Kamis, 02 April 2015

WADUK RIAM KANAN





Keberadaan air di muka bumi tidak hanya untuk memenuhi kebutuhan biologis makhluk hidup yang ada akan tetapi juga memerankan peranan yang amat penting dalam hal menjaga keseimbangan alamiah sehingga kelangsungan makhluk hidup di muka bumi dapat terjaga. Demikian pentingnya peranan air sehingga umat manusia telah sejak lama berusaha agar ketersediaan air dapat terjamin setiap saat, salah satu caranya adalah dengan membuat bendungan. Bendungan, dam atau reservoir secara harfiah dapat diartikan sebagai sebuah badan air buatan ataupun danau buatan. Danau buatan ini dapat dibuat dengan membangun bendungan di sungai atau dengan penggalian tanah.
Pada awalnya bendungan hanya berfungsi sebagai penyimpan cadangan air guna keperluan air minum dan pengairan untuk pertanian. Seperti yang dilakukan oleh bangsa Yaman pada masa kerajaan Saba’ tahun 950 SM, para arsitek negeri itu telah membangun sebuah bendungan raksasa dengan membendung air diantara dua buah gunung, bendungan raksasa itu bernama Ma’Rib. Bendungan ini dimanfaatkan sebagai sumber air minum, pengairan pertanian dan pengendali banjir saat musim hujan. Tenaga yang dihasilkan oleh aliran air pun telah dimanfaatkan oleh manusia sejak lama untuk meringankan beban kerja manusia seperti yang dilakukan bangsa Yunani sejak 2.000 tahun yang lalu dengan menciptakan roda air guna menggiling gandum menjadi tepung. Setelah listrik sebagai sumber energi ditemukan oleh Michael Faraday tahun 1821 maka dimulailah perkembangan pemanfaatan energi air menjadi listrik secara meluas, diawali oleh sebuah perusahaan Appleton Edison Light Company yang memanfaatkan listrik yang dihasilkan dari bendungan sungai Fox di Appleton Wisconsin pada tanggal 30 September 1882. Dan saat itulah dalam sejarah dikenal pertama kalinya sebuah pembangkit listrik tenaga air. Dalam perkembangan sejarah selanjutnya teknologi PLTA memang banyak didominasi di negara Amerika Serikat yang hingga tahun 1889 saja sudah membangun 200 unit PLTA.
Adalah jasa seorang terpelajar putra daerah Kalimantan Selatan yang bernama Ir. Pangeran Muhammad Noor sehingga Kalimantan Selatan memiliki sebuah pembangkit listrik tenaga air untuk menyuplai kebutuhan listrik daerah Kalimantan Selatan dan Tengah. Pangeran Mohammad Noor adalah putra Pangeran Muhammad Ali seorang wakil Kalimantan dalam voolksraad (DPR) pada masa pemerintahan Hindia Belanda. Pangeran Mohammad Noor lahir di Martapura tahun 24 Juni 1901, pendidikan dimulai HIS lulus tahun 1917 kemudian MULO lulus tahun 1921 dan HBS lulus tahun 1923. Setelah lulus dari HBS beliau melanjutkan studi di sekolah tinggi teknik Bandung hingga meraih gelar Insinyur pada tahun 1927. Pada periode 1935 – 1939 Pangeran Mohammad Noor menggantikan kedudukan ayah beliau di voolksraad, dan pada tahun 1945 beliau diangkat oleh Soekarno menjadi gubernur pertama Kalimantan. Di masa kemerdekaan Pangeran Mohammad Noor pernah menjabat sebagai Menteri Pekerjaan Umum dalam kabinet Ali Sastromijoyo tahun 1956 – 1959. Ketika itulah beliau memberikan gagasan dan berhasil merealisasikan pembangunan pembangkit listrik tenaga air Riam Kanan. Pangeran Muhammad Noor wafat pada tanggal 15 Januari 1979 pada usia 78 tahun. Untuk mengenang jasanya, nama beliau kini diabadikan sebagai nama waduk serta jalan raya menuju waduk tersebut di Kalimantan Selatan.
Realisasi gagasan pembangunan waduk Riam Kanan diawali dengan survey pendahuluan pada kurun waktu November 1958 – Januari 1959. Secara hidrologis alami Kalimantan Selatan memiliki sungai utama yaitu sungai Barito yang bermuara di laut Jawa.Sungai Barito memiliki dua cabang utama yaitu sungai Martapura dengan dua anak sungai yaitu sungai Riam Kanan dan sungai Riam Kiwa. Cabang sungai kedua dari sungai Barito adalah sungai Negara dengan anak-anak sungainya seperti Amandit, Tapin, Batang Alai, Balangan, Tabalong Kanan dan Tabalong Kiwa. Sungai-sungai lain di Kalimantan Selatan yang bermuara di Selat Makasar adalah sungai Satui, Kintap, Kusan, Kelumpang dan Sampanahan. Survey pendahuluan tersebut kemudian dilanjutkan dengan kegiatan studi kelayakan dan enginering design pada tahun 1962 – 1964. Terpilihnya daerah aliran sungai Riam kanansebagai sumber tenaga air serta desa Arinawai (Aranio) sebagai site project tak lepas dari berbagai pertimbangan bahwa bagian hulu sungai Riam Kanan adalah merupakan daerah tangkapan air yang berupa hutan tropis lebat di jajaran pegunungan Meratus, bentang alam (topografi) calon waduk berupa lembah yang cukup luas serta dikelilingi perbukitan yang cukup tinggi, tidak terdapat deposit alami berupa mineral yang potensial pada areal calon waduk serta yang tak kalah penting adalah tingkat kepadatan penduduk yang rendah pada areal yang terkena dampak pembangunan waduk. Mengenai nama desa Arinawai sendiri konon adalah nama asli dari desa Aranio sekarang ini, tak diketahui dengan pasti mengapa perubahan nama itu bisa terjadi, tetapi diperkirakan karena lidah para ekspatriat Jepang yang bekerja di proyek ini kesulitan mengeja Arinawai sehingga berubah menjadi Aranio hingga sekarang.
Proyek pembangunan waduk Riam Kanan ini adalah proyek milik kementerian pekerjaan umum dengan pengawasan konstruksi (dam, power house serta fasilitas lain) dari Hazama Gumi Jepang. Untuk pekerjaan yang berurusan dengan metal dan logam (gates, penstok, surge tank) dikerjakan oleh kontraktor Nippon Kokkan, untuk instalasi mesin-mesin perlistrikan dikerjakan oleh kontraktor Fuji Electric dan Toyomenka, sedangkan pembangunan jaringan transmisi beserta stasiun-stasiun transmisinya dikerjakan oleh kontraktor Indonesia yaitu PT. Wijaya Karya. Banyaknya keterlibatan kontraktor Jepang pada proyek pembangunan waduk Riam Kanan ini kemungkinan bahwa proyek ini dibangun atas bantuan pemerintah Jepang yang berupa dana hibah atau pinjaman.
Mengingat bahwa proyek besar ini akan menyuplai sejumlah logistik berupa peralatan dan mesin-mesin dalam volume yang tidak sedikit maka sebelum pembangunan fisik bendungan dilaksanakan terlebih dahulu proyek ini mengerjakan akses jalan sepanjang kurang lebih 25 km pada kurun waktu Oktober 1963 – Maret 1964 dari kota Banjarbaru menuju site project Aranio. Pembangunan akses jalan ini bersamaan waktunya dengan pembangunan fasilitas-fasilitas lain di site project berupa perkantoran, mess karyawan, serta pergudangan hingga selesai pada tahun 1966.
Sebagaimana umumnya pembangunan sebuah waduk type earthfill atau penimbunan badan sungai, maka sebelum pembangunan badan bendungan yang harus dikerjakan lebih dahulu adalah pekerjaan pembuatan terowongan pengalih aliran sungai yang akan dibendung dengan pengeboran pada salah satu sisi tebing sungai bagian hulu menerobos dalam bukit hingga tembus pada sisi tebing sungai di bagian hilir. Pekerjaan pembuatan terowongan pengalih aliran sungai ini dikerjakan pada kurun waktu April 1966 – Oktober 1968, panjang terowongan pengalih aliran sungai ini adalah 220 meter dengan diameter terowongan 6 meter. Setelah terowongan pengalih ini selesai dibangun, mulailah pekerjaan pengurukan badan sungai Riam kanan dengan menggunakan jutaan kubik material berupa batu dan tanah yang ditumpahkan dan dipadatkan ke dalam badan sungai. Hingga hasil pekerjaan pengurukan membentuk sebuah badan bendungan, dan air sungai Riam Kanan pertama kali mulai mengalir melalui terowongan pengalih pada tanggal 18 Juli 1969.
Setelah aliran air sungai berhasil dialihkan, pekerjaan pembangunan konstruksi badan bendungan terus dilanjutkan hingga dimensi ukuran badan bendungan ini sesuai dengan enginering design yang telah ditetapkan hingga kelak benar-benar kuat untuk menahan tekanan air waduk, pekerjaan konstruksi badan bendungan ini dilaksanakan pada kurun waktu Agustus – Oktober 1969 . Pada fase ini dilaksanakan pula konstruksi terowongan tekan (pressure tunel) sepanjang 270 meter dan diameter 4,8 meter, dimana pada saat pembangunan terowongan ini telah terjadi kecelakaan yang mengakibatkan korban jiwa seorang juru ukur dari kontraktor Hazama Gumi yang bernama Mr. Hikawa. Karena bisingnya kondisi di dalam terowongan dari alat-alat pemecah batu dan kompresor yang sedang bekerja, juru ukur ini diperkirakan tidak mendengar adanya alat berat berupa shovel dozer dengan mengangkut batu-batu hasil galian yang sedang berjalan mundur, shovel yang dioperasikan oleh operator Jepang dari kontraktor Hazama Gumi ini akhirnya menggilas sang juru ukur malang tersebut. Jenazah Mr. Hikawa dikremasi di desa Tambela dan abunya dikirim ke keluarganya di Jepang. Peristiwa kecelakaan tersebut terjadi pada tanggal 20 Oktober 1969.
Pada bulan Januari 1970 pekerjaan pondasi bangunan stasiun tenaga pembangkit mulai dikerjakan dan secara simultan mulai pada tahun ini dibangun jaringan transmisi Cempaka dan Banjarmasin. Pembangunan jaringan transmisi dari stasiun pembangkit Riam Kanan hingga menuju stasiun Banjarmasin juga penuh tantangan terutama pembangunan jaringan transmisi tegangan tinggi yang melalui daerah rawa gambut yang kondisinya tidak stabil. Hingga perlu mendatangkan pakar konstruksi sipil legendaris bapak Profesor Sedyatmo dengan pondasi cakar ayam nya yang terkenal itu.
Hingga pada akhir tahun 1970 konstruksi badan bendungan tahap I telah selesai dengan pancapaian ketinggian elevasi (muka air) 40 meter dari total ketinggian 66 meter yang dirancang. Bendungan ini dirancang untuk mampu menampung air dengan kapasitas maksimum (gross) 1.200 juta meter kubik dengan daya tampung efektif 600 juta meter kubik air. Luas waduk ini sendiri adalah 92 km2 dengan luas daerah tangkapan air 1.043 km2. Struktur badan bendungan dirancang mampu menahan air hingga ketinggian muka air maksimum 60 meter, minimum ketinggian muka air agar mampu memutar turbin adalah 52 meter, apabila ketinggian muka air mencapai 63 meter maka air akan keluar melalui pelimpasan air (emergency spill way).
Periode Mei - Oktober 1971 adalah periode tahap penyelesaian akhir konstruksi badan bendungan yang selanjutnya dilakukan pekerjaan logam yang berupa konstruksi dan instalasi gates (pintu air), penstocks (pipa pesat) dan turbine generators yang dimulai pada bulan Desember 1971. Pekerjaan konstruksi logam ini memakan waktu kurang lebih enam bulan hingga rampung pada pertengahan 1972. Setelah pemasangan pintu air, pipa pesat dan turbin generator selesai maka pada tanggal 30 Juni 1972 dilakukanlah penutupan pintu air pada terowongan pengalih aliran sungai guna memulai menampung air waduk, peristiwa ini ditandai dengan upacara bersama semua pekerja proyek dengan seremonial minum Sake (minuman Jepang) bersama. Dengan ditutupnya terowongan pengalih aliran sungai yang berarti sungai Riam Kanan beserta 8 anak sungainya tersumbat maka muka air mulai merambat naik dan akhirnya menggenangi kawasan seluas 92 km2 yang mana termasuk di dalamnya tercatat 9 kawasan perkampungan beserta lahan perkebunan & kuburan.
Diperlukan waktu enam bulan penampungan air hingga ketinggian muka air waduk mencapai level minimum untuk menggerakkan turbin generator. Masih diperlukan beberapa waktu lagi hingga tinggi muka air mencapai kestabilan pada level minimum, dan pada tanggal 29 Maret 1973 tinggi muka air telah stabil mencapai ketinggian minimum 52,5 meter hingga dapat dilaksanakan testing pengoperasian 2 turbin generator, jaringan transmisi serta stasiun transmisinya dan hari itu pula sukses mengalirkan energi listrik di wilayah Banjarbaru, Martapura dan Banjarmasin. Hingga selesai bendungan ini dibangun, bendungan ini memiliki ukuran lebar puncak bendungan 10 meter, panjang puncak bendungan 195 meter, tinggi hingga puncak 66 meter serta volume bendungan 670.000 meter kubik dan menghabiskan biaya pembangunan sebesar US$ 2.944.000.000 (kurs saat itu).
Bendungan ini akhirnya diresmikan oleh Presiden Soeharto pada tanggal 30 Juni 1973 yang didampingi oleh Menteri PUTL Ir. Soetami dan Gubernur Kalimantan Selatan Kolonel Soebardjo. Pada saat diresmikan bendungan ini memiliki 2 mesin pembangkit listrik dengan kapasitas masing-masing 10 MW. Dan untuk menghormati jasa-jasa penggagas pembangunan waduk Riam Kanan maka pada tanggal 19 Januari 1980 nama PLTA Riam Kanan diganti menjadi PLTA Ir. Mohammad Noor. Pada kurun waktu Juli 1980 – Mei 1981 dilaksanakan pembangunan tahap II dengan penambahan instalasi satu unit pembangkit lagi dengan kapasitas yang sama dengan 2 mesin terdahulu sehingga total kapasitas mesin pembangkit listrik PLTA Ir. Pangeran Mohammad Noor adalah 30 MW.
Kini, 37 tahun sudah PLTA Ir. Mohammad Noor beroperasi untuk memberikan jasa energi listrik kepada masyarakat Kalimantan Selatan dan Tengah. Tentu saja kondisi perlistrikan di masa awal-awal beroperasi sangatlah jauh berbeda dengan saat ini, yang mana kondisi ini dipengaruhi oleh tingkat pertambahan penduduk serta pertumbuhan ekonomi yang ditandai dengan banyaknya bermunculan industri-industri besar dan sentra-sentra pemukiman yang sudah barang tentu banyak memerlukan energi listrik. Seiring dengan bertambahnya usia maka produksi listrik yang dihasilkan dari ketiga turbin PLTA tidak lagi mampu maksimal dari kapasitasnya 30 MW, kini kisaran produksi listrik PLTA ini hanya 20 – 22 MW saja. Hal ini tentu saja sudah diantisipasi oleh pemerintah dengan membangun pembangkit-pembangkit listrik lain guna menambah pasokan listrik, tercatat di Kalimantan Selatan dan Tengah terdapat beberapa pembangkit listrik seperti PLTU (uap) Asam Asam dengan kapasitas 130 MW, PLTD (diesel) Trisakti dengan kapasitas 30 MW, PLTD Banua Lima dengan kapasitas 30 MW, PLTD Kuala Kapuas dengan kapasitas 20 MW serta PLTD Palangkaraya dengan kapasitas 30 MW.
Akan tetapi dari keseluruhan total pasokan listrik dari beberapa pembangkit listrik tersebut belumlah mampu mencukupi permintaan akan listrik di Kalimantan Selatan dan Tengah yang mencapai 300 MW, sehingga Kalimantan Selatan dan Tengah saat ini masih mengalami defisit listrik sekitar 30 – 50 MW. Dari semua pembangkit listrik yang ada di Kalimantan Selatan dan Tengah ini masing-masing terkoneksi satu sama lain untuk saling menyokong, dan apabila ada pemeliharaan (overhaul) pada salah satu pembangkit setelah beberapa ribu jam beroperasi maka pemadaman bergilir tidak dapat dihindarkan.
PLTA Ir. Pangeran Mohammad Noor dalam operasionalnya bukan hanya memberikan jasa energi listrik akan tetapi juga memberikan air yang begitu berharga bagi masyarakat Kalimantan Selatan, di tahun 2010 air dari PLTA ini dimanfaatkan untuk irigasi sawah seluas 7.012 hektar dengan konsumsi air 10,161 m3 per detik, memenuhi kebutuhan perikanan dimana tercatat 290 kolam ikan dengan total luas 326,26 hektar yang memerlukan air 6,918 m3 per detik, serta untuk kebutuhan air minum melalui PDAM Banjarbaru dengan kebutuhan air 150 liter per detik dan PDAM Banjarmasin dengan kebutuhan air 1.100 liter per detik. Usia 37 tahun memanglah belum masuk dalam kategori uzur bila dibandingkan dengan bendungan-bendungan tua lain yang masih berfungsi di Amerika Serikat, namun bukanlah suatu tindakan yang terpuji apabila ada oknum-oknum di masyarakat yang kurang perduli dengan memberikan beban yang tidak semestinya pada waduk ini seperti penebangan liar dan penambangan liar pada daerah hulu waduk, serta tindakan gegabah lain yang mengakibatkan kebakaran di areal sekitar waduk karena semua itu akan mengakibatkan pendangkalan serta pencemaran air di waduk itu sendiri. (EN, dari berbagai sumber/http://nurindarto.blogspot.com/)

Tidak ada komentar:

Posting Komentar