Kamis, 13 April 2017

Hikayat Hang Tuah

(Antara Sejarah dan Mitos)

Judul: Hikajat Hang Tuah
Penerbit: Balai Pustaka, Jakarta (Cetakan ke-3, 1956)
Tebal: 511 halaman
***
NAMA Hang Tuah bisa dipastikan tak asing di telinga banyak orang. Sama halnya dengan banyak tokoh yang dianggap berperan dalam sejarah bangsa ini, nama Hang Tuah pun diabadikan pada ruas-ruas jalan di Jakarta dan di beberapa daerah lain lagi. Bahkan, nama Hang Tuah juga diabadikan pada kapal perang pertama milik Indonesia. Pemberian nama itu untuk mengenang kejayaan Hang Tuah yang selalu mencapai kemenangan di laut. Namun, tidak seperti tokoh-tokoh bersejarah lainnya, tak banyak yang tahu siapa Hang Tuah yang diabadikan namanya itu? Apa perannya dalam sejarah negeri ini?
Memang, bisa dikatakan, keterangan tentang siapa dan apa kiprah Hang Tuah tidak ditemukan dalam literatur-literatur sejarah. Beberapa waktu lalu pernah diangkat kisah-kisah tokoh melayu, termasuk Hang Tuah ini, dalam berbagai versi seperti sandiwara radio maupun tayangan sinema di televisi. Tetap saja, Hang Tuah hanya dikenal sebatas tokoh terkenal dari daerah Melayu.
Tak banyak yang tahu kisah Hang Tuah yang dituliskan dalam sebuah buku berjudul Hikajat Hang Tuah tercatat sebagai karya sastra melayu klasik yang paling panjang. Salah satu versi Hikajat Hang Tuah adalah setebal 593 halaman. Buku berisikan Hang Tuah ini dikenal sejak abad ke-18, dan sejak saat itu disebutkan sangat menarik perhatian para peneliti barat. Hikajat Hang Tuah kemudian sangat terkenal, terbit dalam berbagai versi, dan sekitar 20 buku tersimpan di berbagai perpustakaan di dunia.
PADA buku Hikajat Hang Tuah terbitan Balai Pustaka, kisah tokoh yang di Malaysia dianggap sebagai salah satu pahlawan nasional ini diuraikan dalam 24 bab panjang. Pada pengantar disebutkan, buku tersebut disalin dari salah satu naskah tulis tangan huruf Arab. Pada sampul bagian dalam tertulis: “Inilah hikajat Hang Tuah jang amat setiawan kepada tuannja dan terlalu sangat berbuat kebadjikan kepada tuannja”.
Kisah dimulai dengan bab yang menguraikan asal muasal raja-raja di Malaka atau Melayu. Dengan diantar oleh kata-kata: “Sekali peristiwa…”, diceritakan tentang seorang raja keinderaan (kayangan-Red) Sang Pertala Dewa, yang akan mempunyai seorang anak dan dia akan menjadi raja di Bukit Seguntang. Keturunan-keturunan sang dewa inilah dengan segala kemuliaan yang dimiliki kemudian menjadi raja-raja di tanah Melayu.

Hang Tuah diceritakan sebagai anak Hang Mahmud. Dikisahkan, setelah mendengar kabar gembira tentang negeri Bintan sudah mempunyai seorang raja yang tak lain adalah cucu dari Sang Pertala Dewa, Hang Mahmud pun bergegas mengajak istri dan anaknya pindah ke sana. Di Bintan, Hang Tuah muda bertemu dan bersahabat dengan Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir, dan Hang Lekiu. Kelima pemuda itu diceritakan selalu bersama-sama, seperti lima orang bersaudara.
Suatu hari, Hang Tuah mengusulkan pada keempat sahabatnya untuk pergi berlayar dan merantau bersama-sama. Empat sahabatnya pun setuju, dan mereka berangkat berlayar. Di tengah perjalanan, mereka bertemu dan menundukkan tiga perahu yang ternyata adalah musuh Bintan dari Siantan. Kawanan tersebut tak lain adalah kaki tangan Patih Gajah Mada dari Majapahit yang ingin memperluas kekuasaan dengan merompak di Tanah Palembang. Akhirnya, lima sekawan itu diangkat menjadi abdi salah seorang pemimpin di negeri Bintan, yang dipanggil Bendahara Paduka Raja. Dari sinilah kisah perjuangan Hang Tuah yang akhirnya justru mendapat gelar laksamana dari Raja Majapahit dimulai.
Dalam buku, terutama melalui tokoh Hang Tuah dan Patih Gajah Mada, dikisahkan adanya persaingan kejayaan antara Malaka dan Majapahit. Gajah Mada tidak digambarkan sebagai tokoh yang mulia ataupun bijaksana. Ia digambarkan dalam sosok yang begitu berkuasa dan ambisius. Beberapa kali ia menyusun rencana untuk menghabisi Hang Tuah yang dianggap sebagai batu penghalang rencananya untuk menguasai Malaka. Berbicara soal musuh, dalam menjalankan tugas sebagai abdi yang setia dan disegani, Hang Tuah pun di negerinya sendiri beberapa kali harus dibuang bahkan hendak dibunuh akibat fitnah. Fitnah itu sebegitu rupa sehingga salah seorang sahabatnya, yaitu Hang Jebat, pun berkhianat.
Hang Tuah memang membawa Malaka pada kejayaan. Tidak hanya ia berhasil membendung serangan dari Majapahit. Ke mana saja ia diutus dan apa pun tugas yang diemban, selalu membuahkan hasil. Namun, dengan masuknya orang-orang dari Eropa, terutama Belanda, akhirnya kejayaan Malaka dihancurleburkan. Pada bagian akhir dikisahkan, Malaka jatuh ke tangan orang-orang dari Johor dan Belanda. Hang Tuah sendiri dikisahkan masih hidup dan tinggal di negeri Batak, menjadi wali agama dan raja.
DEMIKIAN cuplikan kisah tokoh bernama Hang Tuah dari salah satu versi terbitan Balai Pustaka. Tak ada yang tahu, siapa sesungguhnya pengarang Hikajat Hang Tuah. Tahun persis kapan pertama kali kisah ini muncul pun hingga kini tak bisa dipastikan. Tak ubahnya karya-karya sastra kuno umumnya, kisah Hang Tuah ini pun diduga pertama kali dikenal berupa cerita lisan. Kemudian, dalam bentuk naskah tertulis, Hikajat Hang Tuah diduga pertama kali ditulis pada abad ke-16.
Menurut Prof Dr Sulastin Sutrisno (lihat Ketika Hang Tuah Menjadi Disertasi) yang pernah mengangkat Hikajat Hang Tuah menjadi sebuah disertasi, siapa pengarang sesungguhnya memang sulit dipastikan. Namun, yang jelas, karya tersebut mengundang kekaguman sendiri. Sebagai sebuah kisah fiktif, Hikajat Hang Tuah sarat dengan muatan sejarah. Nama-nama kerajaan dan tokoh memang lekat dengan apa yang tercantum dalam catatan-catatan sejarah. Bahkan ada dugaan, pengarang Hang Tuah tidak hanya berpengetahuan luas karena sarat dengan muatan sejarah, namun juga banyak menggunakan sumber sastra lain. Dugaan ini muncul karena pada beberapa bagian, terdapat kemiripan dengan cerita-cerita klasik lain seperti Kisah Panji, Hikajat Sri Rama, dan sebagainya.
Salah seorang ahli sastra, Sir Richard Windstedt, menyebutkan, karya sastra klasik seperti Hikajat Hang Tuah ini identik dengan syair-syair bermuatan kisah kepahlawanan yang banyak dihasilkan di Jawa pada abad ke-11. Karya-karya ini dikatakan mengubah sejarah menjadi mitos, atau sebaliknya mengubah mitos menjadi sejarah. Dalam Hikajat Hang Tuah, nuansa fiktif maupun mitos di antaranya terwakili melalui ketiadaan keterangan waktu dalam setiap peristiwa, kehadiran negeri kayangan yang dipimpin Sang Pertala Dewa maupun perubahan wujud Hang Tuah menjadi harimau dalam sebuah perkelahian (hal 164).
Tokoh Hang Tuah sendiri pun tak bisa dipastikan sebagai tokoh mitos atau sejarah, meskipun dalam Sejarah Melayu (Malay Annals) disebutkan Hang Tuah mati di abad ke-15. Kitab tersebut, Sejarah Melayu-disusun oleh Mansur Shah salah seorang penguasa di Malaka-yang mencantumkan riwayat Hang Tuah pun diragukan oleh berbagai kalangan. Sir Richard Winstedt menyebutkan, Mansur Shah, dalam Sejarah Melayu, mampu mengangkat legenda tentang seorang pejuang bernama Hang Tuah yang tumbuh saat terjadi perang antara Jawa dan Tamil. Akan tetapi, seperti dikatakan di atas, hampir tidak dapat dibedakan yang mana sejarah dan yang mana mitos. Namun, untuk tokoh seperti Hang Tuah, siapa lagi yang peduli bahwa itu mitos atau sejarah selama dia menjadi ilham etika publik? (nova christina/Litbang Kompas).
Hikayat Hang Tuah sebuah Epos Klasik
Isi hikayat ini mengisahkan keksatriaan dan kesetiaan seorang laksamana Melayu bernama Hang Tuah. Ia memiliki empat sahabat karibnya, yakni Hang Jebat, Hang Kesturi, Hang Lekir dan Hang Lekiu. Mereka lahir dari kalangan rakyat jelata dan berhasil menjadi orang penting kerajaan bahkan nama mereka menjadi sangat masyhur. Pada akhir kisah, Hang Tuah dan sahabat-sahabatnya dituduh berkhianat kepada raja, sehingga diasingkan ke tempat yang jauh. Hal ini menyebabkan Hang jebat marah dan melakukan pemberontakan terhadap raja karena tidak bijaksana menjatuhkan hukuman terhadap Hang Tuah.
Pemborantakan Hang Jebat ini, membuat raja memanggil Hang Tuah untuk mengatasi pemberontakan itu. Hang Tuah yang dalam hukuman, melakukan saja perintah raja tanpa mengetahui apa alasan pemberontakan yang dilakukan sahabatnya Hang Jebat. Ia tidak tahu kalau Hang Jebat sedang melakukan pembelaan terhadap dirinya. Karena kesetiaannya terhadap raja, Hang Tuah melakukan perlawanan hingga akhirnya Hang Jebat tewas di tangannya sendiri.
Hikayat Hang Tuah ini adalah karya sastra klasik yang muncul masa kejayaan Sultan Mansur Syah di kerajaan Malaka. Semula berupa sebuah buku yang berisi kisah yang sangat panjang dan terdapat beberapa versi sesuai naskah tulisan tangan berhuruf Arab yang sempat ditemukan. Versi-versi itu masing:
1. Naskah Raja Abdul Jalil, yang menjadi raja muda di Perak.
2. Naskah Wan Muhammad Isa, seorang bangsawan yang menjadi menteri negeri di Perak.
3. Naskah Wan Muhammad Saleh, seorang warga kerajaan yang tinggal di Perak
4. Naskah R.J. Wilkinson, seorang ahli bahasa yang berkebangsaan Inggris.
Dari keempat naskah berhuruf Arab itulah, kemudian Hikayat Hang Tuah dibukukan dengan huruf Latin dan diterbitkan di Malaka pada tahun1908. Sementara di Indonesia, hikayat ini pernah diterbitkan sebanyak tiga kali oleh Balai Pustaka masing-masing tahun 1924, 1948 dan 1956. Sumbernya diambil dari naskah berhuruf Arab milik Yayasan Lembaga Kebudayaan Indonesia di Jakarta.
Karena dalam naskah tulisan tangan berhuruf Arab isi hikayat terlalu panjang dan membosankan pembaca, maka Balai Pustaka mengambil inisiatif untuk membaginya dalam 24 bab masing-masing
Bab I : Raja Bintan.
Bab II : Hang Tuah Lima Bersahabat menjadi pegawai raja.
Bab III : Kedatangan orang Jawa ke tanah Melayu.
Bab IV : Raja Malaka dengan Raja Muda.
Bab V : Raja Muda Malaka menjadi raj Keling.
Bab VI : Hang Tuah diutus ke Majapahit.
Bab VII : Hang Tuah digelari Laksamana.
Bab VIII : Patih Gajah Mada hendak membunuh Laksamana.
Bab IX : Laksamana melarikan Tun Teja.
Bab X : Laksamana menyerang Megat Pani Alam di Inderapura.
Bab XI : Laksamana sekali lagi diutus ke Majapahit.
Bab XII : Berbagai-bagai cobaan atas diri Laksamana di Majapahit.
Bab XIII : Laksamana dibuang raja Malaka.
Bab XIV : Hang Jebat mendurhaka.
Bab XV : Laksamana dipanggil Raja Malaka kembali.
Bab XVI : Laksamana bertikam dengan Hang Jebat.
Bab XVII : Kertala Sari dititahkan mengalahkan negeri Malaka.
Bab XVIII: Laksamana diutus ke benua Keling dan ke benua Cina.
Bab XIX : Raja Malaka bertambah besar kekuasaannya.
Bab XX : Terenggano takluk ke Malaka.
Bab XXI : Sultan Mahmud dan Sultan Muhammad.
Bab XXII : Inderapura takluk ke Malaka dan Laksamana kehilangan kerisnya.
Bab XXIII : Laksamana luka dalam peperangan.
Bab XXIV : Penutup.
Hikayat Hang Tuah ini berlandaskan pada kejadian-kejadian yang sesungguhnya terjadi. Bagi bangsa Melayu, ada suatu kepercayaan, bahwa Hang Tuah itu adalah seorang Wali Allah dan tidak akan mati-mati. Bahkan ada kepercayaan lain, bahwa Hang Tuah kini tinggal di hulu Sungai Siak dan menjadi raja bagi semua suku Batak dan orang hutan. Percaya atau tidak dengan kepercayaan ini, yang pasti tak seorang pun bisa membuktikannya.
sumber:https://indotim.wordpress.com/cerita-rakyat-nusantara-2/hikayat-hang-tuah/

Tidak ada komentar:

Posting Komentar