Selasa, 21 Oktober 2014

Bendi…Nasibmu Dulu dan Kini…

Bloggers, siang ini saya mengajak anda untuk mengunjungi salah satu sisi dari sudut kota Padang, tepatnya di Stasiun Simpang Haru pada era 1930an. Yang menjadi sorotan kita kali ini adalah bendi (atau dokar, tapi beda dengan dokar) yang dulu pernah menjadi transportasi primadona di Minangkabau.Pada masa Kolonial Belanda, bendi sering digunakan oleh saudagar kaya, para penghulu, ataupun petinggi pangrehpraja, seperti controleur, demang, asisten demang, dan lain sebagainya. Seperti yang facebooker lihat di foto yang penulis ambil dari KITLV, ternyata bendi juga sering mangkal di Stasiun Simpang Haru untuk menunggu para penumpang yang pulang. Akhir-akhir ini, kita sudah jarang melihat pemandangan bendi di sekitar Stasiun Simpang Haru, atau malah tidak sama sekali. Keberadaannya sudah mulai tersingkir oleh kehadiran kuda besi.

Seperti yang pernah diungkap oleh Abdullah Rudolf Smit pada harian Haluan, bahwa ia merasa gelisah dengan berkurangnya bendi di Kota Padang. Sebab, Alat transportasi tradisional itu seharusnya bisa menjadi potensi yang bisa tergarap secara maksimal namun belum dilakukan oleh pemerintah kota.Bahkan lulusan Gordon University Florida tersebut berharap masyarakat tidak memandang bendi sebagai transportasi tradisional biasa. Sebab, Kota Padang justru bisa mengumpulkan dolar dari bendi-bendi tersebut.
bendi ui,,,Namun sesuatu hal yang perlu kita pikirkan bersama, keunikan dan orisinalitas bendi itu bisa mendongkrak jumlah wisatawan asing untuk datang ke Kota Padang dan beberapa daerah lainnya di Sumatera Barat. Dan, memang seharusnya, pemerintah mulai berpikir keras menghidupkan kembali transportasi ini untuk memaksimalkan industri wisata di Kota Padang. Bukan malah memperbanyak bangunan mewah dan menggusur terminal saja!!! (http://basajarah.wordpress.com/)
Fikrul Hanif Sufyan adalah staf pengajar di Prodi Pendidikan Sejarah STKIP Abdi Pendidikan Payakumbuh dan staf pengajar Bahasa Belanda di Universitas Andalas Padang.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar