Bagaimana rasanya hidup sebagai seorang perempuan dalam kisah Mahabharata?
Setiap kali
membaca kisah Mahabharata, kerap kali saya mempertanyakan hal tersebut.
Bagaimana rasanya, ya, jadi istri
boyongan yang tak punya banyak pilihan ketika ada seorang ksatria memenangkannya
dalam suatu sayembara? Apakah mereka rela-rela saja dibawa menjadi seorang
istri—atau bahkan dihadiahkan kepada orang lain untuk dijadikan istri—semata-mata
hanya karena lelaki itu adalah pemenang sayembara? Tidakkah mereka memiliki
pilihan hatinya sendiri dan ingin bebas menjalin hubungan dengan orang tersebut?
Apakah tokoh perempuan dalam Mahabharata
selalu seperti itu, menjadi objek sayembara tanpa memiliki kekuatan untuk
memenuhi keinginan dirinya sendiri?
Dalam kisah Mahabharata
yang pernah saya baca, ternyata ada tokoh-tokoh perempuan yang merasakan keraguan, bahkan kesedihan karena
norma masyarakat saat itu membuat mereka tidak memiliki banyak pilihan. Lihat
saja kisah Dewi Amba yang sempat menolak dipersembahkan pada Wicitrawirya oleh
Bhisma karena telah tertambat hati pada Salwa. Namun, saat ia kembali pada
Salwa, ia justru mendapat penolakan karena dianggap telah menjadi hak orang
lain, yaitu Bhisma. Amba berusaha untuk tidak
menelan bulat-bulat nasibnya sebagai seorang istri boyongan dan masih berusaha
memperjuangkan pilihannya sendiri.
Tokoh
perempuan lain yang menjadi sorotan dalam kisah Mahabharata adalah Drupadi atau
Pancali. Ia dinamakan seperti itu sebab ia adalah putri dari Kerajaan Pancala
yang dipimpin oleh Raja Drupada. Arjuna dan Bima berhasil memenangkannya dalam
sebuah sayembara melawan Patih Gandamana, paman Drupadi. Kelak, ia akan menjadi istri dari Yudhistira,
sulung Para Pandawa. Dalam Mahabharata versi India, disebutkan bahwa ia adalah
istri dari kelima Pandawa. Iya, satu istri dengan lima suami.
Drupadi
memiliki peran penting di dalam kisah Mahabharata. Bukan hanya karena dia
adalah istri dari Para Pandawa, namun juga karena ia adalah salah satu tokoh
yang menyulut meletusnya perang Bharatayudha. Ia adalah perempuan yang hidup dengan
Para Pandawa di masa pengasingannya di Hutan Wanamarta. Bersama dengan suaminya,
ia membangun kerajaan Amarta selepas disingkirkan secara licik dari Kerajaan
Hastinapura oleh Kurawa. Drupadi merasakan jatuh-bangunnya hidup dengan Para
Pandawa. Ia adalah wanita yang rela berkorban untuk suaminya, namun juga
sekaligus mampu mengarahkan langkah Para Pandawa untuk maju perang.
Permainan Dadu dengan Kurawa
Momen
yang paling mempengaruhi hidup Drupadi mungkin adalah saat ia dipermalukan di
Balairung Kerajaan Hastinapura usai permainan dadu yang dilakukan oleh Pandawa
dan Kurawa. Saat itu, pihak Kurawa sengaja mengundang Pandawa ke Hastinapura
sebagai balasan atas undangan Pandawa kepada mereka ke Amarta. Disana, mereka
diajak bermain judi oleh Sengkuni—Paman dari Para Kurawa. Yudhistira yang saat
itu berniat menghormati pihak yang mengundangnya, setuju dengan ajakan Sengkuni
untuk bermain dadu. Sayangnya, Pandawa kalah dalam permainan itu disaat mereka
mempertaruhkan kerajaan masing-masing beserta isinya.
Saat itu, Dursasana (salah satu Kurawa) yang merasa telah menang, memaksa Drupadi untuk membuka busananya. Ia berusaha menelanjangi Drupadi di depan mata banyak orang. Bukan hanya itu, Drupadi yang telah malu juga harus merasakan kekecewaan yang mendalam karena suaminya saat itu hanya diam tak berkutik melihat dirinya dilecehkan. Beruntung pada saat itu, dengan bantuan Sri Khrisna (kerabat Pandawa yang merupakan titisan Dewa Wisnu) membantu Drupadi dengan kekuatannya, sehingga busana perempuan itu tidak bisa lepas dari tubuhnya. Drupadi meratapi sikap Para Pandawa pada saat itu. Ia tidak habis pikir mengapa lelaki yang telah banyak membuatnya berkorban tidak menolong dirinya. Ya, Drupadi tahu ksartria memang harus sportif. Apabila mereka kalah, mereka harus mengakuinya dengan perbuatan. Dengan perasaan marah, Drupadi bersumpah pada saat itu untuk tidak menggelung dan mengeramasi rambutnya sebelum dapat keramas dengan darah Dursasana.
Saat itu, Dursasana (salah satu Kurawa) yang merasa telah menang, memaksa Drupadi untuk membuka busananya. Ia berusaha menelanjangi Drupadi di depan mata banyak orang. Bukan hanya itu, Drupadi yang telah malu juga harus merasakan kekecewaan yang mendalam karena suaminya saat itu hanya diam tak berkutik melihat dirinya dilecehkan. Beruntung pada saat itu, dengan bantuan Sri Khrisna (kerabat Pandawa yang merupakan titisan Dewa Wisnu) membantu Drupadi dengan kekuatannya, sehingga busana perempuan itu tidak bisa lepas dari tubuhnya. Drupadi meratapi sikap Para Pandawa pada saat itu. Ia tidak habis pikir mengapa lelaki yang telah banyak membuatnya berkorban tidak menolong dirinya. Ya, Drupadi tahu ksartria memang harus sportif. Apabila mereka kalah, mereka harus mengakuinya dengan perbuatan. Dengan perasaan marah, Drupadi bersumpah pada saat itu untuk tidak menggelung dan mengeramasi rambutnya sebelum dapat keramas dengan darah Dursasana.
Kejadian
itulah yang membuat Drupadi geram dan membuatnya menjadi istri yang berbeda
dari perempuan pada umumnya. Ia telah memafkan Pandawa, namun kejadian usai
permainan dadu itu membuatnya tidak tinggal diam. Dengan tidak mengurangi rasa
hormatnya kepada suaminya, Drupadi berubah menjadi perempuan yang lebih tegas, mandiri,
dan berani. Setelah terbebas dari masa pengasingan selama 12 tahun ditambah 1 tahun penyamaran di Wirata, Drupadi
menyerukan gugatannya kepada Pandawa.
Drupadi
lah yang secara lantang mengingatkan Pandawa mengenai kecurangan-kecurangan
Kurawa. Ia pula yang membakar dada Para Pandawa untuk mau maju mengambil
kembali hak-hak kerjaan yang dirampas oleh Kurawa dengan liciknya. Ia pula lah
yang mengingatkan Pandawa tentang janjinya saat dipermalukan dulu, hal yang
membuat Bima tergerak untuk menuntaskan janji Drupadi.
Drupadi membuat Para Pandawa tergerak untuk menuntut Kurawa agar
mengembalikan hak-hak mereka, hingga meletus lah perang Barathayudha yang
dahsyat itu.
*
Drupadi adalah tokoh yang
memiliki dua sisi yang bertolak belakang, namun hidup dalam satu jiwa. Dia
adalah istri yang lembut, setia, dan penuh pengabdian dengan suaminya. Di sisi
lain dia juga mampu secara tegas menyampaikan pendapatnya, berani dalam
mengambil tindakan, dan bahkan memberikan masukan kepada suaminya, Para
Pandawa. Mungkin, Drupadi adalah sosok yang cocok untuk menggambarkan kutipan ini:
“Behind every great man, there is a great
woman.”
-Sawitri Wening-
(http://kunta-wijaya.blogspot.com) |
Tidak ada komentar:
Posting Komentar