi di TVRI Semarang. Kami juga mengalami masa-masa sulit saat itu. Namun Andjar selalu menguatkan kami di masa-masa itu,” terangnya.
Menurut dia, mantan pentolan Hanjaringat itu adalah seorang jenius. Andjar Any mampu mencipta lagu di mana pun dan kapan pun. “Orangnya sangat tenang. Hal-hal kecil menginspirasinya membuat lagu,” katanya.


Jumat, 20 Mei 2016

Waljinah Legenda Si "Walang Kekek"


Frans Sartono
KOMPAS.com - Waljinah adalah seorang ”superstar”, jauh sebelum negeri ini mengenal Madonna atau Taylor Swift. Lagu ”Walang Kekek” atau ”Jangkrik Genggong” yang dilantunkan oleh penyanyi asal Solo, Jawa Tengah, itu menjadi lagu rakyat. Di usia 65 tahun, Waljinah sudah lebih dari 50 tahun bernyanyi dan tetap setia dengan keroncong.
Mari kita buka halaman koran tahun 1968-1969. Pada masa itu di radio, Beatles tengah kondang dengan ”Hey Jude”, dan Scot McKenzie populer dengan ”San Francisco” yang menjadi penanda gerakan generasi bunga di Amerika Serikat.
Saat itu Orde Baru mulai berkuasa setelah diakhirinya kekuasaan Bung Karno. Ekonomi rakyat susah payah. Masyarakat kelas bawah terbuai oleh mimpi untuk menjadi orang kaya darurat dengan membeli undian bernama Nasional Lotere alias Nalo. Radio swasta bermunculan di sejumlah kota dan radio transistor menggeser radio listrik. Dalam lanskap kehidupan seperti itulah muncul Waljinah dengan lagu ”Walang Kekek”.
”Sebelum Nalo dibuka (diumumkan hasil undiannya) di radio itu diputar dulu ’Walang Kekek’. Wah, ramai sekali. Sambil nunggu Nalo orang-orang itu terhibur,” kata Waljinah yang ditemui di rumahnya di Kampung Mangkuyudan, Solo, awal Maret lalu.
”Walang Kekek” benar-benar menjadi sound track zaman yang mengiringi sebuah babak kehidupan rakyat. Lagu yang menurut Waljinah termasuk no name atau tidak diketahui penggubahnya itu liriknya ditulis oleh Waljinah. Syair berupa parikan atau semacam pantun yang mengacu pada persamaan bunyi.
”’Walang Kekek’ itu lagu jenaka yang isinya sindiran. Kita menyindir diri sendiri,” tutur Waljinah sambil melantunkan penggalan parikan degan suara yang (masih) merdu.
”Walang kekek mencok neng tenggok/ Mabur maneh mencok nang pari/ Aja ngenyek karo wong wedok/ Yen ditinggal lungo setengah mati”. Artinya, walang kekek hinggap di tenggok (bakul)/ Terbang lagi hinggap di padi/ jangan melecehkan perempuan/ kalau ditinggal pergi (rasanya) setengah mati.
”Isi lagu itu saya ambil dari kenyataan dalam pergaulan hidup sehari-hari. Dan benar kan, kalau tidak ada wanita, orang (laki-laki) akan susah setengah mati. Makanya, jangan ngenyek sama wanita,” katanya wanti-wanti.
Antipoligami
Waljinah memotret romantika kehidupan masyarakat secara komedik, karikatural. Ia tidak sok menggurui atau memaki, tetapi mengajak orang untuk berintrospeksi dengan cara jenaka, menghibur. Waljinah melantunkan lagi bait lain: ”Walang abang mencok neng kara / Walang ijo walange putih/ Bujang maneh ora ngluyura/ Sing wis duwe bojo/ (O)ra tau mulih…”
Seperti pantun, dua baris pertama merupakan sampiran, sedangkan dua baris berikutnya merupakan isi yang artinya dituturkan oleh Waljinah.
”Benar juga kan. Bagaimana seorang yang masih bujang tidak ngeluyur(keluar rumah), wong orang yang sudah punya istri, bahkan yang sudah punya cucu saja tidak pernah pulang ke rumah ha-ha-ha…,” kata Waljinah yang mempunyai lima anak itu.
Persoalan asmara, hubungan keluarga antara suami dan istri, ketidaksetiaan disinggung dalam lagu-lagu Waljinah. Beberapa kali ia menyindir soal poligami, termasuk dalam lagu ”Tepo Tulodo” gubahan Waljinah.
”Saya memang antipoligami. Sakit lho, perempuan yang ditandingkan itu. Laraning lara (sakitnya sakit) dari seorang perempuan itu kalau diduakan, ditandingkan dengan perempuan lain. Saya enggak percaya kalau perempuan merasa bahagia dipoligami. Hatinya kan nggerus(tergerus),” kata Waljinah.
”Makanya perempuan harus pinter. Harus mandiri. Jangan sampainjagakke (hanya mengharapkan) orang lain,” katanya tegas.
Dengan keberpihakan yang jelas pada perempuan, suara merdu, kenes, kemayu serta lirik yang jenaka dan dekat dengan kehidupan sehari-hari itulah lagu-lagu Waljinah berkenan di hati publik. Selain lewat radio, Waljinah juga akrab dengan masyarakat karena ia sering tampil langsung di depan khalayak dari kampung ke kampung, dari panggung ke panggung.
Bukan pesinden
Dari mana sebenarnya kemampuan Anda bernyanyi?
”Alam,” kata Waljinah anak bungsu dari sepuluh bersaudara yang lahir di bulan Syawal tahun 1945 itu.
Tapi, ia mungkin juga belajar dari sang ibu yang selalu mengantarkan tidur anaknya dengan tembang-tembang. ”Sejak kecil kalau mau tidur, saya dininabobokan dengan tembang-tembang macapat. Saya inget sekali tembang ”Dandang Gula” yang sering dinyanyikan ibu. Itu mengapa sejak kecil saya suka sekali nembang macapat. Waktu kelas empat SD, saya juara pertama lomba nembang di Solo.”
Kemampuan nyanyi Waljinah pertama didengar oleh kakaknya, Munadi, yang memang seorang penyanyi keroncong. ”Saya kalau mandi kan sambil nyanyi. Kakak saya dengar. ’Lho kowe kok iso’ nyanyi keroncong—kamu kok bisa menyanyi keroncong,” kata Waljinah menirukan keheranan sang kakak.
”Saya dibimbing dan diajak latihan. Kalau latihan, saya harus melompat jendela lalu digendong kakak. Saya latihan dari kampung ke kampung yang mempunyai kelompok orkes keroncong. Umur saya masih 12 tahun dan sudah jadi penyanyi.”
”Saya belajar sendiri dengan cara mendengar. Waktu itu di RRI Solo ada penyanyi yang saya sukai, yaitu Maryati dan Sayekti. Saya belajar dari mereka.”
Cengkok Jawa dalam cara nyanyi Waljinah adalah pengaruh kuat kebiasaan menembang macapat semasa kecil. Selain itu, ia juga sangat akrab dengan olah vokal pada karawitan Jawa. ”Saya juga belajar dari Nyi Podang. Saya seneng banget dengan suaranya. Dari Nyi Podang saya belajar gregel (kelak-kelok suara),” kata Waljinah menyebut nama pesinden yang suaranya terkenal lewat siaran karawitan di RRI Solo.
Anda juga menyinden di pergelaran wayang kulit?
”Saya bukan pesinden. Di wayang kulit posisi saya bukan sebagai pesinden, tapi bintang tamu yang menyanyi langgam. Ada satu dua gending yang bisa saya bawakan, misalnya ’Jineman’ itu kan mudah dan seperti langgam. Juga bowo (bagian solo dari satu komposisi). Tapi, kalau nyinden saya enggak mau karena bisa merusak cara saya menyanyi langgam, karena artikulasinya berbeda.”
Wayang kulit
Saat pergelaran wayang kulit memerlukan pembaruan kemasan pada akhir 1980-an, Waljinah dilibatkan. Sejumlah pemerhati wayang kulit kala itu berkumpul di rumah dalang Ki Anom Suroto di Kampung Notodiningratan, Solo. ”Waktu itu Gubernur (Jawa Tengah) Ismail ingin agar wayang ditonton anak muda. Kami mencari terobosan dengan menggunakan bintang tamu. Saya yang pertama diajak sebagai bintang tamu.”
Waljinah turut memberi kontribusi perubahan dalam dunia persindenan, terutama pada pentas wayang kulit. Ia antara lain mengajak para sinden untuk berdandan agar menarik dilihat penonton.
”Kalian harus dandan yang baik. Pakaian enggak usah mahal, tapi cari yang gemerlap supaya kelihatan byar, tidak mleruk (redup). Mereka saya ajari pakai idep, bulu mata (palsu). Nanti kalian akan kelihatan cantik di panggung,” kata Waljinah yang memang berpengalaman dalam urusan penampilan.
Perubahan lain dalam dunia persindenan yang dibawa Waljinah adalah pada posisi duduk pesinden. Saat harus tampil sebagai bintang tamu, Waljinah sengaja membawa dingklik (sejenis tempat duduk kecil). Dingklik itu ia tutupi kain supaya, kata Waljinah, ora ngisin-isini—tidak memalukan.
”Saya harus duduk di dingklik karena saya kan pakai long torso. Kalau posisi saya bertimpuh, saya akan susah bernapas dan tidak bisa bernyanyi. Tapi dengan dingklik saya kelihatan paling gagah karena paling tinggi sendiri kelihatannya ha-ha-ha....”
Sejak itu banyak pesinden menggunakan dingklik.
Jiwa tenteram
Waljinah bukan hanya superstar, tapi juga master dalam langgam dan keroncong. Penilaian itu datang dari Joanna Dudley, seorang penyanyi asal Australia tetapi bermukim di Jerman, yang pernah berguru keroncong langsung kepada Waljinah di Solo selama sekitar empat tahun.
Waljinah di rumahnya juga melatih bernyanyi keroncong anak-anak usia sekolah dasar hingga sekolah lanjutan atas. Ia dengan tulus dan antusias ingin menyebarkan keroncong kepada siapa saja, musik yang ia yakini berakar pada budaya Tanah Air itu.
”Keroncong memang tidak seperti rock, pop, atau dangdut yang serbabanter (keras). Tapi keroncong itu memesona, menghipnotis. Orang marah kalau dengar keroncong yang halus dan suara penyanyi yang merdu bisa tentrem. Keroncong itu kan jiwa kita dan warisan nenek moyang kita, jangan sampai hilang. Eman-eman.” (http://entertainment.kompas.com/)